RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah kontroversial untuk menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat. Ambisi ini mencuat seiring upaya intensif pemerintah AS merangkul perusahaan-perusahaan minyak besar untuk berinvestasi di negara Amerika Selatan tersebut pascaintervensi militer yang menggulingkan Nicolas Maduro.
Dalam wawancara telepon dengan Fox News, Trump mengungkapkan bahwa motivasi utamanya ialah nilai cadangan minyak Venezuela yang diperkirakan mencapai US$40 triliun atau sekitar Rp700 kuadriliun. Trump juga mengeklaim dirinya memiliki popularitas tinggi di mata rakyat Venezuela.
“Venezuela mencintai Trump,” ujar sang Presiden dengan percaya diri.
Transisi Kekuasaan dan Kendali Sektor Minyak
Setelah penangkapan Maduro pada Januari lalu atas tuduhan terorisme narkotika oleh Departemen Kehakiman AS, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola negara tersebut selama masa transisi. Saat ini, AS bekerja sama dengan Wakil Presiden bertindak Venezuela, Delcy Rodriguez.
Pada 31 Maret 2025, Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengumumkan bahwa Venezuela akan menyerahkan jutaan barel minyak ke Amerika Serikat. Langkah ini bertujuan menghidupkan kembali industri minyak AS di sana, setelah perusahaan raksasa seperti Exxon dan Conoco diusir hampir 20 tahun lalu oleh mendiang Hugo Chavez melalui nasionalisasi industri.
Di bawah pengelolaan pemerintahan Trump, ekspor minyak Venezuela pada April 2026 dilaporkan mencapai lebih dari 1 juta barel per hari, level tertinggi sejak tahun 2018.
Trump berargumen bahwa mengamankan pasokan minyak Venezuela tidak hanya menguntungkan ekonomi AS, tetapi juga krusial untuk menstabilkan ekonomi lokal Venezuela guna membangun demokrasi yang stabil.
Wacana Negara Bagian ke-51 dan Penolakan Lokal
Spekulasi mengenai aneksasi ini semakin menguat setelah Trump mengunggah pesan di platform Truth Social pada Maret lalu. “Hal-hal baik sedang terjadi di Venezuela belakangan ini! Saya bertanya-tanya keajaiban apa ini? NEGARA BAGIAN, #51, ADA YANG MAU?” tulisnya.
Namun, ambisi ini menghadapi tembok besar. Secara hukum, menjadikan Venezuela sebagai bagian dari AS memerlukan persetujuan Kongres AS dan persetujuan dari rakyat Venezuela sendiri. Delcy Rodriguez secara tegas menolak gagasan tersebut.
“Hal itu tidak akan pernah dipertimbangkan. Jika ada satu hal yang dimiliki pria dan perempuan Venezuela, itu adalah cinta kami pada proses kemerdekaan dan pahlawan-pahlawan kami,” tegas Rodriguez kepada wartawan pada Senin (11/5/2026).
Venezuela menambah daftar panjang wilayah yang pernah disebut Trump untuk dianeksasi atau dibeli, menyusul Greenland, Kanada, Kuba, dan Panama. Hingga saat ini, pihak Gedung Putih belum memberikan rincian teknis mengenai rencana penyatuan tersebut akan dilaksanakan secara formal. (Fox/I-2)
| Indikator | Status Terkini (Mei 2026) |
|---|---|
| Estimasi Nilai Minyak | US$40 Triliun |
| Volume Ekspor April | >1 Juta Barel/Hari |
| Status Politik | Masa Transisi di bawah pengawasan AS |
Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Trump Ingin Venezuela Jadi Negara Bagian Ke-51 AS demi Minyak” pada 2026-05-12 23:05:00
