• October 18, 2026 9:24 am

Pakar: Gim daring bukan pemicu radikalisasi, soroti kerentanan fitur

Pakar: Gim daring bukan pemicu radikalisasi, soroti kerentanan fitur

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Jakarta (ANTARA) – Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI) Angel Damayanti menilai gim daring pada dasarnya bukan pemicu utama radikalisasi, tetapi kerentanan fitur di dalamnya yang kerap disalahgunakan.

“Game online bukanlah penyebab langsung terjadinya radikalisme karena kebanyakan pemain tidak memiliki hubungan dengan ekstremisme. Risiko muncul ketika media ini dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, dan merekrut individu yang rentan seperti remaja dan anak muda,” kata Angel dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

Menurut Peneliti Senior pada Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI itu, kerentanan tersebut dipicu oleh interaksi sosial berulang yang membangun ikatan emosional, identitas anonim serta keleluasaan pemain dalam merancang skenario atau simbol permainan.

Pemanfaatan gim daring oleh kelompok radikal sebenarnya telah terdeteksi sejak dekade 1980-an hingga akhirnya berkembang pesat pada era digital saat ini.

Rektor UKI periode 2026-2030 itu mengungkapkan pada 2014, ISIS mulai menggunakan permainan daring seperti Call of Duty untuk mendapatkan perhatian masyarakat luas dan memulai propagandanya.

Risiko gim daring menjadi semakin besar ketika sejak 2020 permainan dapat dikustomisasi.

“Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi adanya pola rekrutmen di mana anak-anak muda diarahkan dari platform gim menuju grup pesan tertutup seperti WhatsApp atau Telegram untuk komunikasi yang lebih intensif,” ungkapnya.

Ia mengatakan secara khusus, jenis gim yang terbuka dan bisa diakses secara bebas oleh berbagai tingkatan usia, mengagungkan simulasi militer atau peperangan serta memungkinkan pembuatan konten sendiri menjadi sarana yang paling rentan disusupi.

Menghadapi ancaman tersebut, kontranarasi dan perlindungan di tingkat keluarga menjadi fondasi utama. Orang tua dituntut aktif mengenali gim yang dimainkan anak, membuat aturan penggunaan perangkat digital, mengaktifkan fitur keselamatan serta membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi.

Angel juga menekankan urgensi peran keluarga dengan menyatakan bahwa penting bagi orang tua untuk memperhatikan perubahan mendadak seperti anak mulai mengisolasi diri, munculnya kebencian intens terhadap kelompok tertentu atau keterlibatan dalam komunitas yang memuja kekerasan.

Di tingkat kebijakan publik, penanganan radikalisasi digital memerlukan sinergi menyeluruh antara pemerintah, aparat, dan masyarakat. Pendekatan yang diambil tidak lagi sekadar berfokus pada pemblokiran konten, melainkan pada tata kelola keamanan digital yang berbasis risiko.

Ia menjelaskan gim daring tidak dapat dipandang sebagai ancaman secara serta merta. Gim daring adalah ruang sosial dan teknologi yang memiliki manfaat, tetapi fitur-fiturnya dapat disalahgunakan oleh kelompok ekstremis.

Ia menggarisbawahi perlunya aksi nyata dari pemerintah bersama BNPT, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) serta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).

“Di samping itu, pendekatan Indonesia harus bergerak dari sekadar pemblokiran konten menuju tata kelola keamanan digital yang berbasis risiko. Tata kelola tersebut harus berlandaskan prinsip whole of government dan whole of society,” ungkap Angel.

Ia mengusulkan agar langkah konkret penilaian risiko fitur komunikasi oleh Kemkomdigi, pembentukan mekanisme koordinasi penanganan ancaman antara BNPT, Kemkomdigi, dan Polri serta pengembangan deteksi dini berbasis teknologi dan analisis manusia.

Selain itu, edukasi mengenai literasi gim perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pembelajaran bersama Kemendikdasmen untuk memperkuat ketahanan digital anak.

Penyusunan basis data risiko yang terukur oleh BNPT bersama perguruan tinggi serta penjalinan kerja sama internasional dengan penyedia gim global juga menjadi krusial.

“Melalui kombinasi pencegahan di tingkat keluarga, literasi digital, dan regulasi yang kolaboratif, ekosistem gim daring di Indonesia dapat tetap aman serta terbebas dari bahaya intoleransi dan terorisme,” ujar Angel.

Baca juga: BNPT: Perubahan pola pendanaan terorisme tuntut kewaspadaan semua

Baca juga: BNPT soroti 620 anak terpapar radikalisme dan paham kekerasan

Pewarta: Benardy Ferdiansyah
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Artikel ini telah dimuat di www.antaranews.com dengan Judul “Pakar: Gim daring bukan pemicu radikalisasi, soroti kerentanan fitur” pada 2026-10-18 08:57:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *