• April 20, 2024 8:04 am

Runtuhnya Jembatan Baltimore Menguak Kisah Kelam Para Imigran

Runtuhnya Jembatan Baltimore Menguak Kisah Kelam Para Imigran

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Pekerja imigran di AS(AFP)

Sebuah tim pekerja yang terdiri dari delapan orang sedang melakukan pemeliharaan jalan pada Senin hingga Selasa malam pekan lalu di Jembatan Francis Scott Key, Baltimore, Amerika Serikat. Tiba-tiba,  sebuah kapal kontainer besar menabrak pilar penyangga, menyebabkan hampir seluruh bentang jembatan tersebut jatuh ke Sungai Patapsco.

Dua orang pekerja berhasil dievakuasi dari air, tetapi enam orang lainnya meninggal. Mereka berasal dari Meksiko, Guatemala, El Salvador, dan Honduras. Kematian enam pekerja dari Amerika Latin yang sedang memperbaiki jalan berlubang di atas jembatan yang runtuh itu, menyoroti peran penting para imigran dalam menjaga roda kehidupan di Amerika Serikat (AS) tetap berjalan normal.

Seorang aktivis dan mantan pekerja konstruksi, Luis Vega, menyatakan hal ini sangat kontras dengan retorika populis Donald Trump yang kerap menyebut mereka sebagai penjahat dan merusak negara. Dalam berbagai kesempatan, Trump menegaskan jika terpilih ia akan melakukan pengusiran massal terhadap para imigran yang dianggap telah memicu kriminalitas dan kecanduan narkoba di Amerika.

Baca juga : Para Pemimpin Amerika Latin Berkumpul dalam Pertemuan Migrasi, AS Memantau

“Para migran datang dan melakukan pekerjaan yang tidak ingin dilakukan oleh orang Amerika,” ujar Vega. “Pekerjaan mereka terlalu berat, jam kerjanya terlalu panjang, atau kondisinya terlalu sulit. Siapa di sini yang mau bersih-bersih kamar hotel? Siapa yang mau kerja di bawah terik matahari?” tegasnya lagi.

Menurut Vega, Trump tidak melihat seberapa besar dampak buruk yang ditimbulkan dari ucapannya. “Teroris tidak menyelinap melintasi perbatasan AS-Meksiko; mereka terbang dengan visa,” ujarnya menyindir.

“Pada tahun 2020, ketika kita mengalami pandemi covid, tidak ada seorang pun yang mau bekerja sama dengan orang lain. Jadi siapa yang melakukan pekerjaan membersihkan rumah sakit? Para imigranlah yang mempertaruhkan nyawa mereka,” lanjutnya.

Baca juga : AS Kembali Deportasi Warga Kuba Sejak Pandemi Covid-19

Berisiko tinggi

Pada kenyataannya, para imigran lah yang memang mau melakukan berbagai pekerjaan kasar, bahkan sangat berisiko.

Di Arizona, upah minimum yang resmi adalah US$14,35 atau sekitar (Rp240 ribu) per jam, namun, kata Javier Galindo, seorang kontraktor di Tucson, pekerja imigran hanya mendapat penghasilan US$80 hingga US$100 per hari, terkadang untuk 10 atau 12 jam kerja.

Baca juga : Potensi Pembayaran Asuransi Maritim Terbesar setelah Keruntuhan Jembatan di Baltimore

“Anda tahu jam berapa Anda masuk, tapi tidak tahu jam berapa Anda harus pergi,” kata Vega menggambarkan nasib pekerja imigran yang tidak pasti. Kemiskinan dan keputusasaan memaksa mereka untuk menerima upah tersebut dan bekerja dalam kondisi yang dapat berakibat fatal, seperti suhu dan cuaca yang amat panas.

Menurut angka resmi, jumlah pekerja imigran Latin mencakup  8,2% dari seluruh angkatan kerja di Amerika Serikat pada tahun 2020-2021, namun mereka  jmenyumbang 14% kematian di tempat kerja.Jumlah total kematian juga meningkat, naik 42% selama satu dekade hingga tahun 2021, dengan 727 orang Latin meninggal saat bekerja pada tahun tersebut.

“Reformasi menyeluruh terhadap migrasi ke Amerika Serikat, termasuk mengatur para pekerja ini akan membantu mengurangi jumlah korban,” kata para aktivis buruh. Kehadiran para imigran latin ini juga menjadi solusi untuk menutupi kekurangan tenaga kerja di AS, terutama di sektor informal.

Baca juga : 3 Crane Tiba untuk Membersihkan Puing-Puing Jembatan Baltimore

“Ada kekurangan tenaga kerja,” kata Galindo, yang membuka usaha reparasi rumah terpukul parah akibat penutupan perbatasan selama pandemi Covid.

Pria berusia 48 tahun ini memulai kehidupannya di AS pada usia 14 tahun dengan menjadi tukang alias kuli bangunan. Ia bahkan harus memanjat atap dengan risiko terjatuh. “Anda tidak akan pernah melihat orang kulit putih melakukan pekerjaan itu,” katanya.

Dalam dua dekade sejak ia memulai membuka perusahaan sendiri, hanya satu orang kulit putih Amerika yang pernah mengetuk pintu rumahnya dan meminta pekerjaan sebagai sopir. “Tapi dia juga tidak bertahan lama dan minta berhenti,” kata Galindo tertawa

Di wilayahnya, sektor konstruksi hampir seluruhnya bergantung pada imigran, terutama mereka yang tidak berdokumen resmi alias ilegal.  “Jika kami hanya mempekerjakan orang-orang yang memiliki surat-surat resmi, hal itu tidak menguntungkan buat kami,” kata seorang kontraktor asal Arizona kepada AFP.

“Kami tidak akan bisa membangun apa yang sedang dibangun di kota ini jika bukan karena pekerja tidak berdokumen ini,” pungkasnya. (AFP/M-3)

Artikel ini telah dimuat di mediaindonesia.com dengan Judul “Runtuhnya Jembatan Baltimore Menguak Kisah Kelam Para Imigran” pada 2024-04-01 22:01:37

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *