RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
BENCANA kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas dalam beberapa bulan terakhir di sejumlah wilayah Indonesia memunculkan ancaman krisis ekologis. Kebakaran tersebut tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan stabilitas biosfer.
Indonesia memiliki kawasan hutan gambut tropis yang luas serta hutan hujan tropis terluas ketiga di dunia. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim global. Namun, kebakaran hutan dan lahan justru berpotensi menjadikan Indonesia sebagai sumber emisi karbon dalam jumlah besar.
Menyikapi kondisi tersebut, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana karhutla yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
“Kami memandang kebakaran hutan dan lahan bukan semata-mata sebagai bencana lingkungan, melainkan juga tantangan keilmuan yang menuntut jawaban berbasis sains,” kata Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Dr. Eko Agus Suyono, dalam keterangan tertulis yang diterima Media Indonesia di Yogyakarta, Selasa.
Menurut Eko, kebakaran hutan dan lahan menyebabkan hilangnya laboratorium alam akibat kerusakan struktur, fungsi, dan kesinambungan informasi ekologis dalam suatu ekosistem.
Fakultas Biologi UGM mendorong pemerintah dan otoritas terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola lahan serta menegakkan regulasi pencegahan kebakaran secara transparan dan akuntabel. Kebijakan tersebut perlu didukung data ilmiah yang terbuka (open science) dan sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan agar risiko bencana pada masa mendatang dapat ditekan dan keberlanjutan lingkungan tetap terjaga.
“Agar kebakaran serupa tidak terulang, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan dan regulasi mitigasi kebakaran hutan dan lahan secara permanen, bukan hanya respons saat darurat,” ujarnya.
Eko menambahkan, upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla membutuhkan peningkatan alokasi anggaran dalam APBN untuk kesiapsiagaan bencana. Selain itu, diperlukan kejelasan kewenangan dan penguatan koordinasi lintas sektor, mulai dari tingkat pusat hingga desa.
Ia juga mendorong pengembangan sistem peringatan dini berbasis data iklim dan hidrologi gambut, perlindungan hukum terhadap ekosistem gambut, pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut, penguatan kelembagaan masyarakat peduli api, serta pemberian insentif bagi praktik pembukaan lahan tanpa bakar.
Perlindungan Plasma Nutfah dan Habitat
Kebakaran hutan dan lahan dengan suhu ekstrem dapat merusak mikrobioma tanah, termasuk bakteri pengikat nitrogen dan jamur mikoriza, serta mengganggu fungsi ekosistem gambut. Kerusakan tersebut juga dapat memicu pelepasan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer sehingga memperparah perubahan iklim.
Pemulihan ekosistem terdampak, menurut Eko, membutuhkan pemahaman menyeluruh terhadap fungsi dan interaksi antarunsur ekosistem melalui pendekatan biologi sistem.
Ia menilai restorasi berbasis sains mendesak dilakukan agar pemulihan pascabencana tidak berlangsung secara instan, tetapi mengikuti prinsip-prinsip ekologi. Langkah yang dapat ditempuh antara lain penanaman vegetasi lokal dan penerapan bioremediasi untuk membantu memulihkan kualitas serta kesuburan tanah.
Restorasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi berbasis alam. Karbon yang dilepaskan akibat kebakaran perlu diimbangi melalui pemulihan fungsi ekosistem sebagai penyerap dan penyimpan karbon.
“Melalui pembasahan kembali gambut, revegetasi dengan spesies lokal, serta pemulihan mikrobioma tanah, kita dapat mendukung pemulihan siklus karbon,” ujarnya.
Sejalan dengan misi pendidikan, penelitian dan inovasi, pengabdian kepada masyarakat, serta kemitraan, Fakultas Biologi UGM menyatakan siap mengerahkan tim ahli untuk berkolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam upaya pemulihan ekosistem terdampak karhutla.
Kolaborasi tersebut mencakup evakuasi, identifikasi, dan rehabilitasi satwa terdampak; penelitian formulasi mikroorganisme untuk pemulihan tanah pascakebakaran; penyediaan bibit unggul spesies lokal untuk restorasi hutan; serta pendampingan ilmiah dalam penguatan kelembagaan dan penyusunan regulasi mitigasi karhutla.
Fakultas Biologi UGM juga siap mendukung pengukuran dan pemantauan stok karbon dalam program restorasi serta penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, dan pelibatan mahasiswa dalam upaya pemulihan ekosistem.
“Fakultas Biologi UGM siap mendukung penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan, pelatihan, dan pelibatan mahasiswa dalam aksi pemulihan ekosistem,” pungkas Eko. (AU/P-3)
Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “UGM Dorong Mitigasi Karhutla Berbasis Sains dan Restorasi Ekosistem” pada 2026-10-27 11:21:00
