RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
Jakarta (ANTARA) – Orang tua kerap menganggap bermain, mencari perhatian, atau ingin didengarkan sebagai sekadar keinginan anak. Padahal, perilaku tersebut bisa menjadi cara anak mengungkapkan kebutuhan emosional yang belum mampu mereka sampaikan dengan kata-kata.
Psychology Today pada Jumat (23/5) menyebutkan dalam pendekatan Nonviolent Communication (NVC), kebutuhan merupakan hal mendasar yang diperlukan setiap orang agar dapat berkembang, baik kebutuhan fisik seperti makan dan tidur maupun kebutuhan emosional seperti rasa aman, diterima, memiliki pilihan, dan kedekatan dengan orang lain.
Baca juga: Keluarga diminta berperan bentengi generasi muda dari radikalisme
Baca juga: Psikolog: Kemampuan komunikasi orang tua perlu dilatih di era digital
Sebaliknya, apa yang sering dianggap sebagai “kebutuhan” oleh orang tua, seperti rumah harus rapi, anak segera tidur, atau pekerjaan rumah selesai, sebenarnya lebih tepat disebut sebagai strategi untuk memenuhi kebutuhan lain, misalnya kebutuhan akan ketenangan, dukungan, atau rasa nyaman.
Dalam laporan tersebut juga menjelaskan bahwa keinginan bukanlah kebalikan dari kebutuhan. Keinginan merupakan salah satu cara seseorang membayangkan kebutuhannya dapat terpenuhi. Ketika orang tua hanya terpaku pada satu cara, mereka cenderung lebih mudah mengalami konflik dengan anak maupun pasangan.
Konsep yang sama juga berlaku pada anak. Misalnya, anak yang menunda waktu tidur belum tentu sekadar ingin bermain lebih lama, melainkan mungkin sedang mencari kedekatan dengan orang tuanya. Sementara anak yang menolak menyikat gigi dapat menunjukkan kebutuhan akan otonomi atau kesempatan untuk memiliki kendali atas pilihan yang menyangkut dirinya.
Anak-anak umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengungkapkan kebutuhan emosional secara langsung. Karena itu, orang tua disarankan mencoba memahami kebutuhan yang mendasari perilaku anak, alih-alih hanya berfokus pada tindakan yang terlihat, sehingga dapat menemukan lebih banyak solusi dalam menghadapi konflik sehari-hari.
Baca juga: Psikolog: Metode hitung mundur efektif ajarkan anak patuhi aturan
Baca juga: Menteri PPPA: Jadikan nilai agama fondasi pengasuhan dalam keluarga
Baca juga: Harganas, Khofifah: Perkuat ketahanan keluarga lewat kolaborasi asuh
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Artikel ini telah dimuat di www.antaranews.com dengan Judul “Perbedaan kebutuhan dan keinginan dalam pengasuhan anak” pada 2026-07-25 11:40:00
