• June 3, 2026 10:19 am

Generasi Muda Jangan Terseret Propaganda Negatif di Ruang Digital

Generasi Muda Jangan Terseret Propaganda Negatif di Ruang Digital

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

ilustrasi(Antara)

Akademisi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari, La Ode Anhusadar, memberikan peringatan keras kepada generasi muda agar tidak mudah terjebak dalam pusaran propaganda negatif, disinformasi, dan narasi pesimisme yang kian masif di ruang digital. Menurutnya, momentum peringatan Hari Lahir Pancasila harus dijadikan titik balik untuk mengembalikan optimisme bangsa, memperkuat literasi informasi, serta membangun budaya demokrasi yang beretika dan bertanggung jawab.

La Ode menekankan bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan sekadar persoalan ekonomi atau politik, melainkan melemahnya kemampuan masyarakat dalam memilah informasi secara kritis di tengah derasnya arus konten digital.

“Hari ini kita hidup dalam era ketika informasi dapat diproduksi dan disebarkan begitu cepat. Namun kecepatan tidak selalu identik dengan kebenaran. Banyak narasi dibangun bukan untuk mencari fakta, melainkan untuk menggiring opini, membentuk persepsi, bahkan menumbuhkan ketidakpercayaan publik terhadap institusi dan sesama warga negara,” ujar La Ode dalam keterangannya.

Ia menyoroti fenomena konten yang mengatasnamakan kritik sosial atau dokumenter, namun dalam praktiknya mengabaikan prinsip verifikasi, konfirmasi, dan keberimbangan informasi. Salah satu yang disoroti adalah polemik film dokumenter Pesta Babi yang menuai kontroversi karena dugaan pencatutan keterangan tanpa klarifikasi yang memadai.

“Demokrasi memang memberikan ruang luas bagi kebebasan berekspresi, namun kebebasan tidak berarti mengabaikan tanggung jawab. Kritik yang baik harus berdiri di atas fakta yang diverifikasi dan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk menjelaskan,” tegasnya.

Dalam tradisi akademik maupun jurnalistik, lanjut La Ode, verifikasi adalah harga mati. Tanpa proses tersebut, sebuah informasi berpotensi menjadi disinformasi yang menyesatkan masyarakat luas. Ia mengingatkan bahwa demokrasi membutuhkan kebenaran yang diuji, bukan persepsi yang direkayasa secara sepihak.

Kritik bertujuan untuk memperbaiki keadaan, sementara propaganda sering kali bertujuan membangun kemarahan, kebencian, atau prasangka tertentu.

Melawan Pesimisme Kolektif

Lebih lanjut, La Ode menilai adanya kecenderungan konten digital yang membangun pesimisme kolektif. Narasi yang digambarkan seolah-olah seluruh kebijakan negara gagal dan institusi selalu salah dinilai bertentangan dengan semangat Pancasila yang mengedepankan gotong royong dan musyawarah.

“Jika setiap persoalan hanya dijadikan bahan untuk menyalahkan tanpa menawarkan solusi, maka yang lahir bukan kesadaran kritis, melainkan keputusasaan sosial. Ini sangat berbahaya bagi masa depan generasi muda,” tambahnya.

Ia mengajak generasi muda untuk menjadi pribadi yang kritis sekaligus optimis. Kritis dalam menerima informasi, namun tetap optimis terhadap masa depan bangsa. Menurutnya, optimisme bukan berarti menutup mata terhadap masalah, melainkan keyakinan bahwa persoalan dapat diselesaikan melalui dialog dan data.

“Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan dapat dikelola, masalah dapat diselesaikan, dan masa depan dapat dibangun bersama. Jangan sampai kita menjadi korban propaganda yang memecah belah,” pungkas La Ode. (E-3)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Generasi Muda Jangan Terseret Propaganda Negatif di Ruang Digital” pada 2026-06-03 09:01:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *