RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
DUNIA pers Kolombia kembali berduka. Mateo Perez, seorang jurnalis berusia 25 tahun, ditemukan tewas pada Jumat waktu setempat di wilayah barat laut Kolombia yang tengah bergejolak. Wilayah tersebut dikenal sebagai basis operasi kelompok gerilya, pengedar narkoba, hingga penambang emas ilegal.
Kabar duka ini dikonfirmasi langsung Presiden Kolombia, Gustavo Petro. Mateo Perez sebelumnya dilaporkan hilang sejak Selasa lalu saat sedang menjalankan tugas jurnalistik di wilayah pedesaan Departemen Antioquia, sekitar lima jam perjalanan dari Medellin. Insiden tragis ini terjadi di tengah memanasnya situasi keamanan menjelang pemilihan presiden yang dijadwalkan pada 31 Mei mendatang.
Jenazah Perez ditemukan di zona konflik yang menjadi rebutan antara anggota pembangkang kelompok gerilya FARC yang telah bubar dan kartel narkoba terbesar di Kolombia, Gulf Clan. Melalui unggahan di media sosial X, Presiden Petro menuding Jhon Edison Chala Torrejano, seorang pemimpin gerilya, sebagai dalang di balik pembunuhan tersebut. Menurut Petro, pelaku berusaha menguasai perdagangan emas ilegal di wilayah itu.
Suara Vital bagi Komunitas Lokal
Yayasan Kebebasan Pers (FLIP) mengutuk keras pembunuhan tersebut. Sebagai pengelola media daring El Confidente de Yarumal, Perez dikenal sebagai sosok yang berani menyuarakan isu-isu krusial bagi masyarakat setempat. Fokus investigasinya mencakup masalah kriminalitas, keamanan, politik, hingga korupsi.
“Mateo menghadapi tekanan hukum (…) atas investigasinya terhadap ekonomi gelap yang terkait dengan kelompok bersenjata,” ungkap pihak FLIP dalam pernyataannya.
FLIP menambahkan bahwa lokasi penemuan jenazah Perez merupakan “zona sengketa” yang diperebutkan oleh pembangkang FARC dan Gulf Clan. Di Kolombia, jurnalis terus berada di bawah ancaman kelompok bersenjata yang menguasai wilayah luas untuk mendanai kegiatan mereka melalui perdagangan kokain, pertambangan ilegal, dan pemerasan.
Eskalasi Serangan Jelang Pemilu
Kematian Mateo Perez menambah panjang daftar hitam kekerasan terhadap jurnalis di Kolombia. Sejak tahun 1977, FLIP mencatat sedikitnya 170 jurnalis telah tewas terbunuh di negara tersebut. Situasi keamanan pun dilaporkan memburuk dengan lonjakan serangan gerilya menjelang pemungutan suara akhir bulan ini.
Ketegangan politik juga meningkat setelah Presiden Petro menghentikan negosiasi damai dengan kelompok pembangkang FARC pada 21 April lalu. Meski demikian, pemerintah dilaporkan masih menjalin komunikasi dengan Gulf Clan, kelompok yang oleh Amerika Serikat diklasifikasikan sebagai organisasi teroris. (AFP/Z-2)
Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Jurnalis Kolombia Ditemukan Tewas di Wilayah Konflik Jelang Pemilu” pada 2026-05-09 08:50:00
