• August 15, 2022 2:32 am

DESA berdikari Pancasila. Itulah tema yang didiskusikan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang kebetulan saya diundang menjadi salah satu narasumber bersama budayawan kondang Dr Zastrow Al-Ngatawi dan Dr Budi Santoso, seorang ahli madya Badan Pusat Statistik.

Sebelum memasuki diskusi, Direktur Jaringan dan Pembudayaan BPIP Dr Irene Camelyn Sinaga memaparkan idenya bahwa Desa berdikari Pancasila diambil dari berdikari versi Bung Karno, yang artinya ialah trisakti; berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Karena itu, Irene mengandaikan desa berdikari merupakan desa yang berdikari dalam ekonomi dan kebudayaan.

Diperkuat oleh seorang pejabat BPIP Galuh Ibrahim, bahwa harus ada indikator-indikator desa yang dapat dimasukkan ke kategori Desa berdikari Pancasila. Ir Prakoso, Deputi Bidang Hubungan Antarlembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan, menegaskan bahwa desa berdikari yang kita inginkan bersama ialah desa yang sesuai dengan patok-patok NKRI yang kuat. Boleh dibilang desa berdikari merupakan NKRI kecil. Ibarat desa itu sel atau ion, nano, sebagai spesies terkecil harus sama dengan organ besar.

Budayawan kondang Zastrow mencoba memberikan definisi bahwa desa berdikari merupakan suatu desa yang mampu memiliki kemampuan mencukupi dan memenuhi ekonomi dasar masyarakatnya, memahami, dan menjalani kebudayaan dan tradisi desa tersebut, memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan politik, kemampuan untuk menjaga dan mengelola lingkungan/alam, serta adanya sarana-prasarana sosial yang mencukupi bagi masyarakat sebagai representasi dari Pancasila. Satu kesatuan konsep.

 

Akar desa berdikari

Desa berdikari yang sesuai dengan konsep trisakti Bung Karno dan berbagai pakar Pancasila, menurut saya, sejatinya terdapat akar-akar yang kukuh dalam local wisdom (kearifan lokal), local genius (kecerdasan lokal), dan pandangan hidup yang living (dihidupkan) di tengah masyarakat perdesaan di seluruh daerah yang ada di Indonesia dari dulu hingga sekarang. Itu karena, kata Bung Karno, Pancasila digali dari nilai-nilai luhur bangsa, jati diri bangsa, dan kebudayaan bangsa Indonesia.

Dalam ujaran yang berkembang di desa-desa yang ada di Jawa Tengah, misalkan, terdapat ujaran tradisional aja lumuh ing gawe (jangan enggan/malas bekerja), sekuat-kuate pager wesi, masih kuat pagere ati (sekuat-kuatnya pagar besi, lebih kuat pagar hati), sekuat-kuate pager tembok, masih kuat pagere mangkok (sekuat-kuatnya pagar tembok/beton, lebih kuat pagar mangkuk/piring wadah makan dan minum). Dalam ujaran tersebut, terdapat nilai-nilai mulia, yaitu etos kerja, kemandirian, kebulatan tekad untuk mencintai dan mempertahankan bangsa, serta pentingnya kebutuhan pokok, khususnya pangan, yang semua itu mencerminkan desa berdikari.

Di Jawa Barat, terdapat ujaran tradisional teu gusik bulu salambar (tidak kusut bulu selembar). Artinya, pendirian yang kukuh, tidak goyah sedikit pun. Ulah asa gede gunung pananggeuhan (jangan merasa besar gunung penyandaran), artinya jangan mengandalkan suatu kekuatan kepada orang lain. Ulah cincang nangkaeun (jangan cincang seperti pohon nangka), artinya jangan menunda pekerjaan yang belum selesai.

 

Di Jawa Timur terdapat ujaran tradisional holopis kuntul baris

(holopis bangau berbaris), artinya dengan bergotong royong dapat diselesaikan pekerjaan yang berat. Tiyang estri sagede ayem, tiyang jaler lek nyambut gawe

(seorang perempuan dapat hidup tenteram, orang laki-laki jika bekerja), artinya dalam kehidupan rumah tangga, istri akan tenteram jika suami bekerja.

Di Bali, terdapat ujaran tradisional yeh ngetel nyidaang ngesongin batu (air jatuh berintik lama-kelamaan sanggup juga melubangi batu), artinya kesabaran, kesungguhan, dan kerja keras serta pantang mundur akan meraih kesuksesan. Di Kalimantan Selatan, terdapat ujaran tradisional tahu makan ha kayu ular pampaut (tahu makan saja seperti ulat pampaut), artinya tahunya hanya memakan pemberian orang saja seperti ular pampaut, yang mengandung anjuran untuk semua orang agar suka bekerja keras dan jangan sekali-kali mengharap belas kasihan orang lain.

Di Cirebon, terdapat ujaran tradisional endas digawe sikil, sikil digawe endas (kepala dibuat kaki, kaki dibuat kepala), artinya untuk mengatasi kesulitan dan memenuhi kebutuhan seseorang harus bekerja keras tanpa mengenal waktu. Di Jakarta, Betawi, terdapat ujaran tradisional dikit-dikit lame-lame jadi bukit (sedikit demi sedikit lama-kelamaan menjadi bukit), artinya dalam bekerja harus disertai dengan kerajinan, ketekunan, dan keuletan.

Ujaran-ujaran tradisional itu juga terdapat di daerah-daerah lain dengan pepatah dan ungkapan yang berbeda. Dengan begitu, sejatinya desa berdikari terdapat akar-akar yang kukuh dalam cara pandang dan filosofi hidup masyarakat Indonesia.

 

Replika kota kecil

Desa berdikari tentu saja menuju desa ideal. Dalam khazanah fikih klasik Islam, desa berdikari merupakan desa yang sudah mirip kota atau replika kota. Di dalamnya terdapat unsur-unsur yang relatif komprehensif, yaitu adanya pasar sebagai aktivitas ekonomi warganya, sawah/ladang atau jasa yang juga sebagai aktivitas ekonomi, terdapat berbagai kebutuhan publik (fasilitas, sarana-prasarana, seperti tempat ibadah, keamanan, akses, lapangan olahraga), kebudayaan dan tradisi, SDM dan SDA yang dikelola secara berkelanjutan, serta adanya unit terkecil dari kepemerintahan. Desa yang semacam itu disebut dengan al-mashr atau al-amshar, kata jamak/plural dari al-mashr, yang lebih maju dari desa yang disebut dengan qaryah.

Karena keberadaannya relatif komprehensif, desa tersebut dapat survive dari semua tekanan, ancaman, dan bencana. Punya kemampuan mengelola apa yang ada, eksplorasi. Kemampuan untuk negosiasi dan bargaining dengan desa atau daerah lain. Tentu saja desa berdikari dalam konteks kekinian harus ada unsur adanya aktivitas ekonomi berbasis digital. Warganya melek digital sehingga dapat memanfaatkan berbagai media sosial dan lapak bisnis yang tersedia di internet.

Belakangan, saya melihat di Desa Tegalgubug, Arjawinangun, Cirebon, anak-anak milenialnya sudah menggunakan lapak dagangan di internet dan memanfaatkan media sosial secara maksimal untuk aktivitas bisnis. Aktivitas bisnis tersebut tak terbatas transaksi secara offline dan manual. Ketika saya bertanya kepada keponakan ‘kerja apa sekarang?’, ia menjawab, “Onlenan, Mang!” Maksudnya onlenan itu ialah berdagang di media sosial dan lapak yang ada di internet.

Ternyata di lapangan membuktikan bahwa onlenan itu prospektif, membuahkan hasil yang baik. Banyak yang dari onlenan dapat mencukupi kebutuhan primer, sekunder, dan bahkan tersier. Onlenan merupakan pasar besar nan luas, dapat melintasi batas semua desa, wilayah, negara, dan bahkan benua. Semua warga dunia ialah pangsa pasarnya. Dengan terbukanya akses jaringan internet, ada harapan pemerataan ekonomi bagi warga desa yang tidak kalah dengan warga kota. Didukung dengan akses jalan, seperti tersambungnya dari desa ke desa lain melalui tol, terbuka akses barang dan jasa.

Karena itu, jaringan internet saat ini merupakan kebutuhan primer bagi seluruh warga desa yang ada di Indonesia. Pemerintah berkewajiban membangun secara masif dan menyeluruh agar seluruh warga Indonesia di mana pun memiliki akses internet dengan mudah. Hal itu yang disebut Presiden Jokowi sebagai tol langit. Kesadaran untuk memiliki akses internet itu muncul secara membahana ketika kebutuhan sekolah via daring lantaran sekolah ditutup karena korona. Kebutuhan untuk mengedukasi warga desa tentang pentingnya internet untuk bisnis dan edukasi pun harus diarusutamakan.

Tentu saja desa berdikari merupakan desa yang warganya memegang teguh ideologi bangsa. Mengutip perkataan Al-Syekh Rifa’ah al-Tahthawi, bahwa jika ingin membangun sebuah desa, syarat mutlaknya ialah semua warga wajib mencintainya. Apalagi belakangan terdapat gerakan-gerakan kekerasan, ekstremisme, dan terorisme yang sudah merambah ke desa-desa, bukan lagi fenomena kaum urban. Karena itu, harus digalakkan dan dibangkitkan kembali kecintaan warga desa terhadap Tanah Air dan diperkenalkan kontra narasi ekstremisme di desa-desa.

Terdapat banyak wejangan, kecerdasan lokal, dan pandangan hidup di desa-desa yang sinergi dengan pandangan keagamaan moderat, toleran, dan hub al-wathan yang mengandung spirit cinta tanah air sebagai modal utama dalam menjaga dan memeliharanya. Menurut Ibnu Khaldun, bapak sosiolog muslim, naluri dan ta’ashubiyah (fanatisme) kedaerahan warga desa lebih kuat dan besar jika dibandingkan dengan warga kota.

Patriotisme dan keberanian untuk memegang prinsip dan kebenaran pun, warga desa lebih kuat jika dibadingkan dengan warga kota. Hal itu lantaran warga desa memiliki sedikit keinginan. Sementara itu, warga kota atau urban mempunyai banyak keinginan yang dapat melonggarkan prinsipnya dan tempat berkumpulnya banyak manusia dari berbagai daerah serta bertemunya berbagai arus politik dan kepentingan.

Jika menggunakan perspektif Ibnu Khaldun tersebut, terwujudnya negara yang berdikari harus memulainya dari desa berdikari. Pembangunan desa harus diarusutamakan sebab sejatinya desa jauh lebih banyak dan jauh lebih luas jika dibandingkan dengan wilayah perkotaan. Dalam perspektif Ibnu Khladun, bahwa desa berdikari merupakan replika kota yang penduduknya bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan dasar, yaitu sandang, pangan, dan papan ansich, melainkan juga dapat memenuhi kebutuhan sekunder, tersier, dan kesempurnaan hidup.


Sumber: Media Indonesia | Desa Berdikari

Leave a Reply

Your email address will not be published.