RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
DUNIA militer dan pertahanan Indonesia berduka atas berpulangnya Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu, sosok prajurit sejati yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mantan Menteri Pertahanan dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini dikenal sebagai figur yang tegas, lugas, dan memiliki komitmen tanpa kompromi terhadap ideologi Pancasila.
Lahir di Palembang, Sumatra Selatan, Ryamizard merupakan putra dari tokoh militer legendaris Mayjen TNI Musannif Ryacudu. Darah prajurit yang mengalir di tubuhnya membentuk karakter kepemimpinan yang kuat sejak ia menempuh pendidikan di Akademi Militer (Akmil) dan lulus pada tahun 1974. Kariernya melesat di jalur tempur, mulai dari komandan pasukan di lapangan hingga menduduki posisi strategis sebagai Pangdam Jaya dan Panglima Kostrad.
Puncak karier militernya tercapai saat ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada periode 2002-2005. Di masa kepemimpinannya, ia dikenal sangat memperhatikan kesejahteraan prajurit dan penguatan doktrin pertahanan rakyat semesta. Namanya sempat mencuat sebagai calon Panglima TNI, namun dinamika politik saat itu membawanya ke pengabdian yang berbeda.
Pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo periode pertama (2014-2019), Ryamizard dipercaya mengemban amanah sebagai Menteri Pertahanan. Di posisi ini, ia melahirkan gagasan besar mengenai kesadaran “Bela Negara”. Baginya, pertahanan negara bukan hanya urusan senjata dan militer, melainkan tanggung jawab seluruh warga negara untuk mencintai dan menjaga tanah air dari ancaman ideologi asing.
Ryamizard juga dikenal sebagai diplomat pertahanan yang ulung di kawasan regional. Ia aktif menginisiasi kerja sama patroli maritim trilateral antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina untuk mengatasi ancaman terorisme dan perompakan di Laut Sulu. Ketegasannya dalam menjaga kedaulatan wilayah perbatasan menjadikannya sosok yang disegani oleh rekan sejawat di mancanegara.
Kini, sang “Jenderal Bela Negara” telah menyelesaikan tugas sucinya. Warisan pemikiran mengenai nasionalisme dan keteguhan menjaga keutuhan bangsa akan tetap hidup di hati para prajurit dan rakyat Indonesia. Selamat jalan, Jenderal. Terima kasih atas pengabdian tanpa batas bagi Ibu Pertiwi. (H-3)
Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Mengenang Ryamizard Ryacudu, Sosok Jenderal Patriotik Mantan Menhan RI” pada 2026-05-31 15:33:00
