RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
Jayapura (ANTARA) – Indonesia dikenal sebagai bangsa yang besar bukan karena luas wilayahnya saja, tetapi karena mampu menyatukan ratusan suku, bahasa, dan budaya dalam satu identitas Bhineka Tunggal Ika. Indonesia berdiri di atas keberagaman 17 ribu pulau dan beraneka bahasa daerah serta lebih dari 1.300 suku bangsa yang tersebar di seluruh wilayah.
Menjaga persatuan ini menjadi kerja bersama yang terus diperkuat setiap hari. Keutuhan bukan hal yang datang sendiri, namun perlu dirawat dan salah satu cara yang paling menyentuh adalah melalui pentas seni.
Seni tidak butuh penerjemah, ketika Tarian Yospan dari Papua di panggung, penonton tidak lagi melihat sekat daerah, namun yang terlihat adalah keindahan yang saling melengkapi.
Di pentas seni, perbedaan justru menjadi kekuatan. Musik, tari, dan puisi menjadi bahasa bersama yang membuat orang merasa terhubung, tanpa harus meninggalkan identitasnya, karena pentas seni memberi panggung yang sama untuk semua. Anak kampung, mahasiswa, seniman, hingga guru bisa bersama dalam satu cerita.
Cerita rakyat, sejarah lokal, dan isu sosial sering diangkat dalam pentas seni melalui naskah dan gerak, nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, dan saling menghormati bisa disampaikan, tanpa rasa menggurui. Bagi generasi muda, pengalaman ini membentuk identitas yang tidak sempit.
Pentas seni dan budaya dapat mengarahkan generasi muda pada hal-hal yang produktif, seperti membuka peluang ekonomi kreatif, sekaligus mengasah kreativitas dan inovasi.
Di Papua, seni dan budaya menjadi jembatan yang menghubungkan keberagaman, merawat perdamaian, dan memperkuat identitas antarsuku. Papua memiliki lebih dari 250 suku dan lebih dari 300 bahasa daerah yang masing-masing memiliki dialek dan adat istiadatnya sendiri.
Ratusan suku dan bahasa di Tanah Papua terbagi dalam beberapa wilayah adat, yakni Mamta atau Tabi, Saireri, Meepago, Laapago Ha Anim, Domberai, dan Bomberai.
Wilayah adat Mamta berpusat di sekitar Jayapura, Saireri mencakup wilayah pesisir utara, Kepulauan Yapen, Biak, dan Waropen. Meepago meliputi wilayah pegunungan tengah bagian barat, seperti Nabire, Paniai, dan Dogiyai. Laapago meliputi wilayah pegunungan tengah bagian timur, seperti Wamena dan Lanny Jaya.
Sementara wilayah adat Ha Anim di daerah selatan, seperti Mappi, Merauke, dan Asmat. Selanjutnya Domberai di wilayah semenanjung barat kepala burung Papua Barat, sedangkan Bomberai meliputi wilayah pesisir barat daya, Fakfak dan Kaimana. Di tengah keragaman itu, seni dan budaya menjadi jembatan yang paling kuat untuk merajut rasa “kita” sebagai satu Papua, satu Indonesia.
Pelaksanaan festival budaya di Papua sebagai ruang untuk bertemu, sebut saja Festival Lembah Baliem atau Festival Danau Sentani yang menjadi rumah bersama. Di ajang itu, perang adat disajikan bukan untuk bermusuhan, tetapi untuk mengerti sejarah.
Staf Ahli Gubernur Papua Bidang Pengembangan Masyarakat Adat dan Kebudayaan Mathias Mano mengatakan seni dan budaya memilik makna strategis sebagai warisan leluhur yang membangun karakter dan menciptakan harmoni sosial.
Pentas seni bukan sekadar hiburan, melainkan momentum memperkuat jati diri, persatuan, dan komitmen sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pentas seni harus mendapatkan panggung utama dalam pembangunan Papua untuk dijadikan sebagai agenda tahunan karena melalui sosialisasi yang konsisten semakin banyak pemuda yang bersatu dalam membangun daerah dalam bingkai NKRI.
Pemuda Papua harus menjadi pelopor dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan, menjauhi pengaruh negatif, seperti narkoba, kekerasan, dan radikalisme serta berperan aktif dalam pembangunan daerah.
Pemerintah Provinsi Papua meyakini jika semua pemuda di Bumi Cenderawasih bersatu, bergerak, dan berkarya, maka Papua akan menjadi daerah yang maju, damai, dan sejahtera.
Pelaksanaan pentas seni budaya sangat penting untuk membangun pemikiran yang positif bagi pemuda Papua untuk membangun daerah menjadi lebih baik di masa mendatang.
Wakil Ketua I Majelis Rakyat Papua (MRP), sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Barisan Merah Putih (BMP) RI Papua Max Ohee terus berupaya merangkul generasi muda untuk lebih mencintai jati diri dan budaya lokal mereka melalui berbagai kegiatan, diantaranya pentas seni budaya Papua yang mengusung tema “Solidaritas Pemuda Papua Memperkokoh NKRI”.
Ajang tersebut bertujuan membantu pemerintah daerah setempat mendorong organisasi kepemudaan, masyarakat, dan sanggar dalam membangkitkan semangat untuk melestarikan budaya lokal karena hal itu adalah jati diri yang harus dijaga dan dilestarikan.
Pada tahun ini, kegiatan pentas seni budaya dilaksanakan bertepatan dengan hari kembalinya Papua ke pangkuan NKRI pada 1 Mei. Ajang yang diikuti oleh 19 sanggar itu berpusat di Expo Waena, Distrik Heram, untuk menunjukkan bahwa identitas budaya Papua justru memperkaya jati diri bangsa Indonesia.
Papua sebagai bagian integral dari NKRI memiliki peran strategis dalam menjaga kedaulatan bangsa. Dengan luas wilayah yang signifikan dan kekayaan alam yang melimpah, Papua menjadi salah satu pilar penting dalam membangun kesatuan dan persatuan Indonesia.
Sejak integrasi Papua ke dalam NKRI pada 1969 melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), wilayah ini terus memainkan peran vital dalam memperkuat keutuhan negara.
Letak keberadaan provinsi paling timur Indonesia ini memiliki posisi strategis dalam mempertahankan kedaulatan NKRI. Wilayah ini menjadi pintu gerbang Indonesia di kawasan Pasifik yang berpotensi menjadi wilayah pengaruh ekonomi dan geopolitik yang penting. Posisinya yang strategis menjadikan Papua kunci dalam menjaga integritas teritorial Indonesia dari ancaman eksternal maupun internal.
Di sisi lain, keberadaan TNI dan Polri di Papua menjadi bukti nyata pentingnya wilayah ini dalam menjaga keutuhan NKRI. Tugas mereka bukan hanya memastikan keamanan dan stabilitas tetapi juga membantu mendorong pembangunan serta menjaga ketertiban masyarakat.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Artikel ini telah dimuat di www.antaranews.com dengan Judul “Memperkokoh NKRI lewat pentas seni” pada 2026-05-30 08:20:00
