• May 6, 2026 6:56 am

Serangan Udara Rusia Tewaskan 20 Orang Menjelang Rencana Gencatan Senjata Sepihak

Serangan Udara Rusia Tewaskan 20 Orang Menjelang Rencana Gencatan Senjata Sepihak

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Menjelang perayaan Victory Day, serangan Rusia tewaskan 20 orang di Ukraina. Presiden Zelensky umumkan gencatan senjata terbuka mulai 6 Mei.(Media Sosial X)

GELOMBANG serangan Rusia menewaskan lebih dari 20 orang di berbagai wilayah Ukraina, Selasa (5/5), tepat sebelum pemberlakuan gencatan senjata sepihak yang diusulkan secara terpisah oleh Moskow dan Kyiv.

Otoritas di Zaporizhzhia melaporkan 12 orang tewas dalam serangan udara Rusia yang disebut Presiden Volodymyr Zelensky sebagai “serangan teroris yang sinis”. Selain itu, lima orang dilaporkan tewas di Kramatorsk dan empat lainnya di Dnipro. Sementara itu, pihak Rusia menyatakan dua orang tewas dan 32 lainnya luka-luka akibat serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina di Republik Chuvash pada Selasa pagi.

Dua Versi Gencatan Senjata

Kematian warga sipil ini terjadi di tengah diplomasi yang tumpang tindih. Rusia sebelumnya menyatakan akan melakukan gencatan senjata pada 8 dan 9 Mei untuk memperingati kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman. Moskow bahkan mengancam akan meluncurkan “serangan rudal masif” ke pusat kota Kyiv jika Ukraina melanggar gencatan senjata tersebut.

Namun, Kyiv mengambil langkah lebih awal dengan mengumumkan gencatan senjata terbuka tanpa batas waktu yang dimulai sejak tengah malam tanggal 6 Mei. Presiden Zelensky menegaskan bahwa Ukraina akan bertindak “secara simetris” sejak saat itu.

“Adalah sebuah sinisme murni ketika mereka meminta ketenangan demi mengadakan perayaan propaganda, namun meluncurkan serangan rudal dan drone setiap hari sebelumnya,” ujar Zelensky. Ia menambahkan bahwa bagi Ukraina, nyawa manusia jauh lebih berharga daripada perayaan hari jadi apa pun.

Serangan Balasan dan Ketegangan Victory Day

Menjelang tengah malam waktu gencatan senjatanya sendiri, Ukraina meluncurkan serangkaian serangan udara jauh ke wilayah Rusia. Pabrik komponen militer di Cheboksary, yang berjarak sekitar 1.500 km dari garis depan, menjadi salah satu target. Zelensky mengonfirmasi penggunaan rudal jelajah produksi dalam negeri, Flamingo, dalam serangan tersebut.

Di sisi lain, Kremlin menunjukkan tanda-tanda kegelisahan menjelang Victory Day pada 9 Mei. Acara utama di Lapangan Merah Moskow dilaporkan akan diperkecil skalanya karena adanya “ancaman teroris” dari Ukraina. Tidak akan ada perangkat militer berat yang dipamerkan, dan akses internet seluler di Moskow akan terganggu selama beberapa hari.

Langkah Diplomasi atau Strategi Perang?

Kepala Staf Zelensky, Kyrylo Budanov, menyatakan jika gencatan senjata Ukraina dibalas dengan hal serupa oleh Rusia, mereka akan terus mematuhinya. “Langkah selanjutnya ada di tangan Rusia,” tegasnya.

Zelensky menilai ketidakmampuan Rusia untuk mengadakan parade di Moskow tanpa “niat baik” dari gencatan senjata Ukraina merupakan sinyal bahwa kepemimpinan Rusia harus segera mengambil langkah nyata untuk mengakhiri perang.

Sejak invasi besar-besaran dimulai pada Februari 2022, ribuan warga sipil Ukraina telah menjadi korban. Meski kedua belah pihak kini mengusulkan gencatan senjata, sifatnya yang sepihak dan tanpa kesepakatan bersama membuat situasi di lapangan tetap sangat rapuh. (BBC/Z-2)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Serangan Udara Rusia Tewaskan 20 Orang Menjelang Rencana Gencatan Senjata Sepihak” pada 2026-05-06 06:35:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *