• October 26, 2026 6:21 am
Aleksandar Vucic Mengakui Kekalahan dari Gerakan Mahasiswa dalam Pemilu Serbia

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Aleksandar Vucic(AFP)

PEMIMPIN kawakan Serbia, Aleksandar Vucic, resmi mengakui kekalahan partainya dari gerakan protes yang dipimpin kalangan mahasiswa dalam pemilu sela parlemen.

“Kami masih belum memiliki hasil akhir… tetapi jelas bahwa kami telah kalah dalam pemilu ini,” ujar pemimpin populis sayap kanan tersebut saat mengakui kekalahannya pada Minggu malam.

Vucic menyampaikan pengumuman tersebut secara langsung dari markas besar partainya, Partai Progresif Serbia (SNS), di ibu kota Belgrade.

Pemungutan suara ini mencatatkan rekor partisipasi pemilih yang sangat tinggi. Data awal dari komisi pemilihan umum Serbia menunjukkan angka partisipasi mencapai 64,9% pada pukul 18.00 waktu setempat, dua jam sebelum tempat pemungutan suara resmi ditutup. Banyak pengamat menilai tingginya partisipasi pemilih ini memberikan keuntungan bagi gerakan mahasiswa.

Kekalahan ini disambut perayaan meriah di jalan-jalan kota Belgrade. Warga tampak menari, menyuarakan sorakan “kemenangan”, membunyikan klakson mobil, hingga menyalakan kembang api.

“Serbia telah bebas,” ujar seorang mahasiswa kepada BBC. “Ini adalah sebuah keajaiban.”

Dipicu Tragedi Novi Sad dan Perlawanan Anti-Korupsi

Vucic memutuskan untuk menggelar pemilu sela setelah gelombang protes terus bergulir selama dua tahun. Protes besar-besaran tersebut dipicu oleh runtuhnya kanopi stasiun kereta api di kota Novi Sad pada 2024 yang menewaskan 16 orang, sebuah tragedi yang dianggap masyarakat sebagai simbol korupsi dan kelalaian pemerintah.

Setelah menyelesaikan dua masa jabatan sebagai presiden, Vucic tidak dapat mencalonkan diri kembali untuk periode ketiga. Oleh karena itu, ia memimpin partainya dengan tujuan kembali menduduki kursi perdana menteri yang sempat ia tinggalkan pada 2017.

Di sisi lain, kelompok bernama Student List berhasil menarik simpati para pemilih anti-pemerintah dari berbagai penjuru Serbia. Meskipun tidak memiliki struktur kepemimpinan yang menonjol dan anggotanya terbilang baru di dunia politik, gerakan ini mengusung kandidat anggota parlemen dari beragam latar belakang masyarakat, termasuk dokter, aktor, akademisi, hingga tokoh olahraga.

Kandidat utama gerakan tersebut, seorang dokter spesialis jantung Ilija Srdanovic, menyuarakan optimismenya usai hasil pemilu mulai terlihat jelas.

“Ini akan menjadi negara yang bebas,” kata Srdanovic dalam pernyataannya kepada BBC Serbia. Ia menegaskan bahwa gerakan ini berharap dapat “bebaskan negara dari tirani.”

Gerakan anti-korupsi ini mengusung kampanye yang mencakup pembersihan pejabat yang melanggar aturan saat menindak pengunjuk rasa, penghentian penempatan loyalis partai pada posisi pimpinan BUMN, serta pembebasan lembaga penyiaran publik dari kontrol politik. Pihak Vucic dan Partai SNS sendiri secara konsisten membantah tuduhan korupsi tersebut.

Selama masa kampanye, Vucic, yang mendukung pencalonan Serbia sebagai anggota Uni Eropa namun menolak menjatuhkan sanksi kepada Rusia terkait invasi ke Ukraina, sempat berjanji akan menaikkan pensiun, gaji sektor publik, serta meningkatkan investasi pada layanan kesehatan negara. Namun, janji-janji tersebut gagal membendung gelombang dukungan pemilih bagi gerakan perubahan yang diusung mahasiswa. (BBC/Z-2)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Aleksandar Vucic Mengakui Kekalahan dari Gerakan Mahasiswa dalam Pemilu Serbia” pada 2026-10-26 06:00:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *