• April 20, 2024 7:37 am

Cegah Penggunaan Isu Identitas di Pesta Demokrasi 2024

Cegah Penggunaan Isu Identitas di Pesta Demokrasi 2024

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

DEMOKRASI selayaknya dapat memperkuat nilai-nilai keragaman bangsa Indonesia. Semangat kebhinekaan patut menjadi landasan untuk pelaksanaan Pemilu 2024.

Tetapi pesta rakyat yang akan dilaksanakan kurang dari dua bulan ke depan ini berpotensi dihancurkan politisi pragmatis. Mereka dapat menggunakan isu agama yang efektif dan murah untuk meraih kemenangan.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) M Rafsanjani sebanyak 40 juta mahasiswa dari 204 juta orang dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang akan ikut serta dalam pesta demokrasi harus menjadi benteng pertahanan kebhinekaan. Itu dengan menghalau segala isu identitas khususnya agama digunakan dalam Pemilu 2024.

Baca juga: Masih Trending, Anies Baswedan Jadi Abah Nasional oleh Netizen

“Kita harus membendung agama dijadikan tameng politik. Agama mungkin dan kerap menjadi tameng karena paling murah dan efektif,” katanya saat menjadi narasumber di acara bertajuk Menjaga Api Bhinneka Tetap Menyala, di Jakarta, Sabtu (30/12).

Pada agenda yang diselenggarakan Forum Sekretaris Jenderal Cipayung Plus itu, dia mendorong semua pihak agar menjaga persatuan dan kebhinnekaan di tengah momentum kontestasi politik.

“Pemilu damai, hindari politisasi SARA. Kita tidak mau keutuhan berbangsa dikoyak oleh gesekan yang muncul menggunakan isu ini,” jelasnya.

Baca juga: 3 Jurus Cegah Korupsi Akan Dimaksimalkan pada Pemilu 2024

Mahasiswa itu masuk dalam kelompok elite dari sisi intelektual. Maka, kata dia, kalau mahasiswanya terbawa arus politisi pragmatis itu maka akan bertambah bahaya bagi keutuhan berbangsa dan bernegara.

“Sebaliknya jika dapat membendungnya maka menjadi harapan. Kita harus mencegah bangsa terkoyak politisi tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia mengatakan secara teknis gerakan bersama seluruh organisasi kemahasiswaan yang telah digagasnya ingin menguatkan demokrasi, mempertengkarkan gagasan bukan identitas. Kalau aspek identitas diutamakan maka mutu demokrasi dapat semakin merosot.

“Gerakan kita ingin konsolidasi demokrasi dan mencerdaskan bangsa. Ini benar tugas mulia dan kebangsaan,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Artinus Hulu mengatakan Forum Sekjen Cipayung Plus yang mendeklarasikan Indonesian Youth Interfaith menjadi sebuah momentum langka menutup dan membuka tahun baru. Momentum 2023 tidak lepas dari 2024 kita dihadapkan hajatan demokrasi dan selalu menjadi perbincangan adalah anak muda. Generasi milenial dan zilenial.

Generasi muda harus memiliki satu visi dan misi menyongsong Indonesia generasi emas 2045. Generasi ini selalu digadang menjadi generasi harapan bangsa.

Itu adalah cita-cita bersama dan masih ada waktu untuk saling melengkapi mengaktualisasikan diri dan mempersiapkan kepemimpinan bangsa ke depan. Bangsa ini memiliki sumber kekayaan bangsa yang besar berupa kebhinekaan.

“Ini menjadi modal kuat bangsa mencapai kesejahteraan. Kita mengharapkan spirit kebangsaan mengakar di setiap aktivitas kenegaraan. Tugas kita sebagai generasi muda dan aktivis civil society,” tegasnya.

Sementara itu Sekjen Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Rijal Wahid mengatakan generasi muda harus bisa meninggalkan latar belakang untuk benar-benar menjadi Indonesia. Gesekan yang masih ada karena belum menemukan spirit bersama.

“Bingkai ini yang harus di kedepankan sebagai sebuah bangsa yang ingin maju,” katanya.

Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sujahri Somar menambahkan mahasiswa atau generasi muda harus adaftif mengahadapi berbagai situasi. Musuh saat ini yang dihadapi bangsa Indonesia terdiri dari tiga yakni fundamentalisme agama, kapitalisme dan komunisme.

“Radikalisme harus menjadi musuh utama kita semua. Kita sebagai organisasi perjuangan. Akar masalah harus menjadi analisa bersama. DNA kita keberagaman, tradisi, budaya, jangan mau dipecah oleh pemilu,” ujarnya.

Potensi radikalisme agama di 2024 itu benar adanya karena kelompok ini punya cita cita politik. Kita harus bergerak dari kampus untuk merapatkan barisan sebagai student movement. (RO/Z-1)

DEMOKRASI selayaknya dapat memperkuat nilai-nilai keragaman bangsa Indonesia. Semangat kebhinekaan patut menjadi landasan untuk pelaksanaan Pemilu 2024.

Tetapi pesta rakyat yang akan dilaksanakan kurang dari dua bulan ke depan ini berpotensi dihancurkan politisi pragmatis. Mereka dapat menggunakan isu agama yang efektif dan murah untuk meraih kemenangan. 

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) M Rafsanjani sebanyak 40 juta mahasiswa dari 204 juta orang dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang akan ikut serta dalam pesta demokrasi harus menjadi benteng pertahanan kebhinekaan. Itu dengan menghalau segala isu identitas khususnya agama digunakan dalam Pemilu 2024.

Baca juga: Masih Trending, Anies Baswedan Jadi Abah Nasional oleh Netizen

“Kita harus membendung agama dijadikan tameng politik. Agama mungkin dan kerap menjadi tameng karena paling murah dan efektif,” katanya saat menjadi narasumber di acara bertajuk Menjaga Api Bhinneka Tetap Menyala, di Jakarta, Sabtu (30/12). 

Pada agenda yang diselenggarakan Forum Sekretaris Jenderal Cipayung Plus itu, dia mendorong semua pihak agar menjaga persatuan dan kebhinnekaan di tengah momentum kontestasi politik.

“Pemilu damai, hindari politisasi SARA. Kita tidak mau keutuhan berbangsa dikoyak oleh gesekan yang muncul menggunakan isu ini,” jelasnya. 

Baca juga: 3 Jurus Cegah Korupsi Akan Dimaksimalkan pada Pemilu 2024

Mahasiswa itu masuk dalam kelompok elite dari sisi intelektual. Maka, kata dia, kalau mahasiswanya terbawa arus politisi pragmatis itu maka akan bertambah bahaya bagi keutuhan berbangsa dan bernegara. 

“Sebaliknya jika dapat membendungnya maka menjadi harapan. Kita harus mencegah bangsa terkoyak politisi tidak bertanggung jawab,” ujarnya. 

Ia mengatakan secara teknis gerakan bersama seluruh organisasi kemahasiswaan yang telah digagasnya ingin menguatkan demokrasi, mempertengkarkan gagasan bukan identitas. Kalau aspek identitas diutamakan maka mutu demokrasi dapat semakin merosot. 

“Gerakan kita ingin konsolidasi demokrasi dan mencerdaskan bangsa. Ini benar tugas mulia dan kebangsaan,” tegasnya. 

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Artinus Hulu mengatakan Forum Sekjen Cipayung Plus yang mendeklarasikan Indonesian Youth Interfaith menjadi sebuah momentum langka menutup dan membuka tahun baru. Momentum 2023 tidak lepas dari 2024 kita dihadapkan hajatan demokrasi dan selalu menjadi perbincangan adalah anak muda. Generasi milenial dan zilenial. 

Generasi muda harus memiliki satu visi dan misi menyongsong Indonesia generasi emas 2045. Generasi ini selalu digadang menjadi generasi harapan bangsa. 

Itu adalah cita-cita bersama dan masih ada waktu untuk saling melengkapi mengaktualisasikan diri dan mempersiapkan kepemimpinan bangsa ke depan. Bangsa ini memiliki sumber kekayaan bangsa yang besar berupa kebhinekaan. 

“Ini menjadi modal kuat bangsa mencapai kesejahteraan. Kita mengharapkan spirit kebangsaan mengakar di setiap aktivitas kenegaraan. Tugas kita sebagai generasi muda dan aktivis civil society,” tegasnya.

Sementara itu Sekjen Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Rijal Wahid mengatakan generasi muda harus bisa meninggalkan latar belakang untuk benar-benar menjadi Indonesia. Gesekan yang masih ada karena belum menemukan spirit bersama. 

“Bingkai ini yang harus di kedepankan sebagai sebuah bangsa yang ingin maju,” katanya. 

Sekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sujahri Somar menambahkan mahasiswa atau generasi muda harus adaftif mengahadapi berbagai situasi. Musuh saat ini yang dihadapi bangsa Indonesia terdiri dari tiga yakni fundamentalisme agama, kapitalisme dan komunisme.

“Radikalisme harus menjadi musuh utama kita semua. Kita sebagai organisasi perjuangan. Akar masalah harus menjadi analisa bersama. DNA kita keberagaman, tradisi, budaya, jangan mau dipecah oleh pemilu,” ujarnya.

Potensi radikalisme agama di 2024 itu benar adanya karena kelompok ini punya cita cita politik. Kita harus bergerak dari kampus untuk merapatkan barisan sebagai student movement. (RO/Z-1)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Cegah Penggunaan Isu Identitas di Pesta Demokrasi 2024” pada 2024-01-01 11:55:45

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *