RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
MENTERI Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, menyatakan bahwa negaranya tengah menghadapi skenario serangan hibrida setelah pihak kepolisian dan ahli keamanan menemukan serta menjinakkan satu drone bermuatan bahan peledak di Bandara Leipzig/Halle, negara bagian Saxony.
Dalam keterangannya kepada wartawan di lokasi kejadian pada Rabu (5/8) malam, Dobrindt menegaskan bahwa insiden ini merupakan bentuk ancaman profesional. Meski tidak secara spesifik menunjuk negara tertentu sebagai dalang, ia menyebut situasi ini sebagai ancaman hibrida yang sangat serius.
“Fakta bahwa suatu drone bersenjata peledak berada di area bandara mewakili skenario ancaman baru bagi kami,” ujar Dobrindt dengan raut wajah serius, didampingi sejumlah pejabat keamanan negara.
Kronologi Penemuan dan Detail Ancaman
Drone tersebut ditemukan pada Selasa tengah malam, terbang di antara dua pesawat angkut milik maskapai negara Ukraina, Antonov. Berdasarkan rekaman CCTV bandara, perangkat tersebut diketahui memasuki wilayah bandara sejak pukul 19.00 waktu setempat dari arah selatan.
Laporan menyebutkan drone itu membawa bahan peledak seukuran kepalan tangan, yang diduga kuat merupakan jenis Semtex. Insiden ini juga berdampak pada operasional penerbangan lain. Pesawat DHL dilaporkan menabrak objek tak dikenal saat lepas landas di tengah penutupan mendadak bandara, menyebabkan kerusakan pada bagian hidung pesawat sehingga harus dialihkan ke Hannover.
Kaitan dengan Konflik Rusia-Ukraina
Para ahli keamanan dan intelijen Jerman mulai mempertanyakan apakah Jerman secara de facto telah terlibat dalam perang hibrida. Fokus kecurigaan mengarah kuat ke Rusia, mengingat Bandara Leipzig merupakan hub utama bagi pengiriman bantuan militer ke Ukraina serta pusat logistik DHL.
Joachim Krause, pakar keamanan dari Institute for Security Policy di Universitas Kiel, menilai insiden ini sebagai eskalasi nyata dari Rusia. “Kita sedang mengalami eskalasi perang oleh Rusia yang kini secara jelas menargetkan warga Eropa yang memberikan bantuan militer kepada Ukraina,” kata Krause kepada Newsweek.
Ia menambahkan bahwa Rusia tengah menjalankan perang non-linear yang dimulai dari metode politik, kekerasan tersembunyi, hingga potensi kekerasan terbuka untuk mencapai tujuan Vladimir Putin.
Kelemahan Pertahanan Jerman
Insiden itu juga menyoroti kerentanan Jerman dalam menghadapi teknologi drone. Krause mengkritik bahwa Jerman sangat tidak siap, baik dari segi yurisdiksi koordinasi antarkepolisian dan militer (Bundeswehr), maupun kurangnya kapabilitas teknis.
“Tidak ada yang berani menembak jatuh drone karena takut akan kerusakan kolateral. Hal ini menciptakan kesan ketidakberdayaan di mata Rusia, yang justru memicu serangan lebih lanjut,” tegasnya.
Catatan Keamanan: Jerman mencatat lebih dari 1.000 penerbangan drone mencurigakan sepanjang tahun 2025. Namun, temuan di Leipzig ini dianggap sebagai insiden paling berbahaya karena melibatkan bahan peledak aktif di infrastruktur vital.
Selain Rusia, keterlibatan Tiongkok juga menjadi perhatian menyusul vonis mata-mata terhadap warga negara itu, Yaqi Xiao, pada tahun 2025 yang terbukti mengumpulkan data jadwal penerbangan dan kargo militer di bandara yang sama. Juergen Kremb, ahli intelijen Tiongkok, menyebut insiden ini sebagai bentuk terorisme negara yang sangat mengkhawatirkan bagi kedaulatan Jerman.
Hingga berita ini diturunkan, Kedutaan Besar Rusia di Berlin belum memberikan tanggapan resmi. Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS menyatakan telah menjalin komunikasi erat dengan otoritas Jerman untuk memantau perkembangan investigasi tersebut. (I-2)
Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Drone Peledak di Bandara Leipzig, Jerman Waspadai Serangan Hibrida Rusia” pada 2026-08-07 17:31:00
