• April 12, 2024 7:50 pm

Dilema dan Gagap Militer RI Bebaskan Kapten Philip dari Sandera KKB

Sebulan berlalu, pilot Susi Air Kapten Philip masih di bawah sandera KKB Papua. Negosiasi pemerintah belum menemukan titik terang.

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Jakarta, CNN Indonesia

Pilot pesawat Susi Air Kapten Philip Mark Mehrtens masih menjadi sandera Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) usai pesawat yang dioperasikannya dibakar di Bandara Paro, Nduga, Papua Pegunungan, pada 7 Februari 2023. Sudah lebih dari sebulan berlalu, tetapi negosiasi negosiasi pemerintah dan KKB belum menemukan titik terang.

Panglima TNI Laksamana Yudo Margono mengatakan hingga kini upaya pembebasan pilot berkebangsaan Selandia Baru itu masih terus dilakukan, salah satunya melalui negosiasi. Di sisi lain, Yudo juga beranggapan operasi militer tak mungkin ditempuh sebagai jalan pembebasan Philip.

Ia khawatir aksi tersebut bisa membahayakan nyawa Philip atau masyarakat setempat. Selain itu, Yudo juga mengklaim TNI masih mampu membebaskan Philip dan menolak tawaran bantuan pemerintah Selandia Baru.

Pada Jumat (10/3) ini, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Operasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) kembali merilis foto dan video yang memperlihatkan Philip. Mereka mengklaim kondisi Philip sehat dan baik-baik saja.

Melalui video itu, Philip mengatakan OPM meminta dirinya menyampaikan beberapa poin. Pertama, pilot asing dilarang terbang di Papua. Kedua, OPM meminta Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menjadi mediator dalam kasus ini. Ketiga, OPM meminta kemerdekaan Papua.

“OPM akan membebaskan saya setelah Papua merdeka,” kata Philip.

Peneliti bidang Hubungan Internasional dari Pusat Penelitian Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siswanto menilai pemerintah Indonesia saat ini dalam keadaan dilematis dalam misi membebaskan Kapten Philip.

Namun, Siswanto juga mengaku gemas lantaran militer Indonesia lebih memilih strategi gerilya alias taktik perang secara sembunyi-sembunyi yang menurutnya malah menguntungkan pihak OPM.

“Saya agak heran dan enggak lazim ya operasi militer yang dilakukan TNI selama ini seperti kok gagap, tumpul ya, karena dia hanya perang gerilya. Kalau kita gerilya, OPM ya jelas menguasai medan,” kata Siswanto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat.

Ia menyarankan pemerintah lebih agresif saat melakukan negosiasi. Sementara itu, jika permintaan OPM di luar kehendak atau nalar, maka pemerintah dapat melakukan operasi militer seperti penyerbuan dengan taktik yang matang.

Sebab selama ini, ia beranggapan taktik mengirimkan personel TNI yang banyak ke Papua dengan strategi perang gerilya ternyata tidak efektif.

“Pilihannya operasi bisa dimaksimalkan dan cepat selesai. Kita sekarang operasi militer dilakukan tapi terbatas, coba kalau kita menerjunkan kekuataan udara dan tempur yang maksimal. Tapi itu dilematis juga, karena akan dimanfaatkan sebagai bahan diplomasi bahwa RI melakukan pelanggaran HAM,” kata dia.

Ia memahami situasi memang dilematis, karena Indonesia bisa saja jadi sorotan dunia. Namun, ia mengingatkan bahwa apa yang dilakukan OPM selama ini adalah bentuk perilaku terorisme dan separatisme yang justru melanggar HAM karena telah menelan sejumlah korban jiwa.

“Pendapat saya sekarang ini negosiasi mereka maunya apa. Kalau mereka keinginannya aneh-aneh ya tidak perlu. Langkah terakhir memang operasi militer terbatas, tapi kita pura-pura saja soft kalau tidak ada apa-apa,” ucapnya.

Menurutnya, jika Panglima TNI menolak bantuan Selandia Baru, maka harus segera ada tindakan serius yang menunjukkan kemampuan Indonesia.

“Menolak bantuan Selandia Baru tentu benar, tetapi ya tunjukkan, kita tidak boleh diam terlalu lama,” ujar dia.

Baca selengkapnya di halaman berikutnya…



Operasi Militer Butuh Strategi Matang

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Artikel ini telah dimuat di www.cnnindonesia.com dengan Judul “Dilema dan Gagap Militer RI Bebaskan Kapten Philip dari Sandera KKB” pada 2023-03-10 16:19:14

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *