• January 25, 2022 5:47 pm

Kritik terhadap Penahanan Anak di Bawah Umur oleh Israel

NAMA depan remaja Palestina Amal Nakhleh berarti harapan dalam bahasa Arab. Namun orangtuanya putus asa karena dia sakit kronis dan salah satu dari sedikit anak di bawah umur yang ditahan tanpa tuduhan oleh Israel.

“Sejak penangkapannya tahun lalu saya hanya melihatnya dua kali, termasuk minggu lalu ketika dia mengatakan kepada saya bahwa dia ingin melakukan mogok makan,” kata jurnalis Moammar Nakhleh tentang putranya yang berusia 17 tahun.

“Ini membuatku takut karena dia sudah sangat lemah akibat myasthenia, penyakit neuromuskular yang langka, dan menjalani operasi pada 2020 untuk mengangkat tumor dari tulang rusuknya,” kata Nakhleh.

Pihak berwenang Israel menuduh Amal melempari tentara dengan batu dan telah menahannya selama satu tahun dalam penahanan administratif. Praktik tersebut memungkinkan tersangka ditahan tanpa tuduhan untuk masa hukuman enam bulan yang dapat diperpanjang sementara penyelidikan sedang berlangsung.

Amal menghadapi sidang baru pada Senin (10/1). Ayahnya khawatir penahanannya dapat diperpanjang.

Penahanan administratif telah dikritik oleh Palestina, kelompok hak asasi manusia, dan pemerintah asing, yang menuduh Israel menyalahgunakannya. Israel membela praktik tersebut dengan alasan situasi keamanan yang kompleks dan bergejolak di Tepi Barat, perintah penahanan dikeluarkan terhadap mereka yang merencanakan serangan teroris, atau mereka yang mengatur, memfasilitasi, atau secara aktif membantu pelaksanaan tindakan semacam itu.

“Penggunaan penahanan administratif, yang memungkinkan perampasan kebebasan seseorang untuk waktu yang terbatas saja, merupakan tindakan keamanan yang efektif dan sah terhadap serangan teroris terus-menerus seperti itu,” bantah Israel dalam pernyataan kementerian luar negeri.

Surat kabar terkemuka Israel Haaretz beberapa hari lalu mengangkat editorial berjudul Cukup dengan Penahanan Administratif. “Sudah waktunya bagi Israel untuk belajar melupakan praktik yang tidak demokratis dan korup dari penahanan administratif tak terbatas ini, tanpa bukti, atau tuduhan yang dapat disangkal,” kata Haaretz.

Bukti

Tajuk rencana itu menyoroti kasus Hisham Abu Hawash, satu dari lebih dari 450 warga Palestina yang ditahan selama lebih dari satu tahun dalam penahanan administratif oleh Israel. Enam remaja termasuk di antara para tahanan ini, menurut kelompok hak asasi manusia Israel Hamoked.

Editorial pada Selasa pekan lalu itu menanggapi berita Abu Hawash, seorang anggota gerakan Jihad Islam berusia 40 tahun, mengakhiri mogok makan selama 141 hari setelah Israel menyetujui pembebasannya. Kesepakatan yang diusulkan kepada Abu Hawash, ayah dari lima anak, menetapkan bahwa penahanannya tidak akan diperpanjang melampaui 26 Februari, sebagai imbalan untuk mengakhiri puasanya.

“Jika negara memiliki bukti terhadap Abu Hawash, seharusnya negara itu mendakwanya. Jika tidak, negara itu harus segera membebaskannya,” kata Haaretz.

Menurut surat kabar itu, jaksa militer tidak memiliki bukti rahasia untuk menyusun dakwaan untuk diajukan ke pengadilan militer dalam kasus Abu Hawash. Namun bagi badan keamanan domestik Shin Bet, ‘materi rahasia’ sudah cukup bagi seorang komandan militer untuk menandatangani perintah penahanan administratif selama enam bulan, dan enam bulan kemudian, diulangi ad infinitum atau tak terhingga.

Mengapa Amal ditangkap? Shin Bet menolak berkomentar ketika ditanya oleh AFP tetapi agensi tersebut sebelumnya mengutip lembaga itu menyebut bahwa dia dicurigai terlibat dalam kegiatan teroris.

Bersiap

Kesulitan Amal dimulai pada November 2020 ketika ia ditangkap oleh otoritas Israel di Tepi Barat yang diduduki. Sebagai penggemar sepak bola, dia keluar dengan teman-temannya setelah pulih dari operasi kankernya, kata keluarganya.

Dituduh melempari tentara dengan batu, Amal ditahan selama 40 hari tetapi kemudian dibebaskan oleh hakim Israel. “Pada persidangan, seorang perwakilan dari pasukan keamanan mengatakan mereka memiliki dokumen terhadapnya dan akan meminta penahanan administratif,” kenang ayah Amal.

Hakim meminta mereka untuk memberikan berkas yang memberatkan yang gagal dipenuhi. Ini mendorong hakim untuk membebaskan Amal.

Pada Januari tahun lalu, dia ditangkap kembali dan ditempatkan dalam penahanan administratif, yang sejak itu telah dua kali diperbarui. Badan pengungsi PBB UNRWA telah menangani kasus Amal dengan pihak berwenang Israel.

“Kami menuntut pembebasannya segera dari penahanan administratif karena dua alasan yaitu kondisi medisnya yang sangat serius dan masih di bawah umur,” kata kepala UNRWA Tepi Barat, Gwyn Lewis, kepada AFP. “Kami telah menulis beberapa kali dan menindaklanjuti tetapi tidak pernah ada informasi alasan dia ditangkap.”

Baca juga: Peringati Tewasnya Soleimani, Hamas Tunjukkan Dukungan ke Iran

Moammar Nakhleh khawatir penahanan Amal akan diperpanjang lagi pada Senin. “Saya takut jika penahanannya diperpanjang, saya tidak akan bertemu dengannya untuk waktu yang lama,” katanya di rumah keluarga di kamp pengungsi Al-Jalazun. “Saya bersiap untuk yang terburuk.” (AFP/OL-14)


Sumber: Media Indonesia | Kritik terhadap Penahanan Anak di Bawah Umur oleh Israel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *