• January 18, 2022 1:58 pm

Anatomi Jamaah Islamiyah dan Pecahannya

Sejumlah kelompok teroris baru bermunculan sebagai pecahan dari Jamaah Islamiyah. Ada yang jauh lebih radikal dalam upaya menegakkan negara Islam.

Jakarta, CNN Indonesia —

Beragam misi peledakan bom hingga menciptakan suasana mencekam tak lantas membuat internal Jamaah Islamiyah semakin solid. Mereka tak lebih memperkuat diri ketika semakin melemah usai anggotanya satu persatu ditangkapi polisi.

Alih-alih mempersolid internal Jamaah Islamiyah, kelompok sempalan justru bermunculan. Generasi yang lebih muda pun cenderung ceroboh serta membahayakan kelompoknya sendiri.

Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya, Rubaidi dalam bukunya bertajuk Variasi Gerakan Islam di Indonesia (2011) menyebut Jamaah Islamiyah mulai goyang ketika Abdullah Sungkar meninggal dunia pada 1999.

Kematian Sungkar membuat Abu Bakar Ba’asyir didapuk menjadi pucuk pimpinan Jamaah Islamiyah. Namun, meski Ba’asyir tergolong sesepuh dan sarat pengalaman, banyak yang tidak suka dengan kepemimpinannya.

Sebagian besar dari mereka adalah anggota yang lebih muda. Mereka merongrong Ba’asyir karena dianggap kurang militan dalam mencapai tujuan pendirian negara Islam.

“Kelompok muda ini mengklaim Ba’asyir terlalu lemah, terlalu bersikap akomodatif dan terlalu mudah dipengaruhi orang lain,” tulis Rubaidi.

Adapun yang termasuk dalam kelompok ini antara lain, Hambali, Imam Samudra, Mukhlas atau Ali Ghufron, yang menjadi pelaku Bom Bali I serta Abu Fatih. Mereka tergolong semangat melakukan jihad meski misinya tidak berkaitan dengan tujuan mendirikan negara Islam.

Misalnya Bom Bali 1. Hambali, Imam Samudra, Mukhlas ngotot melakukan itu karena ingin membalas dendam penyerangan Amerika Serikat terhadap Al Qaeda di Afghanistan. Ali Imron menyebut Bali dipilih menjadi lokasi jihad hanya karena banyak turis asal AS berada di sana dan pengamanan yang tidak ketat seperti di gedung Kedutaan Besar.

Majelis Mujahidin Indonesia

Tahu pengaruhnya semakin melemah, Ba’asyir kemudian pergi. Pada 5-7 Agustus 2000, Ba’asyir dan koleganya, Irfan Awwas Suryahardi serta Mursalin Dahlan mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta.

Menurut Anwar Kurniawan dan Ahmad Aminuddin dalam penelitian mereka berjudul Muhammad Thalib, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Tafsir Ayat-Ayat Penegakan Syariat di Indonesia (2018), kepemimpinan Baasyir hanya berlangsung selama dua periode.

Saat itu, terjadi gesekan di internal MMI. Baasyir keluar dari MMI pada 19 Juli 2008. Posisi Baasyir kemudian diganti wakilnya, Muhammad Thalib.

Belakangan, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat memasukkan MMI dalam daftar hitam teroris. AS menganggap MMI berkaitan dengan Al Qaeda dan Al Nusra Front.

Jamaah Ansharut Tauhid

Petualangan Ba’asyir belum berhenti. Dua bulan setelah tersingkir dari MMI, Ba’asyir kemudian mendirikan Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) bersama pengikutnya. Diresmikan di Bekasi tepat pada 17 Ramadhan 1529 Hijriah atau pada 17 September 2008.

Crisis Group dalam Indonesia: The Dark Side of Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) menyebut organisasi baru bentukan Ba’asyir ini masih menjalin hubungan dengan Jamaah Islamiyah.

Keduanya memiliki perbedaan pandangan soal strategi. Akan tetapi, Ba’asyir tetap orang yang dituakan, sehingga komunikasi tak putus begitu saja.

Berlanjut ke halaman berikutnya…


Ba’asyir Kembali Dirongrong

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Sumber: CNN Indonesia | Anatomi Jamaah Islamiyah dan Pecahannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *