• October 22, 2026 6:04 pm

Guru Besar dorong penguatan literasi digital guna tangkal radikalisme

Guru Besar dorong penguatan literasi digital guna tangkal radikalisme

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Jakarta (ANTARA) – Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Prof. Didin Nurul Rosidin mendorong penguatan literasi digital di pesantren untuk membekali generasi muda mengenali propaganda, menangkal radikalisme, dan menyikapi perbedaan secara damai.

Didin mengatakan pesantren memiliki modal penting membangun ketahanan terhadap intoleransi dan ekstremisme melalui pendidikan keagamaan, pembentukan akhlak, kehidupan bersama, serta penanaman kesadaran kebangsaan.

“Kekuatan utama santri itu terletak pada pertemuan antara kedalaman ilmu, pendidikan akhlak, pengalaman hidup bersama, dan kesadaran kebangsaan. Maka otomatis, ketika keempatnya berjalan dengan baik, pesantren sebenarnya mempunyai modal penting untuk membentuk ketahanan terhadap intoleransi, ekstremisme, dan juga kekerasan,” kata Didin dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Namun, ia mengingatkan bahwa status santri tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap propaganda sehingga ketahanan tersebut harus dibangun melalui pendidikan berkelanjutan.

“Inilah yang kemudian harus kita jadikan refleksi bahwa ketahanan itu merupakan hasil pendidikan yang harus terus dirawat,” ujar dia.

Menurut dia, tradisi keilmuan pesantren melalui metode sorogan, bandongan, dan musyawarah melatih santri memahami perbedaan pendapat serta menghindari kesimpulan keagamaan yang membenarkan kekerasan.

Didin juga mendorong kolaborasi pesantren, akademisi, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk membangun ekosistem pencegahan radikalisme yang membuka ruang dialog dan penyelesaian perbedaan secara damai.

“BNPT masih sangat relevan hingga kini karena memang secara faktual kita masih menghadapi persoalan itu. Maka kalau saya boleh usulkan, yang harus dilakukan oleh BNPT adalah membangun lingkungan atau ekosistem yang memungkinkan generasi muda belajar, bertanya, merasa dihargai, dan menyelesaikan perbedaan secara damai,” kata dia.

Salah satu langkah yang diusulkan ialah pembelajaran berbasis kasus nyata, seperti menganalisis ceramah provokatif, berita konflik tanpa sumber jelas, dan ajakan menyerang kelompok lain.

Generasi muda juga perlu dilibatkan dalam perancangan program agar pesan pencegahan relevan bagi generasi Z dan generasi Alfa.

Selain itu, ia mendorong perluasan ruang perjumpaan lintas kelompok serta pendampingan bagi remaja yang mengalami keterasingan.

Didin turut menekankan pentingnya epistemic vigilance atau kewaspadaan epistemik, yakni sikap kritis dalam memeriksa informasi sebelum memercayai atau menyebarkannya.

“Dengan generasi muda yang moderat dan kritis itulah, maka akan muncul generasi yang kuat keyakinannya, jernih pertimbangannya, luas pergaulannya, dan yang lebih penting lagi adalah bertanggung jawab atas tindakannya,” ujar dia.

Ia mengharapkan penguatan pendidikan pesantren dan literasi digital dapat membantu mencegah radikalisme sekaligus menjaga perdamaian dan keutuhan bangsa.

Baca juga: Dialog keluarga jadi benteng anak dari ekstremisme digital

Baca juga: Pengamat nilai penguatan Pancasila perlu melalui literasi dan dialog

Baca juga: BNPT bersama DPR RI libatkan guru cegah siswa terpapar radikalisme

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Artikel ini telah dimuat di www.antaranews.com dengan Judul “Guru Besar dorong penguatan literasi digital guna tangkal radikalisme” pada 2026-10-22 17:01:00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *