• October 27, 2026 9:11 pm

Kredit Tumbuh 22,2, Rasio Kredit Bermasalah Turun

ByRedaksi PAKAR

Oct 27, 2026 #BNI
Kredit Tumbuh 22,2%, Rasio Kredit Bermasalah Turun

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkualitas melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko.(Dok. BNI)

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp27,5 triliun hingga kuartal III 2026, tumbuh 11,6% secara tahunan (yoy). Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode kuartal III.

Kinerja tersebut didukung pertumbuhan kredit sebesar 22,2% yoy menjadi Rp992,5 triliun, dengan distribusi yang merata di semua segmen. Dana murah atau current account savings account (CASA) juga tumbuh 19,6% yoy menjadi Rp733,7 triliun, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik menjadi 1,9%.

Di tengah dinamika ekonomi global, Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI rate sebesar 5,75% serta memutuskan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai November 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat likuiditas perbankan dan mendukung penyaluran kredit ke sektor produktif.

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkualitas melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko.

“Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangan tertulis.

Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BNI tumbuh 13,6% (yoy) menjadi Rp33,2 triliun, sedangkan fee-based income meningkat 8,3% (yoy) menjadi Rp13,9 triliun. Di tengah tekanan margin dan kebutuhan pencadangan yang memadai, BNI tetap membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 6,6% yoy menjadi Rp16,1 triliun.

Pengembangan layanan digital dan jaringan cabang terus mendukung pertumbuhan bisnis BNI. Hingga September 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58% (yoy), dengan nilai transaksi Rp1.774 triliun atau meningkat 25% (yoy). Sementara itu, BNIdirect mencatat nilai transaksi Rp9.324 triliun, tumbuh 16% (yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 293 ribu atau meningkat 19% (yoy).

Penguatan layanan tersebut didukung transformasi jaringan melalui inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) untuk meningkatkan produktivitas cabang, aktivitas transaksi, serta penghimpunan dana murah.

“Integrasi layanan digital dan jaringan cabang memungkinkan BNI memperluas jangkauan layanan, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah di berbagai segmen,” tambah Putrama.

Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menjelaskan, ekspansi kredit dilakukan secara selektif pada semua segmen, dengan menerapkan standar analisis kelayakan kredit (underwriting) yang disiplin. Strategi tersebut mendorong pangsa pasar kredit BNI meningkat 113 basis poin (bps) (yoy) menjadi 10,6%.

Dari sisi pendanaan, penguatan layanan perbankan transaksi melalui BNIdirect dan wondr by BNI turut mendorong pertumbuhan CASA sebesar 19,6% (yoy) menjadi Rp733,7 triliun. Hingga September 2026, giro BNI tumbuh 25,9% (yoy), melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026. Pangsa pasar giro meningkat 120 bps menjadi 13,2%, sementara pangsa pasar tabungan naik 10 bps menjadi 9,2%, didukung pertumbuhan tabungan BNI sebesar 11,6% (yoy).

Di tengah tekanan margin industri, net interest margin (NIM) BNI turun 30 bps menjadi 3,5%, sejalan dengan penurunan NIM industri. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi penyesuaian imbal hasil kredit (loan yield) dari 7,3% menjadi 6,9%. Sementara itu, biaya dana atau cost of fund (CoF) relatif terkendali, dari 2,83% menjadi 2,77%, didukung pertumbuhan CASA yang kuat.

“Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas. Kami terus mengoptimalkan struktur pendanaan agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan,” tutur Paolo.

Direktur Risk Management BNI David Pirzada menambahkan, kualitas aset terus membaik, tercermin dari penurunan rasio loan at risk (LaR) dari 10,4% menjadi 7,8% dan NPL gross dari 2,0% menjadi 1,9%.

Sebagai bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian, BNI menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8%, lebih tinggi dibandingkan industri sebesar 3,5%. Sementara itu, NPL coverage ratio tercatat sebesar 193,3%, mencerminkan kecukupan pencadangan dalam mengantisipasi potensi risiko.

“Pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit, didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat,” ujar David.

BNI memiliki fondasi likuiditas dan permodalan yang kuat untuk melanjutkan pertumbuhan bisnis. Hal ini tecermin dari loan to deposit ratio (LDR) sebesar 87,9%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 143,4%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 128,4%. Sementara itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 19,2%, yang berada di atas ketentuan minimum, memberikan ruang bagi perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis sekaligus mengantisipasi potensi risiko.

Penguatan fundamental dan transformasi bisnis BNI juga sejalan dengan agenda transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bawah koordinasi Danantara Indonesia, yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi perusahaan dan perekonomian nasional.

Melalui penguatan bisnis inti, pengembangan layanan digital, dan penerapan tata kelola perusahaan yang baik, BNI terus berupaya meningkatkan kontribusinya dalam mendukung pembiayaan sektor produktif dan pembangunan nasional. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya perseroan untuk menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. (E-1)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Kredit Tumbuh 22,2, Rasio Kredit Bermasalah Turun” pada 2026-10-27 20:40:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *