• August 15, 2022 1:10 am

Kak Seto: Perlu Desain Perlindungan Anak dari Virus Intoleransi dan Radikalisme

KINI paham radikal dan terorisme kerap ditanamkan sejak dini kepada anak-anak, baik di lingkungan sekolah, pertemanan, maupun keluarga. Proses radikalisasi di usia dini sengaja dilakukan karena anak memiliki daya reseptif yang kuat dalam menerima berbagai hal baru.

Karena itu, diperlukan desain perlindungan yang masif bagi anak guna terhindar dari virus intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Hal serupa turut dikatakan Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau akrab disapa Kak Seto. Menurutnya, desain perlindungan yang terbaik bagi anak dari virus itu ialah dengan menanamkan nilai-nilai toleransi dan keberagaman sejak dini kepada anak.

“Dengan menanamkan pada anak-anak bahwa setiap anak itu berbeda, unik, otentik, dan tak terbandingkan. Sehingga anak-anak itu dari kecil belajar dan diajarkan untuk saling menghargai perbedaan,” ujar Kak Seto di Jakarta, Kamis (21/7).

Dia melanjutkan, dengan cara demikian, maka setelah dewasa, anak tidak akan memaksakan kehendak atau keinginannya sendiri. Namun, dia nantinya akan bisa menghargai pandangan dan perbedaan-perbedaan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

“Karena manakala virus radikalisme dan intoleransi ini ditanamkan pada anak sejak usia dini, maka mereka akan menerima pandangan-padangan yang keliru mengenai persatuan bangsa, tentunya hal ini sangat berbahaya sekali,” ujarnya.

Pasalnya, pria yang juga seorang psikolog anak ini menilai, hal tersebut akan berakibat fatal tatkala menyerang anak-anak muda yang nantinya menjadi penerus perjuangan dan pembangunan di negeri ini. Terlebih, kelompok radikal dewasa ini kerap menarget anak-anak sebagai kelompok yang mudah dipengaruhi.

“Karena para radikalis itu memang menuju ke anak-anak, yang mana anak-anak ini sangat mudah untuk dipengaruhi, dibohongi, diputarbalikkan, dan sebagainya yang seolah-olah sebagai suatu yang penuh dengan kasih saying,” jelas Kak Seto.

Dia juga mengkritisi fakta bahwa radikalisme pada anak justru datang dari dunia pendidikan, baik informal maupun formal pada sekolah-sekolah yang didesain khusus untuk kaderisasi kelompok yang menginginkan ideologi selain Pancasila.

“Baik itu pendidikan informal dalam keluarga, pendidikan non-formal mungkin, yang mungkin dapat terjadi di dalam pertemuan-pertemuan seperti RT/RW dan sebagainya. Tentu ini yang harus diwaspadai dalam memilih sekolah atau lembaga pendidikan agar para orangtua tidak salah pilih dalam menyekolahkan anak-anak kita,” ujar Guru Besar bidang Ilmu Psikologi Universitas Gunadarma ini.


Baca juga: Ahli Gizi: Jaga Tumbuh-kembang Anak Supaya Terhindar Malnutrisi


Sehingga hal ini tentu harus menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak, namun juga lembaga pendidikan formal, para guru, dan masyarakat luas harus menyadari urgensi dalam menjaga anak dari pengaruh paham radikal.

“Tentunya ya kita semua. Ibaratnya dalam melindungi anak ini perlu orang sekampung. Pertama adalah keluarga, orangtua dalam hal ini. Kedua adalah sistem pendidikan di sekolah dan para guru. Kemudian yang ketiga adalah juga masyarakat luas untuk saling melindungi anak-anak kita. Dan kemudian berikutnya yang kelima adalah pemerintah,” kata pria kelahiran Klaten, 28 Agustus 1951 ini.

Pria yang meraih gelar Doktor bidang Psikologi dari Universitas Indonesia ini, menambahkan, untuk memaksimalkan perlindungan anak, maka perlu juga ditanamkan rasa percaya diri, bersyukur, dan menghargai diri sendiri serta orang lain agar tidak mudah terbawa pengaruh virus radikalisme.

“Anak-anak harus belajar percaya diri, belajar penuh rasa syukur, menghargai potensi masing-masing¬† dan kemudian juga belajar juga menghargai orang lain. Untuk itu di dalam keluarga mohon dibiasakan orangtua juga tidak memaksakan suatu prestasi tertentu,” jelasnya.

Namun dia juga mengingatkan bahwa orangtua harus paham dan juga menghargai bahwa setiap anak cerdas pada bidangnya masing-masing, mungkin seperti ada yang pintar matematika, ada yang pintar menyanyi, pintar menari, pintar menggambar, pintar olahraga dan sebagainya. Potensi-potensi yang dimiliki masing masing anak seperti itu yang harusnya orangtua juga bisa menghargai.  

Untuk itu, LPAI melakukan upaya nyata guna melindungi anak dari paham tersebut, yakni dengan memberikan penyuluhan bagi para orangtua, guru, dan remaja mengenai pentingnya membangun karakter anak sejak dini, yaitu Karakter Profil Pelajar Pancasila.

“Pertama akhlak mulia, kemudian kebinekaan global di mana anak anak dituntut untuk dapat mempertahankan budaya luhur, lokalitas, dan identitas, namun tetap berpikiran terbuka ketika berinteraksi dengan budaya lain,” ucapnya.

Ketiga, gotong royong, mandiri, kritis, di mana anak-anak diharapkan akan dapat mengasah kreativitas dengan menerapkan pemikiran kritis yang kemudian diolah menjadi inovasi baru yang bermanfaat bagi banyak orang, dan yang terakhir kreatif.

Guna memaksimalkan upaya LPAI dalam perlindungan anak dari virus radikalisme, pihaknya juga akan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai stakeholder dalam penaggulangan paham radikal terorisme dan intoleransi di Indonesia.

“Karena bagaimana pun juga kita semua wajib untuk melindungi anak-anak kita dari paham berbahaya tersebut demi mewujudkan anak-anak yang nantimya dapat memajukan dan membangun negeri ini,” pungkas Kak Seto. (RO/OL-16)


Sumber: Media Indonesia | Kak Seto: Perlu Desain Perlindungan Anak dari Virus Intoleransi dan Radikalisme

Leave a Reply

Your email address will not be published.