• April 12, 2024 5:55 pm

CGTN: Tiongkok, Asia Tengah bertekad membangun komunitas yang lebih erat

CGTN: Diplomasi kepala negara tingkatkan hubungan China-Asia Tengah

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Beijing (ANTARA/PRNewswire)- Bukan kebetulan bahwa Xi’an terpilih sebagai tuan rumah konferensi yang mempertemukan kepala negara Tiongkok dan lima negara Asia Tengah sejak hubungan diplomatik terjalin 31 tahun lalu.

Lebih dari 2.100 tahun lalu, Zhang Qian, seorang utusan Dinasti Han, berkunjung ke Barat dari Chang’an, kini menjadi bagian dari Xi’an, Tiongkok Barat Laut. Kunjungan ini lalu membuka pintu persahabatan dan kerja sama antara Tiongkok dan Asia Tengah.

Menyampaikan sambutan di China-Central Asia Summit yang berlangsung di titik asal Jalur Sutra kuno, Jumat lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengenang persahabatan yang telah terjalin selama satu milenium, serta menilai hubungan ini telah membawa dinamika dan angin segar pada era yang baru.

Ketika menjelaskan langkah untuk membangun komunitas Tiongkok-Asia Tengah yang memiliki masa depan bersama, Xi menggarisbawahi pentingnya sikap saling mendukung, pembangunan bersama, serta menjunjung prinsip keamanan universal dan ikatan persahabatan jangka panjang.

KTT yang berlangsung dari Kamis hingga Jumat lalu ini dihadiri Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, Presiden Kyrgyzstan Sadyr Japarov, Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedov, serta Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev.

Dalam pertemuan atau perbincangan dengan Xi, pemimpin tersebut menyatakan optimisme dan tekadnya untuk mempererat kerja sama dengan Tiongkok, serta mendukung sejumlah inisiatif yang digagas Tiongkok seputar pembangunan, keamanan, dan peradaban dunia.

Mengarahkan kerja sama BRI

Asia Tengah juga menjadi titik awal Belt and Road Initiative (BRI) lewat sebuah paparan yang disampaikan di Nazarbayev University, Kazakhstan, pada September 2013. Dalam paparan ini, Xi pertama kalinya mengemukakan Silk Road Economic Belt. Satu bulan berselang, tepatnya di Indonesia, Xi menggagas pembangunan Maritime Silk Road abad ke-21.

“Pada dekade terakhir, Tiongkok dan negara-negara Asia Tengah bekerja sama untuk membangkitkan kembali Jalur Sutra dan giat mempererat kerja sama yang berorientasi pada masa depan, serta mengarahkan hubungan ini menuju era baru,” ujar Xi saat menyampaikan sambutan.

Dia juga memuji jalan raya Tiongkok-Kyrgyzstan-Uzbekistan, jalan tol Tiongkok-Tajikistan, jalur pipa minyak bumi mentah Tiongkok-Kazakhstan, serta Jalur Pipa Gas Alam Tiongkok-Asia Tengah sebagai Jalur Sutra masa kini, begitu pula dengan kereta kargo, truk kargo, serta penerbangan Tiongkok-Eropa sebagai karavan unta masa kini.

Selain bidang kerja sama konvensional, Tiongkok dan Asia Tengah juga harus membentuk motor penggerak pertumbuhan yang baru di sektor keuangan, pertanian, pengentasan kemiskinan, pembangunan hijau dan rendah karbon, layanan medis, kesehatan dan inovasi digital, seperti disampaikan Xi.

Perdagangan Tiongkok dengan kelima negara tersebut mencapai $70 miliar pada 2022, naik hingga 100 kali lipat sejak hubungan diplomatik pertama kali terjalin. Pada akhir Maret lalu, investasi asing langsung Tiongkok di pasar saham di Asia Tengah mencapai lebih dari $15 miliar, menurut Kementerian Perdagangan Tiongkok.

Bekerja sama melestarikan perdamaian

Setelah lima negara Asia Tengah mendeklarasikan kemerdekaan pada 1991, Tiongkok juga termasuk di antara negara pertama yang mengakui kedaulatan dan menjalin hubungan diplomatik. Sejak itu, Tiongkok dan negara-negara Asia Tengah berhasil membina kemitraan strategis.

Di KTT pada Jumat lalu, Xi menegaskan, kedaulatan, keamanan, kemandirian, dan integritas teritorial negara-negara Asia Tengah harus selalu dijunjung tinggi, dan jalur pembangunan yang dipilih rakyat di kelima negara tersebut harus dihormati. Sementara, upaya untuk melestarikan perdamaian, keselarasan, dan ketenangan harus didukung.

“Kita harus menerapkan Global Security Initiative, serta menentang campur tangan asing dalam urusan internal negara-negara regional atau menghasut revolusi untuk mengganti pemerintahan yang sah (color revolution),” tegas Xi.

Tiongkok dan Asia Tengah, menurut pemimpin Tiongkok tersebut, harus selalu menolak tiga poros, yakni terorisme, separatisme, dan ekstremisme, serta berupaya menyelesaikan isu keamanan di tingkat regional.

Mempererat dialog antara peradaban

Pada Kamis malam, para pemimpin negara ini menyaksikan pertunjukan seni. Pertunjukan seni ini menampilkan penari dengan kostum serdadu terakota yang mengikuti tabuhan drum, serta membuka tahun kebudayaan dan seni antara masyarakat Tiongkok dan Asia Tengah, serta festival kebudayaan pemuda Tiongkok-Asia Tengah.

Pegiat kebudayaan turut menyampaikan pesan persahabatan, sedangkan pebisnis menjajaki peluang usaha. Di sisi lain, tenaga kesehatan berjuang memberantas Covid-19, serta mahasiswa internasional yang tengah menempuh pendidikan menjadi duta masa kini, seperti disampaikan Xi, Jumat lalu.

Universitas Tiongkok juga terus merekrut berbagai mahasiswa asal Asia Tengah, membina sikap saling memahami dan kedekatan lewat pertukaran pemuda. Sebelum pandemi Covid-19, jumlah mahasiswa Asia Tengah yang berkuliah di Tiongkok mengalami pertumbuhan tahunan di atas 12% pada periode 2010 dan 2018.

Demi meningkatkan dialog antara peradaban, Tiongkok akan terus menyalurkan beasiswa pemerintah kepada negara-negara Asia Tengah, serta membuka layanan kereta khusus untuk pariwisata kebudayaan di Asia Tengah, menurut Xi.

“Kita perlu menerapkan Global Civilization Initiative, terus memupuk persahabatan, serta meningkatkan pertukaran antarwarga,” kata Xi.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Artikel ini telah dimuat di www.antaranews.com dengan Judul “CGTN: Tiongkok, Asia Tengah bertekad membangun komunitas yang lebih erat” pada 2023-05-25 12:35:56

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *