• June 27, 2022 12:03 am

Thinking of no Box Mengenang Kesederhanaan Buya Syafii Maarif

JUMAT (27/5), di hari yang penuh berkah, Buya Syafii Maarif mengembuskan napas terakhir dan menghadap Allah dengan penuh sukacita. Bangsa Indonesia sangat kehilangan sosok penjaga moral bangsa yang setia dan kukuh dengan bangunan keyakinan kebangsaan. Keyakinan itu tumbuh bukan saja karena pengalaman hidupnya yang penuh kesederhanaan, melainkan juga karena pilihan profesinya sebagai guru. Buya, semenjak dari kampung hingga tiba di Yogyakarta dengan niat untuk sekolah, malah diminta untuk menjadi guru di Muallimin. Bahkan, pengembaraannya sebagai guru hingga ke Pohgading di Lombok semakin membentuk kesederhanaan pribadinya untuk melihat semua hal dari bawah.

Merasakan kuliah di Universitas Cokroaminoto Surakarta hingga memperoleh gelar Sarjana Muda, karier akademik Buya Syafii Maarif terus beranjak dengan berkuliah di IKIP hingga menjadi guru besar di sana. Sewaktu kembali ke Tanah Air setelah menyelesaikan program doktor di bidang Pemikiran Islam dan Negara pada University of Chicago, konsistensi kesederhanaan berpikirnya tetap ajeg dan tak mudah diprovokasi oleh lautan perbedaan yang cenderung menebar kebencian antarsesama anak bangsa. Meskipun pernah menjabat sebagai Pimpinan Pusat Muhammadiyah, cara berpikir Buya Syafii Maarif tak pernah terkungkungi oleh politik identitas, tetapi selalu membela kepentingan bersama. Thinking of no box ialah ciri khas Buya Syafii Maarif dalam memperlihatkan dukungannya terhadap keragaman.

 

Dua peristiwa

Saya beruntung bisa mengenal Buya Syafii Maarif sejak 1980-an ketika berkuliah di Yogyakarta. Saya dan almarhum Samsu Rizal Panggabean dan Taufik Adnan Amal beberapa kali disambangi oleh Buya Syafii Maarif dan almarhum Djohan Effendi ke tempat indekos kami di daerah Sapen, Gondokusuman. Kunjungan mereka biasanya karena ada undangan seminar dan diskusi di beberapa kampus. Anehnya, biasanya sebelum mereka memaparkan temuan pemikiran beberapa sarjana muslim di dalam sebuah seminar, mereka berdua malah mengajak diskusi kita dulu dan tak jarang malah mereka yang lebih banyak mendengar pandangan-pandangan kita soal topik dan tema-tema keislaman kontemporer ketika itu.

Peristiwa ini tentu saja sangat membekas karena Buya Syafii Maarif, meskipun bergelar doktor dan baru kembali dari Chicago, tetap mau duduk lesehan di kamar indekos berdiskusi dengan para mahasiswa yang dipandangnya memiliki bacaan yang lumayan banyak untuk kami yang masih belum menyelesaikan S-1. Saya tak pernah melihat ada yang berbeda dari sosok Buya Syafii hingga 30 tahun ke belakang. Gaya bicaranya tetap terang dan bernas, to the point, dan kukuh dengan argumen-argumen yang disokong oleh tafsir kesejarahan Al-Qur’an dan hadis.

Mungkin kecintaannya terhadap ilmu sejarah dan melihatnya sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan intelektualitasnya yang membuat Buya Syafii Maarif selalu dikagumi orang yang sejalan atau tak sejalan dengan cara berpikirnya. Selain itu, Buya Syafii Maarif selalu mengingatkan kita bahwa rendahnya kesadaran sejarah suatu masyarakat, menandakan gagalnya pendidikan, karena bangsa yang cerdas memiliki ingatan sejarah yang kuat dan mau belajar dari masa lalu. Alih-alih melakukan introspeksi diri akan kelemahan dan kesalahannya, malahan banyak orang Indonesia sekarang lebih suka menyalahkan konstitusi yang dibangun dengan susah payah oleh pendiri negara bangsa.

Peristiwa kedua yang membekas di hati saya terjadi ketika berkunjung ke rumahnya yang sederhana di Yogyakarta pada 2015. Saya bercerita bagaimana saya dengan susah payah bersama-sama Rizal Panggabean dan Khoiruddin Bashori mengelola Sekolah Sukma Bangsa pascatsunami di Aceh. Namun, ketika saya tunjukkan kepada Buya betapa banyaknya guru di Sukma Bangsa menulis buku, beliau senang sekali dan tersenyum seraya memuji sikap dan pandangan Surya Paloh sebagai inisiator dan penggagas sekolah untuk anak-anak korban tsunami dan konflik di Aceh.

Kecintaan Buya Syafii Maarif terhadap anak muda yang suka membaca dan menulis menyiratkan pentingnya menumbuhkan budaya membaca dan menulis dalam satu tarikan napas. Banyak sekali buku yang beruntung diberi kata pengantar oleh Buya Syafii Maarif dengan perspektif yang dalam dan membangkitkan semangat untuk melakukan perubahan. Tajdid ialah salah satu konsep kunci yang selalu beliau dengungkan selama hidupnya, karena tajdid merupakan penanda bahwa kehidupan masih bergerak ke arah yang positif. Sebaliknya, kejumudan berpikir selalu ditentang Buya Syafii Maarif secara lantang dengan berpegang pada prinsip kemanusiaan yang universal.

 

Pilihan dan kolektivisme

Dengan kejernihan dan keluasan pandangannya, Buya Syafii Maarif hampir minim dengan kontroversi yang akut. Beliau ialah tipe sarjana muslim yang tak pernah kehilangan akal dalam membuat argumentasi moral jika menyangkut keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Selalu ada argumen yang cerdas ketika diminta pendapat tentang suasana kebatinan kebangsaan kita. Ciri umum dari seseorang yang berpikir tidak ada box, bukannya inbox atau out of the box, ialah kemudahan untuk menentukan pilihan sikap yang selalu mendasarkan pada etika kemanusiaan yang universal. Latar belakang kehidupan Buya Syafii Maarif membentuk cara pandangnya yang selalu mengedepankan keutuhan bangsa dan negara di atas semua kepentingan.

William Glasser (1998) dalam Choice Theory: A New Psychology of Personal Freedom mengatakan bahwa perilaku seseorang pasti selalu dilatari dan diinspirasi secara amat kuat oleh keinginan dan kebutuhan seseorang pada saat setiap peristiwa terjadi. Artinya, respons aktual Buya Syafii Maarif selalu menjadi pengingat kita bahwa bangsa ini jangan mudah tercabik dan terprovokasi oleh hasutan jahat ideologi selain Pancasila.

Dalam analisis psikologis dan pedagogis Glasser, setidaknya setiap perilaku individu selalu berkaitan erat dengan lima kondisi, yaitu survival, to belong and be loved by others, to have power and importance, freedom and independence, and to have fun. Karena itu, thinking of no box ala Buya Syafii Maarif selalu berorientasi pada kelima aspek psikologis tersebut, yaitu agar masyarakat Indonesia dapat terus menjaga perasaan sesama anak bangsa untuk selalu dapat bertahan dalam kondisi dan situasi sesulit apa pun, menjadi sekaligus mencintai satu sama lain, memiliki kekuasaan yang bisa dipertanggungjawabkan, serta kebebasan dan keinginan untuk gembira dan berbahagia sebagai warga negara.

Karena itu, dalam pandangan saya, Buya Syafii Maarif sepanjang hidupnya selalu merasa sangat khawatir dengan situasi kebangsaan yang terjadi di tengah masyarakat. Sebagai penjaga moral bangsa, Buya Syafii Maarif menunjukkan teladan yang berlimpah agar masyarakat tidak mudah untuk mempraktikkan seven deadly habits seperti kekerasan, narkoba, seks bebas, dan radikalisme. Karena itu, wajar jika ungkapan kemarahan Buya Syafii Maarif yang sering kita dengar selalu dibalut dengan bahasa ‘tidak punya konsep yang jelas’, dan sistem ketatanegaraan kita tampaknya memang sudah terlalu lama berjalan di tempat yang kurang tepat dan kurang jelas.

Buya Syafii Maarif yang akan terus hidup di hati rakyat Indonesia karena pikiran dan pandangannya untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara tak bisa dihilangkan dari memori kolektif bangsa. Buya ialah tipikal sarjana muslim yang mencintai kolektivisme atau persaudaraan yang fondasinya telah diletakkan secara baik oleh pendahulu bangsa lainnya, yaitu Muhammad Hatta.

Gagasan kesatuan kebangsaan dan keagamaan yang selalu dibela oleh Buya Syafii Maarif bisa ditelusuri jejaknya dari tulisan Muhamad Hatta tentang Collectivisme (1930). Dalam pandangan Hatta, suatu bangsa tidak mungkin dibangun tanpa prinsip-prinsip solidaritas dan subsidiaritas. Prinsip solidaritas mengisyaratkan perlunya kerja sama (koperasi) yang aktif secara kolektif dari komponen-komponen budaya, etnik, tradisi, dan agama yang ada dalam masyarakat. Prinsip subsidiaritas ialah nilai-nilai kebersamaan, yang mampu membantu yang tidak mampu, yang kuat membantu yang lemah, khususnya di bidang ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Semangat inilah yang seharusnya mendominasi struktur berpikir masyarakat Indonesia saat ini.

Pembelaan Buya terhadap Pancasila sebagai ideologi negara tampaknya seiring dengan semangat kejiwaan para founding fathers tentang kolektivisme yang menegaskan pentingnya kesatuan sosial, budaya, tradisi, adat istiadat, dan agama. Indonesia ialah hak semua bangsa, di dalamnya mencerminkan sebuah mosaik yang sangat indah, penuh warna, dan nuansa. Sepanjang hayatnya, Buya Syafii Maarif tak pernah bosan untuk menunjukkan keindahan keragaman dengan kesederhanaan berpikir yang tak ada sekat (thinking of no box). Selamat jalan, Buya Syafii Maarif. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu. Amin.


Sumber: Media Indonesia | Thinking of no Box Mengenang Kesederhanaan Buya Syafii Maarif

Leave a Reply

Your email address will not be published.