RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
Palu (ANTARA) – Pakar Komunikasi dan Terorisme Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) Prof Muhammad Khairil menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan terhadap anak yang terpapar radikalisme.
“Membina orang terjerumus paham radikal tidak cukup hanya dengan dialog, perlu pendekatan dengan paradigma untuk mengubah pola pikir mereka yang sudah telanjur radikal,” kata Muhammad Khairil di Palu, Rabu, menanggapi belasan anak terindikasi radikalisme di Sulawesi Tengah.
Ia mengemukakan pembinaan dilakukan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, pendekatan persuasif melalui proses pembinaan berkelanjutan menjadi kunci utama mengembalikan kognisi berfikir mereka.
Baca juga: MPR: Penguatan literasi digital kunci lindungi anak dari radikalisme
Apalagi, doktrin radikalisme telah menjadi perilaku, maka langkah normalisasi cara pandang dan tindakan perlu dilakukan lewat program terencana, terpadu, sistematis dan berkesinambungan.
“Banyak faktor memengaruhi orang berubah haluan ke arah yang negatif, karena ideologi radikal dapat mengarah pada tindakan terorisme bila tidak dilakukan pencegahan secara dini,” ujarnya.
Menurut dia, belasan anak terindikasi terpapar paham radikal bukan terjadi secara kebetulan, ada pihak-pihak tertentu secara sistematis menjalankan misi memengaruhi maupun merekrut orang dengan memanfaatkan berbagai peluang, termasuk ruang media sosial dan keterbukaan informasi.
“Di sini lah peran pemerintah, lembaga pendidikan, pemangku kepentingan maupun orang tua memberikan perhatian. Paling penting adalah menunjukkan dan memberikan keteladanan kepada anak bahwa ujaran kebencian itu sesuatu yang negatif,” tutur mantan Dekan FISIP Untad Palu.
Ia menjelaskan moderasi beragama salah satu cara menangkal masuknya paham ekstrem di tengah kehidupan sosial masyarakat, karena masifnya arus informasi di ruang-ruang publik selalu ada potensi radikalisme.
Kemudian, di tingkat pemerintah perlu mewaspadai seluruh aspek pada dunia pendidikan, kepala sekolah maupun guru harus mampu mengidentifikasi perubahan pola perilaku anak.
Baca juga: BNPT: 620 anak terpapar radikalisme melalui media sosial
Baca juga: BNPT: Anak dan keluarga kunci pencegahan ancaman radikalisme digital
Di tingkat perguruan tinggi juga demikian, pencegahan perlu dimasifkan dengan menyisipkan pesan moderasi beragam di ruang kelas belajar maupun ruang perkuliahan.
“Perlu muatan pluralisme maupun cara beragama dengan sejuk dan damai disisipkan dalam kegiatan belajar-mengajar. Dari sisi orang tua juga perlu mengontrol aktivitas maupun pergaulan anak, cara-cara seperti ini salah satu metode menghindarkan anak terpapar paham yang ekstrem,” ucap Khairil .
Sebelumnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menemukan 18 anak terindikasi terpapar radikalisme di Sulawesi Tengah.
Hingga kini dinas teknis terkait dan Densus 88 Antiteror Polri melakukan pembinaan kepada belasan anak tersebut.
Pewarta: Mohamad Ridwan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Artikel ini telah dimuat di www.antaranews.com dengan Judul “Pakar Untad tekankan pembinaan berkelanjutan anak terpapar radikalisme” pada 2026-09-09 10:20:00
