• July 24, 2024 6:14 pm

BNPT: 45,45 Persen Napiter Teradikalisasi dengan Alasan Ideologi

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

KASUBDIT Bina Masyarakat Direktorat Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Sujatmiko mengatakan bahwa persentase paling tinggi, yakni sebesar 45,45%, tentang mengapa narapidana terorisme melakukan tindak pidana terorisme (proses radikalisasi) dilatarbelakangi alasan ideologi.

 

“Berdasarkan hasil penelitian terhadap napiter di Indonesia, persentase paling tinggi mengapa napiter melakukan tindak pidana terorisme (proses radikalisasi) sebanyak 45,45% ialah karena alasan ideologi,” ujar Sujatmiko seperti dikutip Antara di Jakarta, Sabtu (8/4).

 

Pernyataan tersebut ia sampaikan ketika memaparkan empat poin penting tentang proses radikalisasi, bentuk radikalisasi, alasan terjadinya radikalisasi, dan indikator radikalisasi.

 

“Kita sering menyamakan ideologi itu dengan wahyu Ilahi, padahal wahyu Ilahi sangat agung, sangat tinggi, dan wahyu Ilahi tidak hanya mengenai Islam saja. Jangan sampai memiliki pemikiran yang berbeda, lalu merasa benar sendiri, dan menjadi eksklusif,” ucapnya.

 

Lebih lanjut, terkait dengan proses radikalisasi, Sujatmiko menyampaikan proses radikalisasi di Republik Indonesia sampai sekarang masih berjalan.

Baca juga: Peringati Nuzulul Quran, Temanggung Gelar Khataman

 

Ciri-ciri proses radikalisasi antara lain anti-ideologi negara atau Pancasila, anti-NKRI, anti-Bhinneka Tunggal Ika, dan anti-UUD 1945.

 

“Radikalisasi tersebut berbentuk intoleran, mengusung kekerasan, dan mengafirkan orang lain,” tutur Sujatmiko ketika mengungkapkan bentuk radikalisasi.

 

Mengenai indikator proses radikalisasi, Sujatmiko merujuk pada ajaran agama yang distorsi dan pengetahuan agama yang dangkal.

 

“Radikalisasi yang selama ini terjadi ditandai dengan agama didistorsi dan dimanipulasi untuk kepentingan kelompok dan kepentingan politik. Tidak ada kejahatan yang luar biasa, selain mendistorsi dan memanipulasi agama yang menimbulkan kerusakan,” ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa bukan agama yang salah, melainkan orang yang mendistorsi atau memanipulasi agama.

 

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam silaturahim sambil berbuka puasa bersama dengan mitra deradikalisasi atau mantan narapidana kasus terorisme (napiter) di Palembang, Sumatra Selatan, Jumat (7/4).

 

Kegiatan ini dihadiri oleh 16 mitra deradikalisasi yang merupakan mantan napiter yang telah kembali ke tengah-tengah masyarakat. (Ant/I-2)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “BNPT: 45,45 Persen Napiter Teradikalisasi dengan Alasan Ideologi” pada 2023-04-09 15:52:44

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *