• October 21, 2026 12:53 am

BNPT Pelajar Harus Jadi Agen Perdamaian untuk Lawan Konten Kekerasan Digital

ByRedaksi PAKAR

Oct 20, 2026 #BNPT
BNPT: Pelajar Harus Jadi Agen Perdamaian untuk Lawan Konten Kekerasan Digital

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Kemah Kebangsaan BP2M, BNPT: Pelajar Harus Jadi Agen Perdamaian Lawan Konten Kekerasan Digital(Dok. Istimewa)

ANCAMAN konten kekerasan di ruang digital kini semakin masif dan menyasar generasi muda. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sebanyak 782 anak di 18 provinsi tercatat terpapar konten kekerasan melalui berbagai grup digital. Fenomena ini mempertegas urgensi literasi digital serta keterlibatan aktif sekolah dan keluarga dalam melindungi anak-anak dari pengaruh negatif internet.

Kepala BNPT, Eddy Hartono, menekankan bahwa pelajar tidak boleh sekadar menjadi pengguna media sosial yang aktif. Mereka dituntut memiliki kemampuan menyaring informasi, menolak ujaran kebencian, dan menjaga interaksi digital agar tidak menjadi pemantik permusuhan.

Pesan tersebut disampaikan Eddy saat menghadiri Kemah Kebangsaan BP2M bertema “Pilar Kebangsaan: Merawat Kebhinnekaan di Tengah Perbedaan” di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 1.600 pelajar SMA dari 58 sekolah se-Jabodetabek.

Dalam kesempatan itu, Eddy mengajak para peserta untuk menjadi agen perubahan yang mampu menyebarkan nilai toleransi, persaudaraan, dan kebangsaan di lingkungan sekolah masing-masing.

“Setelah mengikuti Kemah Kebangsaan ini saya harap teman-teman bisa menjadi agen-agen perubahan di sekolah masing-masing. Kemarin saya juga sudah deklarasi dengan komite sekolah yang terdiri dari tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua,” ujar Eddy.

Prinsip 3T: Tahan, Telusuri, Timbang

Menurut Eddy, menjaga persatuan di tengah keberagaman harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari, termasuk dalam aktivitas digital. Pelajar perlu menyadari bahwa tidak semua informasi di internet layak dipercaya atau disebarluaskan. Konten yang mengandung provokasi, ujaran kebencian, dan glorifikasi kekerasan harus disikapi secara kritis.

Ia pun membekali para pelajar dengan prinsip 3T sebelum berinteraksi dengan informasi di ruang siber:

  • Tahan: Jangan terburu-buru bereaksi, tahan diri saat menerima informasi.
  • Telusuri: Periksa kebenaran dan sumber informasinya, jangan langsung dibagikan.
  • Timbang: Pertimbangkan apakah informasi tersebut bermanfaat atau justru merugikan jika disebarkan.

“Jangan sampai terpapar oleh info-info kekerasan dan ujaran kebencian. Teman-teman harus menerapkan 3T. Pertama Tahan, lihat dulu informasinya. Kedua Telusuri, jangan langsung bagikan. Ketiga Timbang, pertimbangkan ini perlu tidak di-share,” tegasnya.

Waspada Komunitas Digital

BNPT juga menyoroti risiko paparan konten kekerasan melalui true crime community (TCC), yakni komunitas digital yang membahas kasus kriminal dan insiden kekerasan secara mendalam. Data mengenai 782 anak yang terpapar di 18 provinsi menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital.

Tantangan ini memerlukan pendekatan kolaboratif. Orang tua diharapkan membangun komunikasi terbuka mengenai aktivitas daring anak, sementara sekolah memperkuat pendidikan karakter. Pemerintah dan masyarakat juga berperan menciptakan ekosistem teknologi yang sehat dan bertanggung jawab.

Perlindungan anak tidak cukup hanya dengan pembatasan akses, tetapi juga pembekalan kemampuan mengenali konten bermasalah, memahami konsekuensi perilaku daring, serta membangun empati. Dengan bekal ini, remaja diharapkan mampu mengambil keputusan mandiri tanpa mudah terbawa provokasi.

Ketua Umum Persatuan Intelektual Muda dan Pelajar Indonesia (Pionir), Muhammad Hanif, menambahkan bahwa Kemah Kebangsaan BP2M menjadi momentum penting bagi pelajar untuk mempererat persaudaraan.

“Harapan saya kegiatan ini menjadi momentum untuk membuktikan bahwa pelajar Indonesia adalah pelopor perubahan yang kritis serta demokratis,” ungkap Hanif.

Melalui sinergi antara sekolah, keluarga, dan lembaga seperti BNPT, generasi muda diharapkan tidak hanya memahami keberagaman, tetapi juga aktif merawatnya dengan menolak perundungan, ujaran kebencian, dan segala bentuk kekerasan di ruang digital. (Ant/I-1)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “BNPT Pelajar Harus Jadi Agen Perdamaian untuk Lawan Konten Kekerasan Digital” pada 2026-10-20 23:50:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *