• June 26, 2024 3:54 am

Bukan Hal Baru, Rekrutmen Santri ke dalam TNI Hadirkan Dampak Positif Upaya Tangkal Radikalisme

 

KETERLIBATAN dalam bela negara bukanlah hal baru dalam perjalanan bangsa ini. Sejarah mencatat bahwa kalangan pembelajar agama

tersebut terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan.

Hal ini disampaikan Deputi Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen

Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto saat menjadi narasumber dalam pogram

Primetime News Metro TV dengan tema ‘Menguji Jurus Jenderal Dudung

Tangkal Radikalisme’, Selasa (8/2).

Wawan menjelaskan, santri di Tanah Air dalam sejarahnya terdiri dari dua aspek yaitu keagamaan dan kenegaraan.

“Dahulu santri juga aktif ikut membela negara dalam merebut kemerdekaan. Makanya ada Hari Santri, dan ini sangat diapresiasi oleh pemerintah,” katanya.

Atas dasar itu, dia pun memastikan bahwa perekrutan santri dalam bela

negara khususnya seperti yang disampaikan Kasad Jenderal Dudung

Abdurachman bukanlah hal baru. “Jadi keinginan merekrut santri di

jajaran prajurit bukan hal baru. Banyak santri jadi prajurit, tinggal

bagaimana kita memoles,” katanya.

Oleh karena itu, Wawan optimistis perekrutan santri ke dalam TNI ini

akan berbuah manis khususnya dalam menangkal radikalisme di tubuh

instansi negara tersebut. Terlebih, santri sudah terbukti memiliki akhlak dan modernitas yang baik.

“Jika nantinya menjadi prajurit, mereka akan memberikan kebaikan

dalam lingkungannya,” katanya.

Wawan tidak ragu seleksi yang dilakukan TNI dalam merekrut santri ini akan berjalan dengan baik, sehingga menghasilkan prajurit yang terbaik.

Terlebih, dia memastikan, setiap perekrutan dalam tubuh TNI tentu

berjenjang dengan sistem seleksi yang sesuai aturan. “SOP juga ada tes

untuk mental, ideologi, psikotes, tes kesehatan, fisik maupun jiwa, ada

wawancara, dan lain-lain,” jelasnya.

Dengan sendirinya, lanjut Wawan, akan terbentuk mental dan ideologi yang baik dari santri tersebut. “Maka dari seleksi yang ketat itu nanti akan terjaring dan tersaring para santri yang memenuhi persyaratan. Jadi semua itu ada standardnya, tidak asal merekrut saja,” katanya.

Meski begitu, Wawan memastikan bahwa penanganan radikalisme ini tidak

hanya pada satu unsur saja. Melainkan harus melibatkan semua pihak agar

penanganannya maksimal.

“Penangkalan radikalisme bukan hanya tanggung jawab satu institusi saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Melibatkan kementerian dan

lembaga pemerintah lain,” katanya.

Dia menyebut penanganan radikalisme inipun kewenangannya ada di

institusi lain seperti kepolisian, BNPT, Kementerian Agama, Kementerian

Sosial, termasuk BIN. Semuanya, lanjut Wawan, harus berkoordinasi agar

tidak terjadi tumpang tindih dan saling memadukan langkah bersama dalam

menangani radikalisme.

“Mana yang bisa dikerjasamakan, mana yang bisa dilakukan secara parsial. Kita ingin semua elemen paham tentang itu dan sesuai tupoksi. Selama tidak saling melanggar dan harus saling berkoordinasi,” tegasnya. (N-2)


Sumber: Media Indonesia | Bukan Hal Baru, Rekrutmen Santri ke dalam TNI Hadirkan Dampak Positif Upaya Tangkal Radikalisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *