• May 19, 2022 7:25 pm

Cerita Sejumlah Pahlawan Kemerdekaan Ukraina Melawan Invasi Rusia

PADA saat negara memanggil para putranya untuk berjuang, jiwa-jiwa berani akan tergerak. Demikian pula yang terjadi di Ukraina saat ini, kala mereka menghadapi invasi Rusia dengan segala kekejiannya. 

Tidak semua dari mereka ialah para lelaki keras yang telah kehilangan rasa takut ditempa kehidupan cadas. Bahkan seorang ibu rumah tangga bersama anak perempuan terkasihnya ikut mengangkat senjata. Inilah beberapa dari mereka yang dikutip dari keterangan resmi Kedutaan Besar ukraina untuk Republik Indonesia. 

Ayah teladan

Oleh Butusin dan keluarganya pindah dari Rusia ke Ukraina pada 2014. Sebelumnya, dia berencana melaut dengan kapal dagang atau membiakkan kuda dan sapi. Namun hidup di Rusia saat Putin berkuasa, lebih banyak membuat jiwa dan kemanusiaan tersiksa.  

Di Ukraina, Oleh bersama istri dan 12 anaknya tinggal di wilayah Ivano-Frankivsk. Pada tahun pertama setelah dia pindah ke Ukraina, Rusia mencaplok Krimea dan melancarkan serangan ke Donbas. Dia pun segera bergabung dengan Korps Sukarelawan Ukraina tidak jauh dari Donetsk.

Roman dan Leonid, kedua putra Oleh, setahun lebih menjadi relawan yang percaya pada kebenaran mempertahankan kedaulatan Ukraina. Keduanya gugur dalam pertempuran di wilayah Chernihiv pada Maret 2022. Oleh datang ke tempat anak-anaknya meninggal, menguburkan mereka dalam hening, menancapkan salib sebagai penanda kuburan keduanya, bahkan membawa tanah berlumur darah anak-anaknya itu ke Kalush, kota tempat tinggal keluarganya. 

Terlepas dari kehilangan yang menyesakkan hati, pria itu menolak meninggalkan garis depan. “Pertarungan berlanjut. Kemuliaan untuk kemenangan masa depan kita!” kata Oleh. 

Stasiun radio

Letnan kolonel dan penjaga perbatasan berusia 45 tahun, Ihor Dashko, ialah penduduk asli Sambir di Oblast Lviv. Dia memulai dinas militernya di Mariupol pada 1999 dan bekerja di sana selama lebih dari 10 tahun. Pria itu kembali ke Mariupol sebulan sebelum invasi Rusia skala penuh.

Mempertahankan Tanah Air dari penjajah, pada 9 April, Ihor meledakkan dirinya di stasiun radio di Mariupol. Stasiun itu dicoba diambil alih untuk keperluan Rusia. Ia dikepung tentara Rusia dan dipaksa menyerahkan diri. Ihor memilih jalan yang hanya akan diambil para pahlawan pemberani yakni meledakkan stasiun itu bersama dirinya dan sekian banyak tentara Rusia yang tak menyangka. 

Presiden Ukraina menganugerahkan Ihor Dashko gelar Pahlawan Ukraina. Ukraina tidak akan pernah melupakan prestasi tanpa pamrih ini.

Dapur umum

Hasan Abdurahman kehilangan keluarganya di Aleppo karena serangan Rusia di era Putin. Sebenarnya, kalau kemudian ia tinggal di Ukraina, itu karena ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang di Ukraina. 

Pria itu telah kehilangan istri dan lima anaknya yang sudah dewasa selama serangan udara di kota Aleppo, Suriah. Dia bisa hidup hanya karena kebetulan saat itu tengah pergi untuk urusan bisnis. Sulit bagi Hasan untuk mengingat kengerian itu bahkan 11 tahun setelah tragedi itu. Rusia mendukung rezim Assad selama perang di Suriah dan menggempur di Aleppo. Kini di Ukraina, ia berisiko kehilangan rumahnya untuk kedua kali. Lagi-lagi ini karena agresi Rusia.

Di Kyiv, Hasan tinggal dan mencoba hidup dengan membuat shawarma di dekat stasiun metro Khreshchatyk. Bahkan sejak invasi Rusia skala penuh, Hasan tak pernah meninggalkan pekerjaannya. Ia tetap membuat shawarma, memberi makan sesama warga Ukraina. 

Natalia dan putrinya

Sebelum perang, Natalia Popozohlo menjalankan ateliernya sendiri. Pada pagi 24 Februari, hari saat Rusia menginvasi, dia mendatangi komisariat militer, bertekat ikut mempertahankan Tanah Air. 

Dia bahkan mengambil pakaian hangat, mangkuk logam, dan sendok, menentang saran suaminya, seorang letnan kolonel. Hanya karena minus pengalaman militer, ia dia tidak diizinkan bergabung dengan pasukan. Niatnya membantu perjuangan ditolong diploma memasak yang dimilikinya. Jadilah kini ia seorang pahlawan di dapur umum yang memasak dalam balutan seragam militer. Natalia kini mengaku merasa sangat nyaman di dalamnya.

Baca juga: Bom ISIS Guncang Dua Kota Afghanistan, termasuk Masjid Syiah

Pada hari-hari awal, putrinya, Veronika, membantunya memberi makan para prajurit. Namun pada 28 Februari, gadis itu juga bergabung dengan unit pertahanan teritorial. Sekarang bersama ibunya, mereka memasak untuk seluruh brigade. Apalagi kini mereka pun sudah belajar untuk menembak dengan akurat.

“Aku datang ke sini bukan untuk sensasi. Aku datang untuk membantu mencapai kemenangan! Kami akan menghalau mereka ke Moskow, jika perlu lebih jauh lagi!” katanya. (OL-14)


Sumber: Media Indonesia | Cerita Sejumlah Pahlawan Kemerdekaan Ukraina Melawan Invasi Rusia

Leave a Reply

Your email address will not be published.