• May 18, 2022 3:15 am

BNPT: Ramadan Waktu Terbaik Reformasi Diri dan Akhlak

DIREKTUR Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol R Ahmad Nurwakhid mengatakan Ramadan merupakan waktu terbaik untuk mereformasi diri dan akhlak, serta memperbaiki spiritualitas.

“Ramadan adalah waktu yang tepat untuk bereformasi terutama untuk mereformasi diri maupun mereformasi akhlak. Namun jika dilihat dalam konteks radikalisme dan terorisme, yang menjadi concern dan harus diperbaiki adalah spiritualitas dalam beragama dan berbangsa,” ujarnya dalam acara ‘Deep Talk Indonesia Serial Ramadhan’ yang diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Optimis, seperti dikutip Antara, Jumat (8/4).

Menurut Nurwakhid, Indonesia akan maju jika bangsa ini kuat dalam bidang intelektualitas dan spiritualitas. “Artinya, agama akan kaffah jika didukung dengan rukun Islam, dan rukun ihsan. Ihsan ini adalah aspek spiritualitas untuk membangun budi pekerti luhur serta membangun akhlak,” paparnya.

Ia menjelaskan bahwa akhlak dan spiritualitas merupakan vaksinasi dalam melakukan deradikalisasi. Deradikalisasi ialah proses pengembalian paham radikal menjadi moderat. Menurutnya, hal itu harus ditandai dengan berubahnya akar ideologi radikal atau ideologi takfiri dan digantikan dengan ideologi moderat.

Seseorang bisa dikatakan moderat kalau mereka menonjol tidak hanya ritualitasnya saja, tetapi juga spiritualitasnya. Tidak hanya kehidupan keagamaannya saja, melainkan juga akhlak dan budi pekerti yang luhur yang sejatinya merupakan misi utama para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW.

Dalam kesempatan tersebut, Nurwakhid juga berharap Gerakan Indonesia Optimis dapat ikut berperan dalam menangkal penyebaran paham radikalisme dan terorisme yang berkembang di Indonesia. “Gerakan Indonesia Optimis dengan namanya optimis itu sudah memiliki nilai sufi, nilai tasawuf, dan nilai spiritual. Karena seseorang yang memiliki spiritualitas yang menonjol selalu optimis,” tuturnya.


Baca juga: Wapres Tekankan Moderasi Beragama sebagai Kunci Jaga Keutuhan Bangsa


Menurutnya, optimisme inilah yang seharusnya membangkitkan rasa syukur kita sebagai bangsa yang memiliki heterogenitas yang sangat plural, serta memiliki potensi yang luar biasa yang harus dibangun dalam toleransi atau bisa disebut 5 T.

Ia menjelaskan T pertama ialah tawassuth, moderat, berada di tengah, karena dengan di tengah bisa rahmatan lil alamin. T kedua adalah tawazun, seimbang, proposional. T ketiga adalah tasamuh, yaitu toleran. Hal ini sangat relevan bagaimana bangsa kita harus dibangun di atas toleransi karena keberagaman dan heterogenitas yang sangat plural.

Adapun T keempat ialah tawasul. Segala sesuatu harus menggunakan media, harus pakai protokoler dan sistem. Tawasul artinya sistem metodelogi ataupun media. Sedangkan T kelima adalah tabbayun. Kelompok radikal terorisme biasanya kurang cek dan ricek terhadap konten. Hasil survei di dunia maya sebanyak 67,7% adalah konten-konten keagamaan yang intoleran dan radikal.

“Maka 5T sangat efektif dan bagus untuk dijadikan jargon Gerakan Indonesia Optimis. Saya yakin akan hebat,” tambah Nurwakhid.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa potensi munculnya aksi radikalisme dan terorisme di bulan Ramadhan harus diwaspadai. Mengingat kelompok ini melakukan aksinya saat momentum hari-hari keagamaan.

“Bulan Ramadan, kami di BNPT dan Densus (88 Antiteror), menjadi salah satu kalender Kamtibmas dari amaliyahnya kelompok radikal terorisme. Mereka akan melakukan aksi dan amaliyah di bulan Ramadan, di bulan besar keagamaan non-muslim, serta Natal, Tahun Baru,” jelasnya.

Oleh karena itu, Nurwakhid berpesan agar seluruh masyarakat harus siaga akan hal tersebut, karena potensi untuk melakukan aksi sangat besar, sehingga BNPT dan Densus 88 Antiteror masif melakukan langkah preventif yaitu menangkap dan menindak. (Ant/S-2)


Sumber: Media Indonesia | BNPT: Ramadan Waktu Terbaik Reformasi Diri dan Akhlak

Leave a Reply

Your email address will not be published.