• May 26, 2022 5:39 pm

Nestapa Guru Ngaji di Bekasi: Diborgol, Dilakban, Dipukuli Batu Bata

Fikry (20) masih bersarung usai mengajar ngaji saat beberapa pria berbadan tegap turun dari mobil, menangkap, dan memborgol tangannya. Matanya ditutup lakban.

Jakarta, CNN Indonesia

Muhammad Fikry (20) masih bersarung di tengah jeda mengajar ngaji saat beberapa pria berbadan tegap turun dari mobil, menangkap, dan memborgol tangannya. Ia celingukan persis di dekat etalase warung rumahnya di Bekasi. Dia bingung, tak paham apa yang sedang terjadi.

“Mata ditutup lakban, tangan diborgol,” kata Fikry saat menceritakan penangkapannya bersama pengacara di Lapas Cikarang beberapa waktu lalu.

Peristiwa itu terjadi pada Rabu, 28 Juli 2021 lalu. Sekitar pukul 18.52 WIB, tiga mobil berhenti di warung ayah Fikry di tepi Jalan Raya Kali CBL, Kampung Selang Bojong, Cibitung, Bekasi Jawa Barat.

Sekitar 10 orang berbadan tegap dengan pakaian biasa yang mengaku dari kepolisian turun dari mobil. Dengan nada membentak, mereka meminta semua orang yang ada di warung untuk tiarap.

Fikry, yang masih mahasiswa dan aktif mengajar ngaji, tiba-tiba diborgol. Beberapa orang lainnya juga mengalami hal serupa.

Teman Fikry, Ridwansyah (25) yang sedang menikmati kopi sore terkejut. Ia lantas menanyakan maksud kedatangan aparat.

“Ada apa, Pak?” kata Ridwan, menceritakan kembali kesaksiannya kepada CNNIndonesia.com. Polisi bergeming.

“Ya, ada apa Pak?” tanya Ridwan lagi.

Pertanyaan dijawab dengan tendangan dari belakang. Ridwan langsung tersungkur ke depan. Tangannya langsung diborgol. Polisi menutup mata Ridwan dengan kaos dan memboyongnya ke mobil.

Sore itu, polisi menangkap sembilan orang di warung rumah Fikry. Kasus pembegalan yang tak pernah mereka lakukan jadi dasar penangkapan.

Mereka yang ditangkap antara lain Muhammad Fikry, Muhammad Rizky (21), Abdul Rohman (20), dan Randi Apriyanto (19) yang selanjutnya menjadi tersangka.

Kemudian Ridwansyah, Wahyu (27), Apriyanto (25), Krisna Wijaya dan Fajri. Lima orang ini dibebaskan di kemudian hari.

Tanpa Surat Penangkapan

Melihat anak dan pengunjung warungnya ditangkap, orang tua Fikry kebingungan. Tetangga pun riuh berdatangan.

Salah satu warga bernama Tutu sempat merekam penangkapan paksa tersebut. Dua orang polisi sontak mengejar, menarik baju belakangnya.

Ponsel Tutu diambil. Hasil rekaman dihapus secara paksa. Peristiwa itu terekam CCTV yang ada di lokasi.

Menyaksikan keributan sore itu, beberapa anak menangis tersedu. Mereka tengah menunggu waktu giliran belajar mengaji Alquran yang seharusnya diajarkan oleh Fikry. Namun batal karena Fikry ditangkap.

Ayah Fikry, Rusin, mengatakan bahwa polisi melakukan penangkapan secara tiba-tiba, tanpa basa-basi dan memaksa. Pula, tanpa didahului dengan memperlihatkan surat penangkapan.

“Kami enggak dapat surat penangkapan, kayak ngegrebek teroris gitu aja, enggak ada surat penangkapan apa segala macam,” kata Rusin.

Salah seorang polisi hanya mengatakan kepada Rusin bahwa Fikry dan delapan orang lainnya akan dibawa ke Polsek Tambelang. Namun nyatanya, mereka dibawa ke tempat lain terlebih dahulu.

“Pak anak Bapak mau dibawa ke Polsek Tambelang, kalau memang tidak bersalah nanti juga dilepasin,” kata polisi itu seperti diceritakan Rusin.

Todongan Pistol di Kening

Fikry dan delapan orang lainnya yang ditangkap tak langsung dibawa ke markas polisi untuk pemeriksaan. Mereka diseret ke halaman Gedung Telkom yang berada persis di seberang kantor Polsek Tambelang, Kabupaten Bekasi.

Mereka diturunkan dari mobil lalu dipaksa mengaku telah melakukan begal di Jalan Sukaraja, Bekasi pada 24 Juli 2021 atau empat hari sebelum ditangkap.

Abdul Rohman mendapat giliran pertama. Menurut keterangan saksi yang juga ditangkap, Abdul Rohman dipukuli wajahnya hingga babak belur. Dadanya pun ditendang.

Semua dilakukan agar Abdul mengaku telah melakukan begal yang tak pernah ia lakukan. Abdul yang tak kuat dengan penyiksaan itu terpaksa mengaku.

Setelah itu, Fikry mendapat giliran disiksa agar mengaku melakukan tindakan pidana yang juga tak pernah ia lakukan. Dia menegaskan bahwa pada 24 Juli 2021 berada di musala dekat rumah. Tidak melakukan begal seperti yang dituduhkan polisi.

“Kaki dipukuli pakai batu, batu bata, berdarah. Bibir juga pecah,” tutur Fikry.

Dia enggan mengaku. Besi dingin dari ujung moncong pistol lantas menempel di keningnya. 

Berlanjut ke halaman berikutnya…


Tidur di Musala Saat Pembegalan Terjadi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Sumber: CNN Indonesia | Nestapa Guru Ngaji di Bekasi: Diborgol, Dilakban, Dipukuli Batu Bata

Leave a Reply

Your email address will not be published.