• June 24, 2024 5:27 am

Memaknai Cinta Kasih dalam Jihad

ByRedaksi PAKAR

Apr 11, 2023

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

BERJIHAD dan mati dalam keadaan syahid sering kali disalahartikan dan memunculkan aksi terorisme. Hal ini didasarkan pada penyelewengan tafsir terhadap sumber-sumber yang ada dalam Al-Qur’an.

Habib Husein Ja’far Al Hadar menjelaskan, penyelewengan ini disesuaikan dengan ego dari orang yang menafsirkannya sehingga ketika ego mengusasi seseorang, Al-Qur’an bisa ditafsirkan sesuai egonya dia.

“Karena itu, bukan dia membaca Al-Qur’an, tetapi memperdaya Al-Qur’an dan memanfaatkan Tuhan untuk kepentingan dia. Karena itu, hal ini bukan lagi beragama, tapi memanipulasi agama. Kenapa? Karena hanya agama yang bisa membuat orang mau mati. Makanya doktrin terorisme ialah agama yang untuk memantik egoisme,” ungkapnya dalam Podcast LoginDiCloseTheDor, Minggu (9/4) malam.

Menurutnya, jihad dalam Al-Qur’an merupakan upaya sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu secara konsisten. Jihad dalam Islam baik di Al-Qur’an dan hadis itu fi sabilillah, di jalan Allah, karena Allah, dan untuk Allah. Hal inilah yang diajarkan.

“Karena Allah itu mahacinta sehingga jihad itu doktrin tentang cinta kasih sebenarnya. Makanya jihad itu dalam Al-Qur’an ada paling tidak 6 kata jihad dengan segala turunannya yang juga turun di Mekah. Di Mekah juga belum pernah ada peperangan dalam Islam. Artinya jihad itu tidak mesti perang,” tuturnya.

“Bahkan Nabi Muhammad itu 23 tahun sebagai Nabi dan Rasulullah dari umur 40 tahun, hanya 80 hari berperang. Sebanyak 99% tidak digunakan untuk berperang. Semua hidup beliau juga dikatakan jihad, upaya sungguh-sungguh secara konsisten untuk berada di jalan Allah, untuk Allah, dan karena Allah,” sambung Habib Ja’far.

 

Jihad

Dalam Al-Qur’an, terdapat jihad ijtima’i atau jihad sosial. Surat Al-Hujurat ayat 13 berbicara tentang jihad sosial, yaitu mempersaudarakan orang-orang yang berbeda dalam satu kegotongroyongan. Hal ini sangat sesuai dengan nilai Indonesia. Selain itu, ada juga jihad tarbawi atau perang melawan kebodohan, lalu jihad iqtishodi atau perang melawan ketimpangan sosial dan kemiskinan yang sifatnya struktural.

Habi Ja’far menekankan jihad peperangan dalam islam hanya untuk defensif sehingga rumah ibadah dan orang-orang yang ada di dalamnya termasuk tokoh agama dilindungi dalam perang di Islam. Dalam Islam perang itu digunakan sebagai pilihan terakhir untuk membela diri. Jika bisa dilakukan jalan lain, perang tidak akan dilalukan. Hal ini juga dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam Perjanjian Hudaibiyah. “Itu perjanjian sangat tidak menguntungkan umat Islam, tapi Nabi Muhammad mengambil langkah itu agar tidak terjadi peperangan,” ujarnya.

Sementara itu, terkait mati syahid, Habib Ja’far menjelaskan dalam riwayat Imam Ahmad, mati syahid merupakan mati dalam keadaan dibunuh dalam peperangan atau mati di jalan Allah. Menurutnya, tindakan terorisme bukan merupakan mati syahid, tapi tindak kejahatan.

Habib Ja’far menilai bahwa jihad itu bukan tentang bagaimana seseorang mati, tapi bagaimana seseorang hidup. Orang yang hidup dalam kebaikan akan mati dalam keadaan baik. Sebalikanya, orang yang hidup dalam kejahatan meskipun dia dibunuh akan mati dalam keadaan hancur berantakan. (H-2)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Memaknai Cinta Kasih dalam Jihad” pada 2023-04-11 06:10:22

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *