• April 12, 2024 5:40 pm

Opini Xinhua: AS harus berhenti kambinghitamkan China atas lonjakan defisit perdagangan

ByRedaksi PAKAR

Feb 14, 2022
Opini Xinhua: AS harus berhenti kambinghitamkan China atas lonjakan defisit perdagangan

oleh penulis Xinhua Xu Yuan, Deng Xianlai, dan Gao Pan

Jakarta (ANTARA) – Ketika data resmi menunjukkan bahwa total defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) melonjak ke rekor tertingginya pada 2021, para politisi dan sejumlah media AS segera memanfaatkan alasan baru ini untuk kembali menyalahkan China atas meningkatnya kerugian keuangan tersebut.

Dengan seperti biasa membesar-besarkan topik defisit perdagangannya dengan China, Amerika Serikat mengungkapkan keengganan untuk meneliti masalah struktural mendasar yang menyebabkan kesenjangan perdagangannya berkelanjutan, tak hanya dengan negara di Asia tersebut, tetapi juga dengan banyak ekonomi lain.

Struktur ekonomi AS yang berubah, dominasi dolar dunia, dan kebiasaan rumah tangga Amerika untuk menghabiskan lebih banyak uang alih-alih menyimpan adalah hal yang sebenarnya mendorong defisit perdagangan AS. Meski demikian, mengkambinghitamkan hubungan perdagangan bilateral tertentu, secara logis tidak cukup.

Karena globalisasi dan dampak dari kebijakan ekonominya sendiri, selama beberapa dekade terakhir ini industri manufaktur Amerika Serikat mengalami penurunan terus-menerus seiring dengan perluasan yang konsisten dalam sektor jasa.
 

Seorang pria yang mengenakan masker melintas di sebuah jalan di Manhattan, New York, Amerika Serikat, pada 19 Januari 2022. (Xinhua/Wang Ying). 

Pemulihan dari pandemi COVID-19 di AS yang tidak berjalan mulus turut memperparah situasi, karena permintaan yang melonjak ditambah pasokan yang lambat jelas mendorong impor barang-barang konsumsen. Kini, setelah rancangan undang-undang (RUU) infrastruktur pemerintahan Presiden AS Joe Biden telah disahkan menjadi undang-undang, permintaan AS untuk produk baja dan kimia diperkirakan juga akan semakin meningkat.

Sementara itu, kontrol ekspor, pembatasan ketat yang diberlakukan oleh undang-undang AS, menghambat kemampuan perusahaan teknologi tinggi negara itu untuk menjual teknologi dan produk-produk mereka ke luar negeri.

Sejak pemerintahan AS sebelumnya menyebabkan gesekan perdagangan dengan China, banyak perusahaan China dimasukkan ke dalam daftar yang disebut “daftar entitas” kontrol ekspor, meskipun langkah yang menargetkan sektor teknologi tinggi China itu hanya menjebak Amerika Serikat dalam lonjakan defisit perdagangan yang menyedihkan. Oleh karena itu, tak ada pihak yang patut disalahkan atas hal ini kecuali Washington sendiri.

Mereka yang secara sempit berfokus pada surplus China tampaknya mengabaikan dominasi dolar di dunia, kekuatan pendorong yang sama pentingnya dalam defisit perdagangan AS.
 

Foto yang diabadikan pada 19 Maret 2020 ini menunjukkan uang kertas dolar AS di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)

Sebagai mata uang cadangan utama dunia, dolar telah memungkinkan Amerika Serikat untuk mengimpor barang dan jasa internasional dengan harga yang relatif lebih rendah. Tentu saja, salah satu akibatnya adalah terus terjadinya defisit perdagangan pada tingkat tertentu.

Sesungguhnya, tak ada hal yang didapat dengan gratis, bahkan bagi adidaya ekonomi itu. Washington tidak dapat berharap untuk memiliki mata uang berdaulat, yang paling sering digunakan di seluruh dunia, tanpa menghadapi konsekuensi atas pengeluarannya yang berlebihan.

Pada awal 1970-an, pemisahan dolar dari emas, yang dijuluki “kejutan Nixon” yang menandai berakhirnya Sistem Bretton Wood yang mengatur sistem keuangan global pascaperang, semakin membebaskan dolar AS dari rintangan yang seharusnya dapat membatasi kekuatan globalnya.

Selain itu, beberapa dekade berikutnya yang meliputi pelonggaran moneter dan deregulasi radikal di arena keuangan telah menciptakan gelembung aset dan merangsang pengeluaran berlebihan dan pinjaman tanpa henti, yang pada gilirannya menyebabkan defisit perdagangan AS berulang kali melonjak.

Meski permintaan dari perusahaan dan konsumen Amerika untuk barang-barang China melonjak selama pandemi, pemerintah AS hanya menutup mata terhadap kebutuhan yang wajar ini, dan tampaknya beberapa politisi terus mendistorsi hubungan perdagangan AS-China dengan cara yang kontraproduktif.
 

Tumpukan peti kemas terlihat di Pelabuhan Baltimore di Maryland, Amerika Serikat, pada 26 Oktober 2021. (Xinhua/Liu Jie)

Fakta yang sangat jelas yang tak ingin dibahas oleh Washington adalah bahwa China telah menjadi sumber utama surplus perdagangan jasa AS. Menurut Departemen Perdagangan, total surplus perdagangan jasa AS pada 2021 melampaui 230 miliar dolar (1 dolar AS = Rp14.359), dan perdagangan jasanya dengan China telah lama mempertahankan surplus.

Pekan lalu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menegaskan kembali bahwa China selalu menyatakan bahwa kedua belah pihak harus menyelesaikan masalah dalam hubungan ekonomi dan perdagangan mereka dengan baik dalam semangat saling menghormati dan konsultasi pada landasan yang setara.

Ancaman dan tekanan berdasarkan kepentingan sepihak tidak akan membantu menyelesaikan masalah, tetapi hanya merusak rasa saling percaya dan suasana dialog dan negosiasi, katanya memperingatkan.

Demi kebaikannya sendiri, Amerika Serikat harus meninggalkan histeria atas defisit perdagangan dengan China, berhenti mengintimidasi mitra dagangnya, dan berkompromi dengan China untuk mengembalikan hubungan perdagangan bilateral kembali ke jalur yang benar. 
 

Pewarta: Xinhua
Editor: Satyagraha
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Sumber: Antara News | Opini Xinhua: AS harus berhenti kambinghitamkan China atas lonjakan defisit perdagangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *