RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
Jakarta (ANTARA) – Pendiri Telegram, Pavel Durov, dilaporkan tengah berada dalam penyelidikan pidana oleh pemerintah Rusia atas dugaan membantu aktivitas teroris.
Dilansir dari Engadget pada Selasa, sejumlah media milik negara Rusia menuduh Durov memungkinkan terjadinya serangan terhadap Rusia serta menjadikan Telegram sebagai alat intelijen bagi Ukraina dan negara-negara Barat.
Beberapa hari sebelumnya, Rusia memblokir akses ke Telegram di dalam negeri, bersama dengan WhatsApp. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya mendorong masyarakat beralih ke aplikasi milik negara yang tidak terenkripsi, Max.
Baca juga: Telegram ancam tinggalkan Prancis jika dipaksa beri akses “backdoor”
Baca juga: Simak lagi info soal fasilitasi startup, rencana moderasi Telegram
Pemblokiran Telegram menuai kritik dari sejumlah pihak pro-Rusia karena dinilai berdampak pada operasi di garis depan. Disebutkan bahwa tentara Rusia menggunakan aplikasi tersebut untuk berkomunikasi dan mengoordinasikan pergerakan.
Otoritas di wilayah dekat perbatasan Ukraina juga dilaporkan memanfaatkan Telegram untuk menyampaikan peringatan serangan drone dan rudal kepada warga. Bahkan, juru bicara Presiden Rusia disebut menggunakan Telegram untuk berkomunikasi dengan media.
Menurut laporan tersebut, Rusia menuding Telegram sebagai instrumen utama bagi “badan rahasia negara-negara NATO dan rezim Kyiv”.
Media pemerintah Rossiiskaya Gazeta menambahkan bahwa Telegram disebut menyadap data lokasi, menjual informasi rahasia, serta mengintimidasi tentara dan keluarga mereka. Laporan itu mengutip informasi dari Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB).
Durov hingga kini belum mengeluarkan pernyataan terbaru terkait penyelidikan tersebut. Namun, setelah pemblokiran Telegram, ia meyakini bahwa Rusia membatasi akses ke aplikasi itu untuk memaksa warganya menggunakan aplikasi yang dikendalikan negara tersebut dan dirancang untuk pengawasan serta sensor politik.
Durov yang lahir di Rusia juga merupakan salah satu pendiri jejaring sosial VK. Ia meninggalkan Rusia setelah mendapat tekanan dari Rusia untuk menjual kepemilikannya di perusahaan tersebut.
Baca juga: Investasi bodong mengintai, Pluang ungkap modus scam Telegram palsu
Baca juga: Penipu kripto asal China di Telegram picu pasar gelap terbesar
Baca juga: Telegram ancam tinggalkan Prancis jika dipaksa beri akses “backdoor”
Penerjemah: Farhan Arda Nugraha
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Artikel ini telah dimuat di www.antaranews.com dengan Judul “Pendiri Telegram diselidiki Rusia atas dugaan membantu teroris” pada 2026-02-24 22:01:00
