• May 26, 2022 7:06 pm

BNPT: Penceramah Radikal Ajarkan Antipancasila dan Takfiri

ByRedaksi PAKAR

Aug 19, 2016

TIDAK lama setelah Presiden Joko Widodo menegur istri prajurit TNI-Polri untuk tidak mengundang penceramah radikal, kini giliran Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang membeberkan ciri-cirinya. 

Menurut Direktur Pencegahan BNPT Ahmad Nurwakhid, indikator penceramah radikal bukan terletak pada penampilan, melainkan materi yang disampaikan.

Baca juga: Cegah Penundaan, KPU Harus Rampungkan Aturan Tahapan Pemilu 2024

Setidaknya, ada lima ciri yang yang diuraikan Nurwakhid. Pertama, penceramah radikal mengajarkan ajaran antipancasila dan pro ideologi khilafah transnasional. Kedua, mereka mengajarkan paham takfiri dengan mengafirkan pihak lain yang memiliki agama dan pemahman yang berbeda.

Ketiga, menanamkan sikap antipemerintah atau antipemimpin yang sah. Hal ini ditunjukan dengan sikap membenci dan membangun ketidakpercayaan (distrust) masyarakat kepada pemerintah atau negara melalui propaganda finah, adu domba, ujaran kebencian, dan penyebaran hoaks.

Keempat, bersifat ekslusif terhadap lingkungan maupun perubahan serta intoleran terhadap perbedaan dan keragaman. Kelima, mereka biasanya memiliki pandangan antikebudayaan ataupun antikearifan lokal keagamaan.

“Mengenali ciri-ciri penceramah, jangan terjebak pada tampilan. Tapi isi ceramah dan cara pandang mereka dalam melihat persoalan keagamaan yang selalu dibenturkan dengan wawasan kebangsaan, kebudayaan, dan keragaman,” kata Nurwakhid dalam keterangannya, Sabtu (5/3).

Lebih lanjut, ia juga menegaskan kelompok radikal memang berorientasi untuk menghancurkan Indonesia melalui berbagai strategi. Caranya, dengan menanamkan doktrin dan narasi ke tengah masyarakat. Ini misalnya dilakukan dengan mengaburkan, menghilangkan, bahkan menyesatkan sejarah bangsa.

Berikutnya, mereka cenderung menghancurkan budaya dan kearifan lokal bangsa Indonesia. Kelompok radikal juga mengadu domba anak bangsa dengan pandangan intoleran dan isu SARA. Strategi tersebut dilakukan dengan mempolitisasi agama untuk dibenturkan dengan nasionalisme dan kebudayaan luhur bangsa.

Adapun penceramah radikal dalam hal ini menjadi perantara proses penanaman radikalisme secara masif di berbagai sektor kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, Nurwakhid meminta masyarakat waspada dan memutus penyebaran infiltrasi radikalisme sejak awal.

“Salah satunya adalah jangan asal pilih undang penceramah radikal ke ruang-ruang edukasi keagamaan masyarakat,” tandasnya.

Sebelumnya dalam Rapat Pimpinan (Rapim) TNI-Polri, Presiden mengingatkan pentingnya peningkatan kedisiplinan nasional bagi para prajurit TNI-Polri, termasuk ke tataran keluarga. Jokowi mewanti-wanti para istri prajurit agar tidak mengundang penceramah dalam kegiatan keagamaan.

Baca juga: NasDem Tegaskan Belum Pernah Bicarakan Penundaan Pemilu dengan Pemerintah

“Enggak bisa, menurut saya, enggak bisa ibu-ibu itu memanggil, ngumpulin ibu-ibu yang lain memanggil penceramah semaunya atas nama demokrasi,” katanya di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Selasa (1/3).

“Tahu-tahu mengundang penceramah radikal. Nah, hati-hati,” imbuh Jokowi. (Tri/A-3)


Sumber: Media Indonesia | BNPT: Penceramah Radikal Ajarkan Antipancasila dan Takfiri

Leave a Reply

Your email address will not be published.