• May 29, 2026 8:07 pm

Bos WHO Kunjungi Kongo saat Wabah Ebola, Pasien Pertama Sembuh

Bos WHO Kunjungi Kongo saat Wabah Ebola, Pasien Pertama Sembuh

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Petugas kesehatan Kongo.(Al Jazeera)

DIREKTUR Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, melakukan kunjungan resmi ke Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) pada Jumat (29/5/2026). Kunjungan ini dilakukan di tengah upaya keras otoritas setempat mengendalikan wabah ebola yang mematikan dan kini mencatatkan kasus kesembuhan pasien pertama sejak krisis dimulai.

Tedros tiba di ibu kota Kinshasa pada Kamis malam, tepat dua minggu setelah wabah demam berdarah yang sangat menular ini resmi diumumkan. Meski awalnya dijadwalkan bertolak ke Ituri–provinsi terpencil di timur laut yang menjadi pusat wabah ke-17 di negara tersebut–perjalanan tersebut terpaksa ditunda satu hari.

Harapan di Tengah Krisis

Kabar positif muncul di tengah situasi genting setelah WHO mengumumkan bahwa seorang pasien dinyatakan sembuh pada Rabu lalu. Pasien tersebut diperbolehkan pulang setelah hasil tes menunjukkan negatif sebanyak dua kali berturut-turut.

“Ini menandai kesembuhan pertama di antara pasien yang terkonfirmasi positif Ebola dalam wabah kali ini,” ujar Anais Legand dari WHO kepada wartawan di Jenewa.

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) hingga Kamis, tercatat sedikitnya 1.077 kasus suspek Ebola sejak wabah dideklarasikan pada 15 Mei, dengan 246 korban jiwa. Namun, WHO memperingatkan bahwa jangkauan sebenarnya dari wabah ini kemungkinan jauh lebih luas karena keterbatasan kapasitas laboratorium di RD Kongo.

Statistik Wabah Ebola RD Kongo:

  • Kasus Suspek: 1.077 orang
  • Korban Jiwa: 246 orang
  • Provinsi Terdampak: 3 provinsi (termasuk Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan)
  • Negara Tetangga: Uganda (7 kasus terkonfirmasi, 1 kematian)

Tantangan di Wilayah Konflik

Kondisi di lapangan diperparah oleh konflik bersenjata yang melanda wilayah timur RD Kongo selama tiga dekade. Di Provinsi Ituri, akses kesehatan terhambat oleh kehadiran milisi terafiliasi ISIS (ADF) dan kelompok bersenjata lain.

Kekhawatiran terbesar muncul dari kamp-kamp pengungsian yang padat. Hampir satu juta orang yang melarikan diri dari konflik kini tinggal di tenda-tenda darurat dengan sanitasi buruk. “Jika Ebola masuk ke sini, kami akan habis karena kami hidup berdesakan seperti sarden,” ungkap Dorcas Mapenzi, seorang warga di kamp Kingonze.

Hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk galur Bundibugyo yang memicu wabah kali ini. Namun, Africa CDC memproyeksikan vaksin akan siap pada akhir tahun, sementara WHO merekomendasikan uji klinis segera untuk pengobatan yang potensial.

Respons Internasional

Menteri Kesehatan RD Kongo, Samuel Roger Kamba, mencoba meredam kepanikan internasional dengan menyatakan bahwa situasi masih dalam kendali. “Kita tidak berada dalam situasi seperti yang dipikirkan orang-orang secara internasional,” tegasnya.

Meski demikian, kewaspadaan global meningkat tajam. Uganda dan Rwanda menutup perbatasan mereka dengan RD Kongo. Di Amerika Serikat, Sekretaris Negara Marco Rubio juga menyatakan komitmennya untuk memastikan wabah ebola tidak masuk ke wilayah AS.

Tedros sendiri memberikan pesan penguatan bagi rakyat Kongo melalui platform X. “Saya ingin Anda tahu bahwa Anda tidak sendirian. Wabah ini bisa dihentikan.” (AFP/I-2)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Bos WHO Kunjungi Kongo saat Wabah Ebola, Pasien Pertama Sembuh” pada 2026-05-29 19:44:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *