RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
DI tengah meningkatnya kasus perundungan di sekolah, maraknya ujaran kebencian di media sosial, penyebaran informasi palsu, serta menguatnya sikap intoleran di berbagai ruang publik, pertanyaan tentang relevansi Pancasila menjadi semakin mendesak. Apakah nilai-nilai yang diwariskan para pendiri bangsa masih hidup dalam kehidupan masyarakat kita? Lebih khusus lagi, apakah pendidikan Indonesia masih mampu melahirkan manusia yang menghayati nilai-nilai Pancasila?
Setiap 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan juga pengingat untuk menilai kembali sejauh mana Pancasila hadir dalam kehidupan berbangsa, terutama melalui pendidikan.
Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika berbagai persoalan moral dan sosial masih menghiasi ruang publik. Perundungan, intoleransi, rendahnya empati sosial, penyebaran hoaks, hingga menurunnya etika dalam berkomunikasi menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi belum tentu diikuti kematangan karakter. Kita mungkin berhasil mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi belum tentu berhasil melahirkan generasi yang bijaksana dalam menggunakan kecerdasan mereka.
Dalam konteks itulah Hari Lahir Pancasila perlu dimaknai sebagai panggilan untuk menguatkan kembali peran pendidikan sebagai sarana membangun manusia seutuhnya. Pancasila bukan hanya dasar negara, melainkan juga pandangan hidup yang menuntun perilaku warga negara dalam kehidupan sehari-hari.
PENDIDIKAN YANG MEMANUSIAKAN
Pancasila mengandung cita-cita tentang manusia Indonesia yang beriman, menjunjung tinggi kemanusiaan, mencintai persatuan, mengedepankan musyawarah, dan memperjuangkan keadilan sosial. Nilai-nilai tersebut berorientasi pada penghormatan terhadap martabat manusia. Oleh karena itu, pendidikan yang berlandaskan Pancasila haruslah menjadi pendidikan yang memanusiakan manusia.
Gagasan itu bukanlah hal baru dalam tradisi pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara menempatkan pendidikan sebagai proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan juga upaya membantu manusia tumbuh secara utuh, baik secara intelektual, moral, sosial, maupun spiritual.
Pendidikan yang memanusiakan berarti melihat peserta didik bukan sebagai angka-angka dalam laporan hasil belajar, melainkan sebagai pribadi yang unik dengan potensi dan latar belakang yang berbeda. Sekolah tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk individu yang memiliki empati, mampu bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial mereka.
Gagasan tersebut telah dipraktikkan berbagai lembaga pendidikan di Indonesia, salah satunya Sekolah Sukma Bangsa di Aceh yang lahir dari semangat pemulihan pascatsunami 2004. Dengan menjadikan kemanusiaan sebagai fondasi pendidikan, bahkan memaknai ‘Sukma’ sebagai Sekolah Unggulan Kemanusiaan, pengalaman itu menunjukkan pendidikan yang berakar pada kemanusiaan bukan sekadar idealisme, melainkan juga dapat diwujudkan dalam praktik sehari-hari.
Filosofi itu memiliki keterhubungan yang kuat dengan nilai-nilai Pancasila. Ketika sekolah menempatkan kemanusiaan sebagai inti pendidikan, sesungguhnya sekolah sedang menghidupkan sila kedua. Ketika peserta didik dibiasakan menghormati perbedaan dan bekerja sama dengan siapa pun, mereka sedang belajar mengamalkan sila ketiga. Saat mereka diajak berdialog dan bermusyawarah, mereka sedang mempraktikkan sila keempat dalam kehidupan nyata.
Dengan demikian, Pancasila tidak harus diajarkan melalui hafalan semata. Nilai-nilainya dapat tumbuh melalui budaya sekolah yang menghormati martabat manusia, hubungan yang hangat antara guru dan peserta didik, serta pembelajaran yang menumbuhkan kepedulian sosial dan toleransi.
MENANAMKAN PANCASILA
Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang pembentukan karakter kebangsaan. Karena itu, penanaman nilai Pancasila tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran teoritis di dalam kelas. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam praktik sehari-hari.
Ketika siswa diajarkan menghargai perbedaan agama, suku, dan latar belakang sosial, mereka sedang belajar mengamalkan nilai persatuan dan kemanusiaan. Ketika mereka dilibatkan dalam musyawarah untuk menyelesaikan persoalan bersama, mereka sedang mempraktikkan demokrasi. Ketika mereka diajak peduli terhadap teman yang mengalami kesulitan, mereka sedang belajar tentang keadilan sosial.
Di samping itu, pendidikan yang memanusiakan menempatkan guru sebagai teladan. Keteladanan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan nasihat yang disampaikan secara verbal. Peserta didik akan lebih mudah memahami nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab ketika mereka melihat nilai-nilai tersebut hadir dalam kehidupan guru mereka.
Tantangan itu menjadi semakin kompleks di era digital. Generasi muda hidup dalam lingkungan yang dipenuhi informasi tanpa batas, tetapi juga berhadapan dengan risiko hoaks, ujaran kebencian, radikalisme, perundungan digital, dan budaya instan yang dapat mengikis karakter.
Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai Pancasila justru semakin relevan. Sila kedua mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia sehingga dapat menjadi benteng terhadap perundungan dan kekerasan verbal di ruang digital. Sila ketiga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan. Sila keempat mengajarkan budaya dialog sebagai alternatif dari polarisasi yang semakin sering muncul dalam percakapan publik.
MEMBANGUN MASA DEPAN INDONESIA
Hari Lahir Pancasila sejatinya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan juga tentang menyiapkan masa depan. Masa depan Indonesia akan sangat ditentukan kualitas generasi mudanya. Oleh sebab itu, pendidikan harus menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila secara berkelanjutan.
Semangat kemanusiaan tersebut juga tecermin pada berbagai upaya memperluas akses pendidikan bagi mereka yang membutuhkan. Melalui program beasiswa bagi anak-anak yang terdampak oleh banjir dan longsor di berbagai wilayah Sumatra, Sekolah Sukma Bangsa menunjukkan pendidikan dapat menjadi sarana memulihkan harapan sekaligus menjaga keberlanjutan masa depan mereka.
Pada akhirnya, masa depan Pancasila tidak ditentukan seberapa sering kita menghafalkan lima sila, tetapi oleh seberapa jauh nilai-nilainya hidup dalam ruang-ruang pendidikan. Ketika sekolah mampu melahirkan manusia yang menghargai sesama, mampu berdialog di tengah perbedaan, peduli terhadap keadilan, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama, saat itulah Pancasila benar-benar bekerja menjaga Indonesia.
Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Mendidik Manusia, Menghidupkan Pancasila” pada 2026-06-08 05:05:00
