• May 18, 2022 3:04 am

Pakar soal Julukan Eks Presiden: Jokowi Mau Diberi Gelar Usai Lengser

Kementerian Sekretariat Negara (Setneg) era rezim Joko Widodo mengeluarkan julukan baru untuk enam mantan presiden Indonesia.
Jakarta, CNN Indonesia

Kementerian Sekretariat Negara (Setneg) era rezim Joko Widodo mengeluarkan julukan baru untuk enam mantan presiden Indonesia. Mulai dari Soekarno sebagai Bapak Proklamator, Soeharto Bapak Pembangunan, BJ Habibie Bapak Teknologi, dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme.

Terbaru, Megawati Soekarnoputri disematkan Ibu Penegak Konstitusi dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Bapak Perdamaian.

Peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, melihat julukan yang diberikan oleh negara kepada mantan presiden itu merupakan upaya Jokowi untuk membangun tradisi baru. Harapannya, pemerintahan selanjutnya dapat meneruskan tradisi pemberian gelar terhormat tersebut.

“Mungkin ini semacam tradisi yang coba dibikin pemerintah Pak Jokowi, dan berharap pemerintah berikutnya meneruskan. Jadi pemerintah selanjutnya, pasca Pak Jokowi memberikan gelar pada Pak Jokowi,” ujar Bawono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (19/4).

Ia memandang tradisi ini dibangun untuk menghormati mantan presiden serta menghapus sisa-sisa rivalitas dan ketegangan antar mantan presiden. Bawono menilai balik ketegangan yang sempat terjadi tiap kali perpindahan kekuasaan antarpresiden.

“Sebelum-sebelumnya kan prosesnya selalu enggak smooth, ada sisa-sisa rivalitas, sisa-sisa konflik politik. [Misal] dari Gus Dur ke Megawati, Megawati ke SBY, nah waktu SBY ke Jokowi ada transisi di istana. Mungkin ini (pemberian julukan) tradisi baru yang ingin dibangun Pak Jokowi, [sebagai] penghormatan,” jelasnya.

Ihwalnya, Bawono melihat pemberian julukan ini muncul dengan proses yang berbeda bagi masing-masing mantan presiden. Bagi empat mantan presiden pertama, sematan itu muncul dan dikenal dari masyarakat. Sedangkan, bagi Megawati dan SBY, julukan itu justru tidak diketahui oleh publik luas.

Ia menjelaskan perbedaan munculnya julukan antara empat mantan presiden sebagai proses bottom-up atau dari bawah ke atas. Setelah dikenal publik dengan sematan masing-masing baru lah pemerintah memformalkan julukan itu.

Sedangkan, bagi Megawati dan SBY, julukan itu justru diberikan dengan proses top-down atau dari atas ke bawah.

“Tentu banyak yang melihat terutama dari konstituennya Megawati atau SBY itu sebagai apa. Tapi kan tidak ada julukan atau sematan seperti yang terjadi pada Soekarno, Soeharto, Habibie dan Gus Dur yang hampir semua orang [tahu], oh ini. Bottom-up itu tadi,” papar Bawono.

“Bu Mega dan Pak SBY ini prosesnya lebih ke top-down, kesempatan yang diberikan negara. Negara dalam arti institusi negara,” sambungnya.

Bawono menilai pemberian titel atau julukan ini pun dilakukan bukan untuk mengabaikan pencapaian-pencapaian lain dari mantan presiden.

Misalnya, julukan SBY sebagai Bapak Perdamaian mengarah pada keberhasilan SBY menuntaskan konflik berkepanjangan di Aceh dengan Perjanjian Helsinky tahun 2005. Meski demikian, Bawono tak menampik bahwa SBY dan mantan presiden lainnya memiliki pencapaian di luar titel yang disematkan.

“Apapun titel atau sematan yang diberikan pada presiden, itu tidak berarti bidang-bidang lain yang juga positif dilakukan selama periode pemerintahan mereka itu dinafikkan,” ucap dia.

Sebelumnya, Setneg melalui akun twitter resminya menyatakan, julukan-julukan tersebut disematkan kepada presiden yang sudah selesai menjabat versi Museum Kepresidenan RI.

Sebagaimana diketahui BEM UI pernah menjuluki Presiden Jokowi dengan sebutan ‘The King of Lip Service’ dan diunggah pada 26 Juni 2021 lalu.

(cfd/DAL)

[Gambas:Video CNN]


Sumber: CNN Indonesia | Pakar soal Julukan Eks Presiden: Jokowi Mau Diberi Gelar Usai Lengser

Leave a Reply

Your email address will not be published.