RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
FENOMENA tarif pengasuh anak atau babysitter sebesar Rp30 ribu per jam tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB University, Prof Dwi Hastuti, menegaskan bahwa pengasuhan anak tidak boleh hanya dilihat sebagai transaksi bisnis atau layanan jasa semata.
Menurut Prof Dwi, pengasuhan adalah fondasi utama dalam membangun kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sejak usia dini. Ia mengingatkan para orangtua bahwa di balik kemudahan yang ditawarkan jasa pengasuhan, prioritas utama tetaplah kualitas tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikis.
“Pengasuhan merupakan bagian tak terpisahkan dari tugas membangun SDM anak. Namun, dalam konteks saat ini, masyarakat perlu memahami perbedaan mendasar antara program pendidikan anak usia dini yang formal dengan layanan babysitter harian,” ujar Prof Dwi.
Perbedaan Signifikan: Caregiver vs Babysitter
Prof Dwi menjelaskan bahwa masyarakat sering kali menyamakan semua jenis pengasuh, padahal terdapat perbedaan kualifikasi yang sangat kontras antara caregiver profesional di lembaga formal dengan babysitter harian.
| Aspek Perbandingan | Tutor / Caregiver Profesional | Babysitter Harian |
|---|---|---|
| Latar Belakang | Pendidikan profesional (pedagogi) | Umumnya tidak mensyaratkan pendidikan khusus |
| Peran Utama | Fasilitator dan pendidik | Pendamping harian (pengasuh) |
| Syarat Mental | Bebas trauma masa kecil, pengalaman kerja anak | Naluri kasih sayang, perhatian, sehat fisik/psikis |
| Konteks Kerja | Lembaga formal (PAUD/Daycare resmi) | Lingkungan rumah tangga |
Dampak Penggunaan Jasa Pengasuhan
Kehadiran babysitter diakui memberikan dampak positif, terutama dalam mendukung partisipasi perempuan di dunia kerja. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menyetarakan peran wanita dalam pembangunan nasional. Namun, Prof Dwi juga memberikan catatan kritis mengenai risiko yang mungkin muncul.
Beberapa riset menunjukkan bahwa anak yang dititipkan di Tempat Penitipan Anak (TPA) terkadang memiliki kualitas tumbuh kembang yang kurang optimal dibandingkan mereka yang diasuh langsung oleh keluarga. Hal ini biasanya dipicu oleh beberapa faktor risiko di lapangan, seperti:
- Rasio jumlah pengasuh dan anak yang tidak seimbang.
- Kualitas perawatan yang berada di bawah standar operasional.
- Kurangnya keterampilan tutor dalam menangani periode kritis tumbuh kembang anak.
Pesan untuk Orangtua: Rumah adalah Tempat Terbaik
Meski menggunakan jasa pengasuh, Prof Dwi menekankan bahwa peran orangtua tidak boleh tergeser. Orangtua wajib melakukan supervisi, monitoring, dan evaluasi berkala terhadap kinerja pengasuh serta dampaknya pada anak.
Ia mendorong keluarga Indonesia untuk memprioritaskan pembentukan kelekatan (attachment) antara anak dan orang tua, terutama pada periode emas usia 0–3 tahun. “Tempat terbaik bagi tumbuh kembang anak adalah rumah dan keluarganya,” tegasnya.
Jika kelekatan yang aman (secure attachment) sudah terbangun kuat di rumah, barulah anak siap untuk mengikuti program di luar rumah seperti daycare atau PAUD dengan hasil yang lebih optimal. (Z-1)
- Pastikan kesehatan fisik dan psikis pengasuh dalam kondisi baik.
- Verifikasi identitas dan latar belakang keluarga secara jelas.
- Berikan instruksi yang detail dan lakukan pengawasan rutin.
- Pantau perkembangan emosional anak secara berkala.
Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Viral Babysitter Rp30 Ribu per Jam, Pakar IPB Ingatkan Kualitas SDM Anak” pada 2026-04-20 20:33:00
