Past Events

1st Webinar – Ancaman Terorisme Terhadap Pemerintah China, WN China dan Etnis Tionghoa

Pada tanggal 1 Juni 2020 pukul 14.00-16.00 WIB Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR) mengadakan diskusi online dengan topik “Ancaman Terorisme Terhadap Pemerintah, Warga China dan Etnis Tionghoa di Indonesia”.

Diskusi ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan menghadirkan dua narasumber, yaitu Mohd Adhe Bakti (Direktur Eksekutif PAKAR) dan Sofyan Tsaury (Mantan Napi Teroris Jaringan Al Qaeda dan Pengamat Terorisme). Peserta diskusi ini berasal dari berbagai kalangan, seperti aktivis sosial, peneliti, akademisi dan pejabat pemerintah.

Adhe Bakti dalam paparannya menyampaikan bahwa pasca merebaknya Pandemi Covid-19 di Indonesia, Etnis Tionghoa dan Warga Negara China menjadi target dari kelompok teroris. Namun menurut  Adhe Bhakti, ancaman atau serangan terhadap warga China ini bukanlah yang pertama muncul sebab sejak 1999 kelompok teroris juga sudah menyasar warga dan kepentingan bisnis etnis Tionghoa.

Adhe Bhakti mencatat beberapa serangan tersebut. Misalnya, serangan bom terhadap Plaza Hayam Wuruk di Jalan Gajah Mada Jakarta pada 15 April 1999. Pelaku peledakan ini adalah Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN) Pimpinan Eddy Ranto. “Batalion AMIN ini adalah sempalan dari Negara Islam Indonesia (NII). Kenapa Plaza Hayam Wuruk yang diserang? “Karena banyak warga China dan kepentingan China di plaza tersebut,” jelas Adhe Bhakti.

Serangan terhadap warga Tionghoa selanjutnya adalah perampokan (fai) toko Emas Elita Indah di Serang pada 22 Agustus 2002. Pemilik toko emas ini berasal dari etnis Tionghoa, sedangkan pelakunya adalah empat orang suruhan Imam Samudra (salah satu pelaku utama Bom Bali I).

Selain sebagai sasaran serangan teroris, etnis Tionghoa di Indonesia juga ada yang menjadi pelaku teror. Mereka adalah Anwar Effendi alias Alung alias Bagus (membantu Abu Tholut memindahkan senjata api dan amunisi), Nang Kung alias Ridwan alias Iwan Cina (perampokan atau Fai Bank CIMB Niaga Medan), dan empat warga Uighur yang berencana membunuh Ahok serta bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia Timur.

Adhe Bhakti dan Sofyan Tsauri memaparkan salah satu latar belakang serangan terhadap etnis Tionghoa, yaitu adanya kecemburuan sosial dan ekonomi terhadap etnis Tionghoa. Kelompok teroris iri terhadap kemajuan ekonomi yang dicapai oleh etnis Tionghoa di Indonesia ditengah kemiskinan yang dialami oleh sebagian besar anggota-anggota kelompok teroris. Menurut Sofyan meski secara kuantitas warga Tioghoa hanya sekitar 2,5 persen aka ntetapi secara ekonomi mereka menguasai hampir 75 perekonomian di Indonesia.

Adhe Bhakti menambahkan, motif balas dendam dan Krisis Muslim Rohingya di Myanmar juga melatarbelakangi ancaman serangan ini. Menurut Adhe Bhakti, agama yang dianut oleh pelaku represi terhadap kaum Muslim Rohingnya kebetulan sama dengan agama yang dianut oleh sebagian etnis Tionghoa di Indonesia, yaitu agama Budha. Oleh karena itu, kelompok teroris di Indonesia menyasar vihara yang tempat ibadah etnis Tionghoa.

Selain itu, perlakuan semena-mena pemerintah China terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, China juga memotivasi kelompok teroris untuk menyasar kepentingan pemerintah China, Warga Negara China dan etnis Tionghoa di Indonesia. Isu Uighur ini seringkali dijadikan justifikasi bagi kelompok radikal dan teroris untuk melakukan kekerasan terhadap etnis Tionghoa dan Warga Negara China di Indonesia.

Latar belakang berikutnya adalah isu penistaan agama dan Pilkada DKI Jakarta. Isu penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahja Purnama (Ahok) membuat sentimen rasial terhadap etnis Tionghoa memanas terutama saat kontestasi Pilkada DKI Jakarta pada tahun 2016-2017 lalu. Hal ini terjadi karena Ahok berasal dari etnis Tionghoa. Saat itu, kelompok pendukung Islamic State pimpinan Bahrun Naim dan kelompok Hawariyyun berencana membunuh Ahok dan membuat kerusuhan di Jakarta.

Terakhir, Adhe Bhakti mendorong pemerintah Indonesia untuk transparan terkait isu pekerja asing China di Indonesia sebab isu ini juga bisa menjadi alasan kelompok teroris menculik pekerja China dan menyerang etnis Tionghoa.

Narasumber kedua, Sofyan Tsauri, menyetujui pendapat ini. Sofyan menambahkan bahwa kelompok teroris siap menyerang warga China di Indonesia sebagai bentuk balas dendam atas penindasan yang dilakukan oleh pemerintah China terhadap umat Islam di Xinjiang.

Sofyan Tsauri juga menyatakan bahwa motif ideologi juga menjadi dasar ancaman serangan terhadap pemerintah China, Warga Negara China dan etnis Tionghoa. Kelompok teroris menganggap mereka ini kafir dan penindas kaum Muslimin. Bagi kelompok teroris, memerangi mereka merupakan bagian dari jihad.

Sofyan menyarankan agar pemerintah mewaspadai ancaman serangan terhadap pemerintah China, Warga Negara China dan etnis Tionghoa di Sulawesi, Sumatra dan Jawa Barat mengingat masifnya pembicaraan mengenai serangan kepada mereka oleh kelompok radikal dan teroris di media sosial pada saat ini.

Sofyan juga mendorong warga dan pengusaha Tionghoa untuk lebih membuka diri dan memberikan bantuan kepada umat Islam, diantaranya dengan menyalurkan bantuan program Corporate Social Responsibility kepada umat Islam. “Bantuan itu sebaiknya diumumkan kepada publik. Hal itu diperlukan untuk mengurangi sentimen negatif terhadap mereka,” tegasnya.

Media luar negeri, South Morning China Post, turut meliput webinar ini. Liputan media tersebut dapat dibaca di sini.

Ruangobrol.id, sebuah platform kampanye penanggulangan extremisme melalui media sosial, juga meliput webinar ini.  Bagian pertama liputan media tersebut dapat dibaca di sini, sedangkan bagian duanya dapat di baca di sini.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like