• May 5, 2026 4:22 pm

Pertanyakan Pertumbuhan Ekonomi 5,61, Ekonom Tak Sinkron dengan Lapangan

Pertanyakan Pertumbuhan Ekonomi 5,61%, Ekonom: Tak Sinkron dengan Lapangan

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Warga mengantre untuk membeli beras dan minyak goreng saat operasi pasar dalam rangka Gerakan Pangan Murah di Talang Gulo, Jambi, Sabtu (25/4/2025).(Antara)

GURU Besar Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Profesor Rahma Gafmi mempertanyakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada kuartal I-2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik. Ia menuding angka tersebut belum mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Menurutnya, meski angka 5,61% rasional secara statistik sebagai hasil dari kebijakan fiskal yang ekspansif dan walaupun didukung oleh kinerja keuangan yang kuat, namun belum ada tanda-tanda pelaku bisnis berekspansi sehingga perluasan kesempatan kerja masih suram. 

“Artinya, ini sangat jelas bahwa sektor riil saat ini masih stagnan. Secara sosiologis, angka tersebut sangat tidak sinkron dengan realita lapangan,” jelasnya kepada Media Indonesia, Selasa (5/5).

Hal tersebut, lanjutnya, karena manfaatnya belum terdistribusi secara merata ke sektor riil dan daya beli masyarakat umum masih tertekan oleh risiko global. Rahma berpandangan kondisi tersebut terjadi karena manfaat pertumbuhan ekonomi belum terdistribusi secara merata ke sektor riil, sementara daya beli masyarakat masih tertekan oleh berbagai risiko global. 

“Ketidaksesuaian antara angka makroekonomi dan realitas di lapangan menjadi tanda tanya besar bagi kita semua sebagai masyarakat yang sangat merasakan penurunan kualitas hidup akibat naiknya harga-harga kebutuhan pokok,” ucapnya. 

Data pertumbuhan ekonomi (PDB) mencerminkan rata-rata nasional, bukan pengalaman individu setiap sektor. Secara rasional, terdapat beberapa alasan mengapa angka 5,61% pada kuartal pertama 2026 ini muncul meskipun terasa kontras dengan kondisi riil masyarakat. Rahma melihat angka pertumbuhan ekonomi tersebut amat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang melakukan percepatan belanja di awal tahun (front-loading). 

Strategi ini, kata Rahma, dianggap berhasil mendongkrak angka PDB riil, namun dampaknya tidak terasa langsung pada masyarakat menengah bawah, karena ini dilakukan pada proyek-proyek besar atau belanja negara dibandingkan pada daya beli harian masyarakat. 

“Misalnya, program makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang sangat dahsyat dalam pengeluaran belanja pemerintah,” ucapnya. 

Di sisi lain, kinerja perbankan tampak melesat, tercermin dari peningkatan Net Interest Margin (NIM) dan Net Interest Income (NII). Namun, capaian tersebut lebih banyak menghasilkan pertumbuhan yang kuat di atas kertas. Likuiditas yang tersedia belum tersalurkan secara optimal ke sektor produktif seperti UMKM. Kondisi ini membuat masyarakat di lapangan masih merasakan tekanan ekonomi, meskipun indikator makro menunjukkan kinerja yang solid.

Lebih lanjut Rahma menuturkan berdasarkan data BPS, salah satu faktor pendorong pertumbuhan di kuartal I-2026 adalah Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada pertengahan Maret lalu. Hal ini menjadikan momen tersebut sebagai faktor krusial yang mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 secara year-on-year (yoy). 

Ia mengatakan beberapa alasan mengapa Lebaran menjadi pendorong utama pencapaian angka 5,61% tersebut adalah peningkatan konsumsi rumah tangga. Lebaran secara historis memicu lonjakan pengeluaran masyarakat yang sangat besar. 

“Masyarakat cenderung meningkatkan belanja untuk kebutuhan pokok, pakaian, dan transportasi menjelang hari raya,” ucapnya. 

Tradisi mudik dan pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) meningkatkan likuiditas di tangan masyarakat, yang secara langsung mendorong komponen konsumsi dalam Permintaan Agregat (AD). Meskipun, ada risiko inflasi pada harga kebutuhan pokok, volume transaksi yang masif selama periode ini tetap memberikan kontribusi positif terhadap PDB riil.

Efek pengganda (multiplier effect) di berbagai sektor. Lonjakan permintaan agregat selama Lebaran memberikan dampak berantai pada berbagai sektor lapangan usaha seperti sektor transportasi dan logistic

“Aktivitas mudik yang puncaknya terjadi di Maret 2026 meningkatkan pendapatan di sektor transportasi secara signifikan. Sektor perdagangan dan ritel,” katanya. 

Peningkatan stok barang oleh pebisnis untuk memenuhi permintaan lebaran mendorong pertumbuhan di sektor perdagangan grosir dan eceran meningkat tajam. Perbankan mengalami peningkatan volume transaksi dan penarikan tunai, yang sejalan dengan kinerja kuat sektor perbankan (Himbara) pada kuartal I-2026. Pemerintah memanfaatkan momentum ini dengan kebijakan yang mendukung pertumbuhan. 

“Pertumbuhan 5,61% ini lebih mencerminkan keberhasilan kebijakan stimulus fiskal pemerintah dan kinerja sektor keuangan, daripada mencerminkan kekuatan daya beli masyarakat yang sudah pulih sepenuhnya,” jelas Rahma. (e-4)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Pertanyakan Pertumbuhan Ekonomi 5,61, Ekonom Tak Sinkron dengan Lapangan” pada 2026-05-05 14:15:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *