RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
PROGRAM deradikalisasi di Indonesia kini tidak lagi hanya berfokus pada pembinaan ideologi, tetapi telah merambah ke aspek kemandirian ekonomi. Langkah nyata ini ditunjukkan melalui kolaborasi strategis antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), Densus 88 Anti Teror Polri, dan PT Sang Hyang Seri (SHS).
Sinergi lintas instansi tersebut berhasil mendorong para Mitra Deradikalisasi atau mantan narapidana terorisme (napiter) menjadi pelaku usaha produktif. Keberhasilan ini ditandai dengan kegiatan panen hasil budidaya di kawasan Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada Jumat (31/7).
Pemberdayaan Ekonomi sebagai Kunci Reintegrasi
Kepala BNPT, Eddy Hartono, menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi merupakan instrumen krusial dalam proses reintegrasi sosial. Dengan memiliki mata pencaharian yang layak, para mantan napiter diharapkan dapat hidup mandiri dan diterima kembali dengan baik oleh masyarakat.
“Program ini merupakan tindak lanjut deradikalisasi melalui reintegrasi sosial. Kami mengembangkan aspek kewirausahaan agar saudara-saudara kita yang pernah terpapar dapat kembali produktif,” ujar Eddy.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan di Sukamandi adalah buah dari pendampingan berkelanjutan yang dilakukan bersama Kemenimipas, Densus 88, dan PT Sang Hyang Seri, mulai dari masa pembinaan hingga mereka kembali ke lingkungan sosial.
Potensi Kawasan Sukamandi
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, melihat kawasan Sukamandi memiliki prospek besar untuk dijadikan pusat pembinaan berbasis produktivitas. Lahan luas di wilayah ini dinilai ideal untuk mendukung program ketahanan pangan nasional sekaligus menjadi sarana edukasi bagi warga binaan.
| Aspek Pengembangan | Detail Informasi |
|---|---|
| Lokasi Program | Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat |
| Luas Lahan Potensial | Sekitar 3.200 Hektare |
| Sektor Usaha | Pertanian (Padi), Peternakan (Domba), Perikanan (Lele) |
| Konsep Budidaya | Circular Farming (Terintegrasi) |
| Rencana Fasilitas | Balai Latihan Kerja dan Lapas Terbuka |
Dampak Nyata bagi Mitra Deradikalisasi
Direktur Utama PT Sang Hyang Seri, Adhi Cahyono Nugroho, menjelaskan bahwa pihaknya menerapkan konsep circular farming. Konsep ini mengintegrasikan pertanian, peternakan, dan perikanan sehingga menciptakan ekosistem yang efisien sebagai sarana pelatihan sekaligus sumber penghasilan tetap bagi para mitra.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh Didin Kamaludin, salah satu Mitra Deradikalisasi yang telah bergabung selama empat tahun. Berawal dari budidaya padi, kini usahanya telah merambah ke peternakan domba dan budidaya lele.
“Alhamdulillah, dari hasil budidaya ini kami bisa membantu perekonomian keluarga. Selain materi, kami juga mendapatkan dukungan moral untuk membangun masa depan yang lebih baik,” ungkap Didin.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah menunjukkan bahwa tolok ukur keberhasilan deradikalisasi tidak hanya terletak pada aspek keamanan, tetapi juga pada transformasi nyata kesejahteraan dan kemandirian ekonomi para mantan napiter di tengah masyarakat. (Z-1)
Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Kolaborasi BNPT dan Kemenimipas Berdayakan Mantan Napiter di Sukamandi” pada 2026-08-01 06:46:00
