• June 13, 2024 8:47 am

Jejak Panji Gumilang dan Gaduh Al-Zaytun Jelang Pemilu 2024

Pemimpin Al-Zaytun Panji Gumilang kembali terseret kasus hukum setelah beragam tudingan dan video kontroversialnya viral jelang pemilu.

RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)

Jakarta, CNN Indonesia

Abdus Salam Panji Gumilang berdiri di balik barikade kawat berduri. Ribuan pengikutnya ikut mengawal. Mereka bersiap meladeni para pedemo Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.

Siang itu, Al-Zaytun bergejolak kembali. Panji pasang badan. Dia berpakaian serba hitam, dari kopiah, kacamata, hingga kemeja dan celana. Kata-katanya tegas. Pria 76 tahun itu menolak diatur polisi. Dia malah menyuruh aparat keamanan mundur dan berjaga di luar barikade.

“Jangan khawatir, kami nasionalis, kami Pancasilais, ini aset negara,” kata Panji menegaskan kepada polisi tentang pesantren yang dia pimpin, Kamis (15/6).

Lagu Havenu Shalom Aleichem menggema di barisan massa Al-Zaytun. Mereka kompak menyanyikan salam berbahasa Ibrani itu sambil bertepuk tangan, seakan menyambut massa aksi Forum Indramayu Menggugat.

Salah satu tuntutan massa aksi adalah mendesak pemerintah bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar mengusut ajaran yang dianggap sesat.

Kontroversi Al-Zaytun dan Panji Gumilang kembali muncul belakangan ini. Sejumlah video viral memicu perdebatan, termasuk pelaksanaan salat Idul Fitri di Pesantren Al-Zaytun pada April lalu yang dinilai menyimpang.

Dalam video lainnya, Panji mengeluarkan pernyataan terkait haji tak harus ke Masjidil Haram, tapi bisa dilakukan di Indonesia. Dia juga menyebut Al-Qur’an bukan Kalam Allah SWT, melainkan karangan Rasulullah SAW. Selain itu, video pernyataan Panji mengaku komunis pun mengundang kontroversi.

MUI Kabupaten Indramayu menyatakan ajaran Al-Zaytun tidak sesuai dengan syariat Islam pada umumnya. Wakil Sekjen MUI Ikhsan Abdullah pun menduga Al-Zaytun terafiliasi kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) juga menyepakati bahwa Ponpes Al-Zaytun telah menyimpang dari ajaran Ahlussunah wal Jamaah. Mereka bahkan memutuskan hukum memondokkan anak ke pesantren Al-Zaytun adalah haram.


Pimpinan Ponpes Al-Zaytun Panji Gumilang (berpeci dan kacamata hitam) di antara para pendukungnya dan polisi yang berjaga saat ada aksi di Indramayu, Jawa Barat. (Sudedi Rasmadi/detikJabar)

Pemprov Jabar kemudian membentuk tim investigasi yang terdiri atas perwakilan beberapa lembaga, dan mengundang Panji Gumilang ke Gedung Sate, Bandung, pada 23 Juni. Namun Panji menolak bertemu MUI Pusat. 

Sikap Panji ini pun membuat tim investigasi dari MUI Pusat kecewa. Padahal dia dan pihak MUI sudah berada di tempat yang sama, di Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Kami sangat kecewa. Tabayun itu kan maknanya klarifikasi, minta penjelasan, agar bisa klir, dan agar kita MUI bisa memberi penilaian berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam,” kata Ketua Tim Investigasi Ponpes Al-Zaytun dari MUI Pusat Firdaus Syam di Gedung Sate, Bandung, Jumat (23/6).

Saat ditemui wartawan, Panji hanya berkomentar singkat soal pertemuannya dengan tim investigasi. “Semuanya sudah selesai,” kata Panji.

Penilaian sesat dan menyimpang terhadap Al-Zaytun bukan muncul baru-baru ini. Sejak awal dibangun pada 1996, ponpes pimpinan Panji ini sudah memicu kontroversi dan dicap terafiliasi NII.

Begitu pula dengan Panji Gumilang. Dia pernah dijebloskan ke penjara pada 2015 selama 10 bulan terkait pemalsuan dokumen Yayasan Pesantren Indonesia (YPI). Selain itu, Panji juga pernah dilaporkan ke polisi pada 2021 atas dugaan pelecehan seksual terhadap mantan pegawainya.

Pekan lalu Panji dilaporkan ke Bareskrim Polri terkait kasus dugaan penistaan agama. Saat ini polisi telah menaikkan kasusnya ke tahap penyidikan.

“Yang bersangkutan (Panji Gumilang) menjawab semua dan mengakui bahwa apa yang ada di video memang benar itu statement dan dilakukan oleh yang bersangkutan,” kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Djuhandhani Rahardjo Puro, Selasa (4/7).

[Gambas:Video CNN]

Setahun jelang Pemilu 2024, Al-Zaytun kembali gaduh. Pada Pemilu 2004, pesantren ini juga menjadi sorotan publik. Saat itu pengerahan massa ke Al-Zaytun dengan 519 kendaraan terjadi pada hari pencoblosan pemilu, 35 bus di antaranya bertuliskan Mabes TNI.

Mobilisasi massa itu membuat jumlah pemilih membengkak lima kali lipat pada Pilpres. Pasangan capres-cawapres Wiranto-Salahuddin Wahid unggul di Al-Zaytun.

Namun Panji Gumilang mengelak telah terjadi mobilisasi massa di Al-Zaytun untuk memenangkan salah satu capres.

Lalu, siapa sebenarnya Panji Gumilang?

Dialah putra petani H. Rosjidi yang lahir di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada 27 Juli 1946. Ayah Panji merupakan kepala desa yang cukup disegani di desanya. Sementara kakeknya, H. Abdur Rahman, adalah orang kaya se-Kecamatan Dukun.

Abdus Salam kecil menempuh sekolah rakyat di pagi hari dan siangnya melanjutkan mondok di Ihyaul Ulum, Gresik. Panji kemudian mengenyam pendidikan sekolah menengah atas di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo pada 1961.


Infografis Geger Al-Zaytun Pimpinan Panji GumilangInfografis Geger Al-Zaytun Pimpinan Panji Gumilang. (CNN Indonesia/Asfahan Yahsyi)


Lahir dari Keluarga Terpandang dan Asal Nama Panji Gumilang

BACA HALAMAN BERIKUTNYA

Artikel ini telah dimuat di www.cnnindonesia.com dengan Judul “Jejak Panji Gumilang dan Gaduh Al-Zaytun Jelang Pemilu 2024” pada 2023-07-05 11:09:33

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *