• April 19, 2026 12:24 pm

Waspadai Gerakan Radikalisme, Sinergitas Antar-Aparat Keamanan Harus Ditingkatkan

ByRedaksi PAKAR

Oct 27, 2022 #terorisme

GERAKAN radikalisme terus diwaspadai keberadaannya di Negara

Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam mewaspadai gerakan radikalisme dan terorisme, sinergitas dengan aparat keamanan setempat sangat penting untuk dilakukan.

Juru Bicara Badan Intelijen Negara Wawan Hari Purwanto, mengatakan,

perlu adanya pengawasan dan kepedulian dengan pihak-pihak terkait untuk

mengurangi tindak radikalisme maupun terorisme.

“Kita terus mewaspadi gerakan radikalisme maupun teroris di sekitar kita, karena memang di sekitar kita kalau enggak peduli ya siapa lagi? Oleh karenanya kita tetap bersama-sama sinergi dengan aparat kemanan setempat,” kata Wawan, seperti dikutip dari wawancara dengan salah satu stasiun televisi, Rabu (26/10).

Menurut dia, untuk bisa mencegah tindak radikalisme maupun terorisme,

kepedulian keluarga dan masyarakat sekitar menjadi suatu hal yang

penting dilakukan. “Oleh karenanya, kita ingin semuanya saling peduli,

kepeduliannya ini yang paling tidak ngerem dari yang bersangkutan karena ada tempat curhat, tempat untuk menyampaikan keluh kesah.”

Tindakan radikal, lanjutnya, dapat terhubung melalui media

sosial yang menghasilkan keterhubungan untuk bisa menyebarluaskan

pemahaman radikal yang kemudian tidak sedikit yang berbaiat kepada

kelompok radikal tersebut. “Termasuk apa yang terjadi di media sosial

banyak juga yang mengajak atau saling terhubung dengan akun-akun yang

kebetulan saling merespons kemudian beberapa diantaranya saling

berbaiat.”

Jubir BIN itu mengajak seluruh elemen masyarakat terutama

kepada aparat kemanaan untuk terus mengawasi dan terus memberikan

pemahaman serta bimbingan kepada masyarakat Indonesia untuk terus

mempertahankan nilai-nilai Pancasila yang ada. “Ini menjadi tugas

bersama kita untuk saling mengingatkan dan kita pahami keluarga terdekat supaya mereka tidak terpapar, tidak terpengaruh, mengajak apalagi dengan akses menggunakan senjata ataupun tindakan yang lain yang mengganggu ketertiban masyarakat.”


Media sosial


Terkait itu, pengamat teroris Ridlwan Habib juga menjelaskan bahwa media sosial juga merupakan salah satu tempat untuk merekrut kelompok radikal.

Menurutnya, media sosial digunakan sebagai propaganda pemahaman atau

ideologi-ideologi yang bertentangan dengan sistem demokrasi untuk

mencari anggota-anggota baru.

“Biasanya media sosial itu sebagai propaganda, lalu menjadi pintu awal

perekrutan tentu saja mereka tidak akan secara terang benderang mengaku

sebagai aktivis NII misalnya atau aktivis gerakan yang lain. Biasanya

wacana umumnya adalah diawali dengan penegakan-penegakan sistem yang

menurut mereka demokrasi sudah tidak sesuai dan seterusmya. Dari situ

nantinya yang berminat mereka follow up, lalu kemudian perekrutannya

menjadi lebih private,” lanjut Ridlwan.

Ridlwan juga mengatakan bahwa kasus-kasus radikalisme atau tidak

terorisme Indonesia harus terus diwaspadai mengingat dalam beberapa hari ke depan terdapat acara perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Bali pada 15-16 November mendatang. Hal ini menjadi catatan penting bagi seluruh masyarakat terutama para aparat keamanan untuk terus menjaga kemanan dan ketertiban masyarakat.

“Duapuluh hari menjelang G-20, yang merupakan satu momentum besar yang menjadi pertaruhan nama besar Indonesia di mata pemimpin dunia, saya kira ini menjadi catatan penting,” tandasnya. (N-2)


Sumber: Media Indonesia | Waspadai Gerakan Radikalisme, Sinergitas Antar-Aparat Keamanan Harus Ditingkatkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *