• February 11, 2026 9:55 am

KemenPPPA dorong maskulinitas positif lindungi anak laki-laki

KemenPPPA dorong maskulinitas positif lindungi anak laki-laki

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

…Tidak seharusnya ada pemisahan peran yang kaku antara anak laki-laki dan perempuan

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi mendorong maskulinitas positif yang sehat sehingga anak dan remaja laki-laki bisa mengekspresikan emosi dan menunjukkan empati.

“KemenPPPA mendorong adanya konsep maskulinitas positif yang sehat dimana anak dan remaja laki-laki perlu diajarkan untuk mengekspresikan emosi dan menunjukkan empati,” kata Menteri PPPA Arifah Fauzi di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, anak laki-laki juga membutuhkan penguatan mental dan emosional serta ruang aman untuk berani mengekspresikan perasaan dan mencari bantuan.

“Selama ini penguatan psikologis kerap lebih difokuskan kepada anak perempuan. Sementara anak laki-laki sering dipersepsikan sebagai pihak yang selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan kerentanan. Padahal, laki-laki juga manusia yang memiliki emosi dan berhak untuk merasa sedih, takut, serta membutuhkan dukungan dalam menghadapi masalah,” kata Arifah Fauzi.

Baca juga: Pekerja anak dan wajah baru kerentanan sosial

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPA), sepanjang tahun 2025 tercatat lebih dari 6.000 anak laki-laki menjadi korban kekerasan berbasis gender.

Sementara itu, Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) Tahun 2024 mencatat prevalensi kekerasan seksual terhadap anak laki-laki mencapai sekitar 8,34 persen, hampir sebanding dengan anak perempuan.

Data tersebut menunjukkan anak laki-laki juga rentan menjadi korban kekerasan di berbagai lingkungan, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas.

Namun, kuatnya stereotipe maskulinitas membuat banyak anak laki-laki memilih diam, enggan melapor, dan tidak mendapatkan penanganan yang semestinya, sehingga berdampak pada kesehatan mental dan berpotensi melanggengkan siklus kekerasan.

Baca juga: DPR nilai insiden siswa di NTT jadi alarm serius pemenuhan hak anak

Ia menilai stigma maskulinitas yang menuntut laki-laki untuk selalu mandiri dan menahan emosi justru berpotensi membebani anak laki-laki dan membuat mereka enggan berbagi cerita.

Akibatnya, banyak persoalan pribadi yang dipendam sendiri dan berisiko berdampak pada kesehatan mental serta perilaku sosial remaja.

“Tidak seharusnya ada pemisahan peran yang kaku antara anak laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki peran dan tanggung jawab yang setara dalam masyarakat, serta sama-sama berhak mendapatkan perlindungan, pendampingan, dan ruang dialog yang aman,” kata Menteri Arifatul Choiri Fauzi.

Baca juga: Pengawasan keluarga-literasi digital cegah anak terpapar radikalisme

Baca juga: Polisi diminta hukum berat pelaku kekerasan seksual ekstrem di Cilacap

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Artikel ini telah dimuat di www.antaranews.com dengan Judul “KemenPPPA dorong maskulinitas positif lindungi anak laki-laki” pada 2026-02-04 15:59:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *