• May 15, 2026 6:18 pm
Lima Siswa SMP di Makassar Terpapar Radikalisme lewat Gim Daring

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

(MI/Lina Herlina)

SEBANYAK lima anak usia sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, terdeteksi masuk dalam jaringan berpaham ekstrem dan radikal sejak tahun lalu. Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi orangtua, mengingat para remaja tersebut terpapar melalui platform digital yang akrab dengan keseharian mereka, yakni game online dan media sosial.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Ita Isdiana Anwar, mengungkapkan bahwa kelima anak tersebut rata-rata berusia 14 tahun atau duduk di kelas 2 SMP. Yang mengejutkan, mayoritas berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas, memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dan tidak menunjukkan perilaku mencolok yang mencurigakan.

“Kita lihat rata-rata anak SMP yang pintar, menengah ke atas, pribadinya tenang, asyik di depan laptop. Ternyata sudah masuk dalam jaringan ini,” ujar Ita, Jumat (15/5).

Terjaring lewat 28 Grup WhatsApp

Berdasarkan hasil analisis konteks saat ini, anak-anak tersebut diketahui bergabung dalam 28 grup WhatsApp (WAG) yang menyebarkan pemahaman terorisme. Keikutsertaan mereka bermula dari mengklik tautan (link) dari konten digital yang tampak biasa saat bermain game atau berselancar di media sosial.

Proses penjangkauan yang dilakukan DP3A bersama Densus 88 sejak awal tahun lalu menemukan fakta bahwa baik anak maupun orangtua sama-sama tidak menyadari telah terpapar paham radikal. “Pada saat kita turun ke rumah, si anak dan orangtuanya kaget. Mereka tidak sadar sudah masuk dalam pemahaman jaringan itu,” kata Ita.

Catatan Keamanan: Meski telah terpapar, Ita menegaskan kelima anak di Makassar tersebut belum melakukan tindakan fisik yang membahayakan seperti merakit bom, berbeda dengan beberapa kasus di Pulau Jawa yang sudah memasuki tahap eksekusi teknis.

Pendampingan dan Edukasi Masyarakat

Saat ini, kelima anak tersebut berkomitmen untuk keluar secara bertahap dari jaringan radikal. DP3A bersama Densus 88 terus memberikan pendampingan psikologis intensif, konseling pemulihan, serta penguatan pola pikir, baik kepada anak maupun orangtua mereka.

Sebagai langkah preventif, DP3A kini menggencarkan edukasi ke masyarakat melalui roadshow ke berbagai kecamatan, sekolah, dan kelompok PKK. Ita mengingatkan para orangtua untuk lebih waspada dan mengawasi aktivitas digital anak secara ketat.

Beberapa indikasi yang perlu diwaspadai orangtua antara lain:

  • Anak mulai menunjukkan sikap tertutup secara tiba-tiba.
  • Menghabiskan waktu berlebihan di depan laptop atau gawai tanpa tujuan yang jelas.
  • Perubahan pola pikir atau cara bicara yang mulai mengarah pada pandangan ekstrem.

“Saya sudah izin untuk menyampaikan ini ke masyarakat. Supaya tahu, hati-hati anak-anak kita. Lindungi anak-anak kita,” pesan Ita. Hingga kini, DP3A dan Densus 88 terus memantau perkembangan kelima anak tersebut guna memastikan proses deradikalisasi berjalan maksimal. (I-2)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Lima Siswa SMP di Makassar Terpapar Radikalisme lewat Gim Daring” pada 2026-05-15 17:30:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *