• July 30, 2026 4:34 pm

Algoritma Perkuat Paparan Radikalisme di Ruang Digital

Algoritma Perkuat Paparan Radikalisme di Ruang Digital

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.(Antara)

MENTERI Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, mengingatkan bahwa radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dengan ajakan melakukan kekerasan. Proses tersebut dapat berawal dari interaksi sederhana, bantuan personal, percakapan dalam permainan daring, hingga rekomendasi konten yang terus berulang karena kerja algoritma.

“Ketika kekuatan narasi di era digital bergabung dengan kekuatan algoritma untuk sesuatu yang buruk, dampaknya akan termultiplikasi,” kata Meutya dalam Diskusi Publik dan Bedah Buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran dikutip Kamis (30/7).

Menurut Meutya, perpaduan narasi ekstrem dan algoritma dapat menciptakan ilusi bahwa informasi yang terus muncul di layar merupakan kebenaran. Fakta kemudian kalah oleh emosi, keyakinan, dan paparan berulang yang membentuk situasi post-truth.

Ia mengatakan proses radikalisasi tidak terjadi secara instan. 

Pendekatan dapat dimulai dari uluran tangan, pemberian bantuan, pengobatan, pelunasan utang, hingga janji memperoleh pendidikan atau kehidupan yang lebih baik. Setelah kepercayaan korban terbentuk, jaringan mulai memasukkan narasi ideologis dan mengarahkan korban pada tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Meutya juga meminta orang tua mencermati perubahan pola komunikasi anak. Dampak paparan konten berbahaya tidak selalu terlihat dalam satu atau dua hari, tetapi dapat terbentuk perlahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

“Anak yang biasanya bercerita dari A sampai Z, perlahan hanya bercerita dari A sampai G. Kemudian berkurang menjadi A sampai C, sampai akhirnya tidak menceritakan apa pun kepada orang tuanya,” katanya.

Perubahan tersebut, lanjut Meutya, sering tidak disadari karena terjadi secara bertahap. Ketika paparan telah berlangsung cukup lama, hubungan anak dengan keluarga dapat berubah tanpa terasa. Karena itu, ia menilai buku Atas Nama Surga tidak hanya relevan untuk memahami terorisme, tetapi juga menjadi cermin berbagai persoalan sosial akibat ruang digital yang tidak sehat.

Dalam sesi diskusi, Penulis buku, Alexander Sabar, mengatakan algoritma menjadi elemen penting karena terus menyajikan informasi yang sesuai dengan ketertarikan pengguna. Ketika seseorang mengeklik satu konten mengenai jihad, misalnya, algoritma dapat merekomendasikan materi serupa dengan muatan yang semakin ekstrem.

Radikalisasi juga mulai masuk melalui permainan digital. Anak dapat berkenalan di dalam permainan, bergabung ke grup percakapan tertutup, lalu membahas kekerasan, terorisme, dan berbagai bentuk kejahatan.

“Ruang digital menjadi sarana untuk menyebarkan radikalisasi. Dari permainan, mereka berdiskusi, masuk ke kelompok tertutup, kemudian membicarakan berbagai kejahatan dan tindakan kekerasan,” ujarnya.

Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Mayndra Eka Wardhana, membenarkan adanya pergeseran pola perekrutan. Anak dan remaja yang tumbuh sebagai generasi digital native menjadi kelompok rentan karena sering kali lebih memahami penggunaan platform digital dibandingkan orang tuanya.

“Kami mendeteksi bahwa memang terjadi pergeseran pola perekrutan. Berbagai platform digunakan oleh pelajar, anak-anak, dan remaja. Algoritma memiliki peran amplifikasi yang sangat besar,” kata Mayndra.

Ia menegaskan terorisme tidak dapat ditanggulangi hanya melalui penegakan hukum karena memiliki akar ideologis. Penanganannya perlu memadukan pencegahan, edukasi, kontra-narasi, deradikalisasi, serta kerja sama lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, keluarga, sekolah, media, dan platform digital.

Pelaksana tugas Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ratna Susianawati mengatakan anak merupakan salah satu kelompok dengan tingkat kerentanan tertinggi dalam transformasi digital. 

Teknologi, menurut dia, dapat memberikan manfaat sekaligus membawa risiko serius.

“Teknologi digital bagi anak ibarat pisau bermata dua. Anak-anak harus dibekali agar dapat memanfaatkan teknologi secara aman, nyaman, dan bijak sesuai batas usianya,” kata Ratna.

Ia menilai propaganda masif menjadi salah satu metode yang paling sering digunakan jaringan ekstrem. Dalam kondisi tersebut, keluarga perlu menjaga komunikasi terbuka, memahami aktivitas digital anak, dan tidak menyerahkan seluruh proses pengasuhan kepada perangkat maupun platform.

Sementara Kriminolog Siber, Kisnu Widagso, mengingatkan bahwa kejahatan di ruang siber tidak berhenti sebagai aktivitas virtual. Dampaknya dapat berpindah dan dirasakan secara langsung di dunia fisik. “Kejahatan memang terjadi di dunia siber, tetapi dampaknya bukan hanya di ruang siber. Dampaknya juga terjadi di dunia nyata,” katanya.

Menurut Kisnu, anonimitas, kerahasiaan, enkripsi, serta ruang percakapan tertutup memberi kesempatan kepada pelaku untuk melakukan tindakan yang mungkin sulit dilakukan di dunia fisik. Algoritma juga dapat membentuk echo chamber yang membuat pengguna hanya menerima informasi sejenis sehingga narasi ekstrem perlahan dianggap normal dan benar.

Jurnalis Sari Febriane, yang juga hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut melihat perubahan besar dalam penyebaran propaganda sebelum dan setelah era algoritma. Pada masa lalu, narasi kekerasan disebarkan melalui kepingan VCD atau dokumen yang berpindah dari tangan ke tangan. Saat ini, ruang siber memungkinkan konten ekstrem menyebar lebih cepat, lebih personal, dan terus berulang.

“Ruang siber menjadi breeding ground sekaligus playing ground bagi berbagai kejahatan yang memakai narasi sebagai kekuatannya. Yang lebih berbahaya daripada senjata adalah cerita,” ujar Sari.

Selain diskusi, dalam kegiatan tersebut juga dilakukan peluncuran buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran karya Alexander Sabar. Peluncuran dilakukan bersama Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid serta Pemimpin Redaksi Harian Kompas, A. Haryo Damardono. (Cah/P-3)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Algoritma Perkuat Paparan Radikalisme di Ruang Digital” pada 2026-07-30 16:01:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *