RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
MILITER Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara mematikan terhadap sebuah kapal di Samudra Pasifik bagian timur pada Minggu (8/3). Operasi ini menewaskan enam pria yang dituding terlibat dalam jaringan penyelundupan narkoba internasional.
Insiden ini menambah panjang daftar operasi serupa yang telah menewaskan lebih dari 150 orang sejak dimulai pada September lalu. Meskipun Washington mengklaim target-target tersebut adalah bagian dari sindikat perdagangan gelap, pihak otoritas sering kali tidak memberikan bukti rinci kepada publik terkait operasional kapal-kapal yang dihancurkan.
Komandan Komando Selatan AS (US Southern Command), Jenderal Francis Donovan, mengonfirmasi serangan tersebut melalui unggahan di platform X.
“Intelijen mengonfirmasi bahwa kapal tersebut sedang melintasi rute perdagangan narkoba yang telah diketahui di Pasifik Timur dan terlibat dalam operasi perdagangan narkoba,” tulis Donovan.
Kontroversi dan Kritik Internasional
Operasi militer ini bukannya tanpa hambatan. Gelombang kritik mulai bermunculan dari berbagai pihak yang menilai tindakan tersebut sebagai pembunuhan di luar hukum (extrajudicial killings). Tuduhan ini semakin kuat setelah beberapa pihak keluarga dan pemerintah negara asal korban mengklaim bahwa sebagian dari mereka yang tewas sebenarnya adalah nelayan tradisional, bukan anggota kartel.
Namun, pemerintahan Presiden Donald Trump tetap pada pendiriannya. Gedung Putih menegaskan bahwa saat ini Amerika Serikat sedang berada dalam status “perang” melawan apa yang mereka sebut sebagai “narko-teroris” yang beroperasi di wilayah Amerika Latin.
Klaim Keberhasilan Operasi
Di sisi lain, Pentagon menilai kampanye militer ini telah membuahkan hasil signifikan dalam memutus rantai pasokan narkotika dari Amerika Selatan. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, bahkan menyebutkan bahwa efektivitas operasi pengejaran ini membuat target di lapangan kini semakin sulit ditemukan.
“Kampanye untuk memburu kapal-kapal yang diduga membawa narkoba dari Amerika Selatan telah begitu sukses sehingga kini sulit untuk menemukan target,” ujar Hegseth pada Kamis lalu.
Hingga saat ini, militer AS terus mengintensifkan patroli di sepanjang rute perairan Pasifik Timur guna menekan arus masuk zat terlarang ke wilayah Amerika Utara, meskipun bayang-bayang kritik atas validitas target tetap menghantui operasi tersebut. (AFP/Z-2)
Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “6 Orang Diduga Sindikat Narkoba Tewas dalam Serangan Militer AS di Pasifik Timur” pada 2026-03-09 08:20:00
