• May 19, 2026 5:53 am

Menuju Muktamar Ke-35 NU untuk Indonesia dan Peradaban Dunia

Menuju Muktamar Ke-35  NU untuk Indonesia dan Peradaban Dunia

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

(MI/Duta)

DINAMIKA internal Nahdlatul Ulama (NU) kian menghangat menjelang muktamar ke-35 yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Kontestasi kepemimpinan kali ini mulai memunculkan pola pasangan calon (paslon) antara ketua umum dan rais aam, yang melibatkan kekuatan petahana hingga jaringan politik (Media Indonesia, 1/5/2026).

Muktamar Ke-35 NU menjadi muktamar yang diprediksi paling semarak karena terdapat beberapa poros yang memiliki kekuatan imbang dan memiliki jaringan luas. Meski demikian, sebagai organisasi kebangkitan ulama, NU tetap harus menunjukkan wajah yang sejuk dan kondusif dalam proses suksesi pucuk kepemimpinan yang diharapkan dapat mengantarkan pada kebesaran dan keutuhan NU, bukan sebaliknya.

Banyak organisasi yang tidak mampu bertahan dalam waktu lama karena di dalamnya terjadi perbedaan pandangan atau faksi. Akan tetapi, tidak demikian dengan NU. NU mampu tumbuh dan berkembang menghadapi badai beberapa kali sejak didirikan, serta semakin kuat taring dan jangkarnya hingga kini, meskipun berbagai ujian telah dihadapi.

Dalam konteks negara-bangsa (nation state), NU menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga bangsa Indonesia dari berbagai ancaman yang hendak merongrong ideologi Pancasila. Bahkan dalam sejarah perjuangan bangsa, gelora semangat nasionalisme dan patriotisme yang dikobarkan oleh Hadratus Syekh dengan Resolusi Jihad telah mampu memompa semangat segenap bangsa Indonesia untuk mengusir penjajah dan meraih kemerdekaaan atas izin dan rahmat-Nya.

 

PILAR BANGSA YANG TAK GOYAH

Pergulatan NU dalam perjuangan bangsa tidak diragukan lagi. Para ulama dan santri menjadi garda terdepan dalam perjuangan bangsa yang telah ditulis dalam sejarah, di antaranya peristiwa Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945 yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015. Peristiwa bersejarah tersebut menandai bahwa NU dan elemen bangsa lainnya telah mewariskan kepada kita sebuah ‘harta karun’ yang sangat berharga, yaitu bangsa Indonesia yang merdeka, yang diperjuangan dengan spirit ketulusan tanpa pamrih.

Selanjutnya pada masa-masa berikutnya sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi saat ini, NU terus berkiprah dan berperan dalam kancah nasional dan internasional. Dalam kancah nasional, telah berdiri ribuan pesantren dan madrasah, ratusan rumah sakit dan perguruan tinggi, dan sebagainya. Dalam kancah internasional, NU telah menunjukkan kepada dunia, di antaranya dengan menampilkan Islam rahmatan lil ‘alamin yang tecermin dalam wajah moderat Indonesia sebagai muslim terbesar di dunia.

Pada era reformasi terjadi lompatan besar dengan mandat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI. Meskipun bukan representasi formal NU secara kelembagaan, semua mengetahui bahwa Gus Dur adalah Ketua Umum PBNU sejak Muktamar Situbondo 1984. Kemudian disusul tokoh NU berikutnya, KH Makruf Amin, menjadi Wakil Presiden RI periode 2019-2024.

 

TANTANGAN NU KEKINIAN

Di antara asbabul wurud (sebab-sebab yang menyertai) lahirnya NU ialah membentengi umat Islam dari pengaruh Wahabi saat itu yang gencar memengaruhi umat Islam. Kemudian dalam pergulatan ideologi berikutnya setelah bangsa Indonesia merdeka, NU telah mampu mempertahankan ideologi Pancasila dan memproteksi dari serangan ideologi kiri seperti komunisme dan ideologi kanan seperti radikalisme, melalui penguatan Ahlussunnah Waljamah (Aswaja) sebagai paradigma (manhaj) berpikir, kekuatan pesantren dan madrasah, kaderisasi, gerakan-gerakan kultural, dan sebagainya.

Pelan tapi pasti, ideologi kiri dan kanan tersebut meskipun beberapa saat pernah singgah di Indonesia, tetapi tidak mampu menembus benteng pertahanan ideologi Pancasila. Hal ini menunjukkan bahwa NU menjadi kekuatan utama atau benteng besar bagi bangsa Indonesia dari dahulu hingga kini. Ideologi apa pun yang hendak mengganggu dan menggoyahkan ideologi Pancasila, NU selalu berada di garda terdepan untuk menghadapinya.

Dalam manajemen organisasi, NU juga telah menunjukkan sebagai organisasi berbasis IT, layanan persuratan secara digital mulai Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) hingga pengurus cabang telah diterapkan dengan tajuk Digdaya NU, seperti layaknya di pemerintahan dan badan usaha milik negara (BUMN).

Hal demikian telah menjadikan NU sebagai organisasi yang dikelola dengan menerapkan prinsip manajemen modern. Pada era kekinian, NU juga telah mampu beradaptasi dengan baik. Identitas sebagai organisasi tradisional telah bergeser menjadi organisasi yang mampu mencetak kader-kader hebat yang duduk di berbagai peran publik dan pemerintahan.

Hadirnya generasi NU yang memiliki pendidikan formal hingga jenjang akademik S-3 (doktor), baik dari lulusan dalam negeri maupun luar negeri, bahkan ratusan telah mencapai jabatan akademik tertinggi yakni professor (guru besar) yang tersebar di berbagai kampus di Indonesia dan instansi pemerintah serta di berbagai bidang, menunjukkan peran strategis NU masa kini dan ke depan.

Peran strategis yang penting diperkuat saat ini dan ke depan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah menjadikan NU sebagai role model serta referensi umat dan bangsa dengan fungsi utama menguatkan kesadaran wathaniyah (nasionalisme dan patriotisme), wasathiyah (moderasi), ukhuwah (persaudaraan), dan mashlahatul ummah (kebaikan umat dan bangsa), juga sebagai pilar bangsa. Peran dan fungsi ini penting untuk terus dikembangkan memasuki abad kedua NU yang beriringan dengan era revolusi industri 4.0 dan era society 5.0.

Tantangan saat ini dan ke depan semakin berat dan kompleks. Sebagai organisasi sosial-keagamaan, NU menjadi kekuatan moral dalam menjaga moralitas bangsa dan pilar yang kokoh bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kebangkitan ulama yang menjadi makna dari NU di samping sebagai kekuatan moral bangsa, juga menjadi garda terdepan dalam mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila. Apalagi NU sebagai organisasi keagamaan pertama di Indonesia yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal.

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Menuju Muktamar Ke-35 NU untuk Indonesia dan Peradaban Dunia” pada 2026-05-19 05:05:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *