• May 19, 2022 7:06 pm

Antara Agama dan Sikap Keagamaan

ADA tiga hal yang tidak identik, yaitu agama, pemahaman keagamaan, dan sikap keberagamaan.

Seusai Al-Qaeda dan IS ada kecenderungan generasi baru, tidak terkecuali kalangan umat Islam, menghindari bahasa agama. Mereka seperti takut dengan akronim garis keras, fanatik, dan teroris.

Sebagian di antara mereka korban pemberitaan di media-media sosial yang mengesankan agama sebagai faktor dehumanisasi paling menonjol di abad ini. Bahkan, Graham E Fuller, mantan Wakil Ketua CIA, menulis buku the best seller-nya, A World without Islam, memengaruhi para pemikir muda dunia Barat untuk membenci Islam.

Buku itu juga ikut membangkitkan islamofobia di dunia Barat. Mereka yang belum mampu membedakan antara doktrin agama, penafsiran agama, dan sikap keagamaan. Mereka ada yang mengidentikkan antara ajaran Islam dan gerakan kelompok tertentu yang mengatasnamakan Islam.

Mereka juga kecewa dengan tokoh-tokoh idola yang diharapkan menyuarakan suara mainstream muslim, tetapi memilih sikap keagamaan tidak berani speak out.

Citra Islam sebagai agama di media-media sosial internasional, para orang tua khususnya orang tua muslim di AS dan Eropa atau di negara-negara minoritas muslim, kini sedang diresahkan dengan pertanyaan dan sikap anak-anak mereka yang ‘alergi’ terhadap bahasa agama (Islam).

Bukan hanya dalam Islam, melainkan juga agama-agama lain. Anak-anak mereka yang melewati masa kanak-kanaknya saat kejadian 9/11, suatu kejadian terburuk dan paling mengerikan di AS, ternyata menyisahkan endapan di alam bawah sadar mereka bahwa antara konsep agama yang diperkenalkan ke dalam diri mereka berbeda dengan apa yang mereka saksikan di dalam kenyataan. Apalagi, kekejaman yang dipertontonkan secara terbuka di media-media sosial eksekusi dalam bentuk pembakaran, senso, melinggis, dan memotong kepala, betul-betul membuat mereka takut sehingga mereka cenderung menghindar dari bahasa agama.

Penulis saat ini sedang berada di AS diundang untuk memberikan materi seminar dan course di beberapa tempat. Komunitas orangtua muslim merasa resah. Anak-anak mereka malas beribadah ke masjid dan tidak mau menggunakan atribut-atribut keagamaan. Apalagi, sekarang dengan kemenangan Partai Republik yang mengusung isu antiimigran muslim.

Ini antara lain disebabkan persepsi yang melekat pada diri mereka tentang agama, khususnya Islam. Sesungguhnya bukan agama atau Islam itu sendiri, tetapi ‘pemahaman’ mereka tentang agama atau Islam atau pilihan sikap keagamaan sekelompok orang.

Mereka sulit membedakan antara agama atau Islam dengan pemahaman yang dibentuk oleh opini orang tentang agama itu. Akibatnya, mereka keliru di dalam mengambil kesimpulan. Mereka terpengaruh seperti apa yang disampaikan oleh Gabril, seorang murtad Amerika, yang mengatakan bahwa yang teroris itu sesungguhnya bukan orang Islam, mereka hanya korban. Ia mengatakan The real terrorism is Islam it self, muslims just a victim.

Kita perlu berterima kasih kepada Murad Wilfried Hofmann, mantan Direktur Informasi NATO, yang menjadi mualaf dan mendalami Islam. Kini produktif menulis dan di antara karyanya ialah Islam the Alternative yang justru menggambarkan dunia baru yang damai dan berkemanusiaan di bawah panji-panji Islam. Ia menilai Islamlah alternatif solusi yang bisa menyalamatkan dunia dari ketidakadilan politik dan ekonomi. Islam juga menjadi alternatif terbaik untuk menjadi moralitas ilmu pengetahuan dan teknologi di masa mendatang.

Ia mengajak orang untuk memahami dan mendalami Islam dalam konsep, bukan perilaku segelintir umat Islam mengatasnamakan Islam untuk tujuan tertentu. Kini sudah saatnya umat Islam berpikir dan bersikap kritis.

Tugas berat para pemimpin umat saat ini ialah memberikan pemahaman secara kritis dan komprehensif terhadap ajaran Islam. Kini diperlukan pencerahan baru (new enlightenment) untuk mengajak generasi baru dunia yang terkontaminasi negative promotion terhadap Islam.


Sumber: Media Indonesia | Antara Agama dan Sikap Keagamaan

Leave a Reply

Your email address will not be published.