• August 8, 2022 11:29 pm

Pada 2002, seorang pria asal Mauritania, Mohamed Oud Slahi, dijebloskan ke penjara Guantanamo Bay oleh pemerintah AS di bawah rezim George Bush. Ia dituding sebagai salah satu dalang serangan teroris yang meluluhlantakkan menara kembar World Trade Center (WTC) di New York pada 11 September setahun sebelumnya.

Tanpa surat perintah resmi, Slahi ditangkap di kampung halamannya pada November 2001. Setelah beberapa kali berpindah lokasi penahanan, Slahi dibawa ke Kuba dan ditempatkan di Guantanamo Bay sebagaimana para tertuduh teroris peristiwa 9/11 lain. Guantanamo disebut-sebut sebagai salah satu penjara paling kejam dan tidak manusiawi di dunia moderen saat ini. Barack Obama saat menjabat Presiden AS sempat mencanangkan penutupan penjara tersebut. Namun, hingga kini Guantanamo Bay masih tetap beroperasi.

Selama 14 tahun, Slahi dipenjara, diinterogasi, dan disiksa tanpa dakwaan konkret di penjara tersebut. Pengalamannya itu kemudian ia tuliskan dalam surat-surat yang kemudian menjadi buku berjudul Guantanamo Diary. Terbit pada 2015, ketika Slahi masih terkungkung di tembok-tembok Guantanamo.

Belakangan, buku yang sama kemudian dialihwahanakan ke layar oleh sutradara Kevin Macdonald (Black Sea, The Last King of Scotland). Film yang lantas dinamai The Mauritanian itu mencoba mengungkap konspirasi politik mengenai terorisme, kekerasan, penyiksaan terhadap tahanan, kebohongan publik oleh pemerintah AS, dan upaya keras dalam menegakkan keadilan  dan kebenaran pasca 9/11.

Tidak dipungkiri tragedi 9/11 merupakan salah satu insiden buruk dan menyedihkan dalam sejarah peradaban umat manusia, hal ini tidak hanya memberikan dampak buruk kepada warga Amerika Serikat (AS), tapi juga mereka yang ditangkap secara sepihak dan membabi buta tanpa bukti karena diduga merupakan antek dari Osama Bin Laden dan organisasi Al-Qaeda.

Slahi ditangkap setelah diketahui sempat menerima kontak dari Al-Qaeda melalui satelit. Dia dijemput paksa oleh polisi lokal di kediamannya tanpa surat perintah penangkapan. Tuduhannya adalah sebagai perekrut para teroris yang membajak pesawat penerbangan komersil yang kemudian menabrak menara WTC. Peristiwa yang menewaskan lebih dari tiga ribu orang. Setiap harinya Slahi diinterogasi selama 18 jam selama tiga tahun dan ditahan atas tuduhan menjadi sponsor tersangka teroris serangan tragedi 9/11.

Meskipun berfokus pada perjalanan mengerikan Slahi (diperankan Tahar Rahim) dari kampung halamannya di Mauritania ke Guantanamo, film tersebut juga memberi cukup ruang bagi proses peradilan AS, baik pihak yang membela untuk memperjuangkan kebebasan Slahi, maupun yang melawannya atas nama keadilan para korban yang telah tewas.

Mengusung genre drama hukum dan religi, film ini menunjukkan kegigihan dua pengacara Slahi, yakni Nancy Hollander (Jodie Foster) dan Teri Duncan (Shailene Woodley). Pengacara asal Amerika tersebut berangkat ke Kuba untuk bertemu langsung dengan Slahi untuk mendapat kesaksian langsung.

Upaya keras mereka menemukan celah dan bukti bahwa tuduhan Pemerintah Amerika Serikat kepada Slahi tidak berdasar ini dikemas dalam rentetan adegan dan narasi yang lugas dan tak bertele-tele.

Sementara itu, pergerakan Hollander membuat pihak Pemerintah dan militer AS menginstruksikan seorang Jaksa Penuntut Umum bernama Letkol Stuart Couch (Benedict Cumberbatch, yang juga memproduseri film ini) untuk mengajukan dakwaan teroris kepada Slahi di pengadilan.

Couch mengajukan hukuman mati terhadap Slahi. Dia juga sangat giat mencari bukti-bukti untuk memperkuat tuduhan. Couch memiliki dendam pribadi lantaran kehilangan istrinya pada insiden 9/11. Kejadian itu memotivasinya untuk begitu gigih mengungkap kasus tersebut.

Pada saat mengumpulkan data dan informasi, Hollander menemukan banyak kesulitan mengakses data karena pihak militer melakukan sensor terhadap sebagian besar data. Seiring berjalannya waktu, Slahi terus menulis banyak surat kepada Nancy yang berisikan seluruh ceritanya selama di tahanan untuk kesaksiannya di persidangan nanti.

Nancy menemukan fakta-fakta bahwa Slahi diintimidasi dan mengalami penyiksaan dengan metode ekstrim yang dilakukan pihak militer Amerika untuk mengaku bahwa dirinya adalah anggota Al-Qaeda yang merekrut pelaku pembajakan pesawat dalam peristiwa 9/11.

Sementara itu, Couch juga turut mengalami hal-hal janggal dari dokumen yang dimiliki oleh kejaksaan, serta mendapati bahwa Slahi telah diperlakukan secara kejam dan tidak adil oleh pihak militer AS yang diwakili Couch

The Mauritian adalah film tentang orang-orang baik, bahkan Couch sekalipun. Di drama pengadilan ini kita tidak akan menemukan sosok antagonis yang solid, seperti Kolonel Nathan Jessup yang diperankan dengan amat karismatik oleh aktor Jack Nicholson di film A Few Good Men, misalnya.

Film ini mungkin akan menjadi semakin menarik andai ada penitikberatan pada salah satu karakter utama, dan mengangkat kemanusiaannya. Meski begitu, The Mauritian yang tengah tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai kemarin ini tetap bisa cukup asyik disimak untuk mengetahui sekelumit cerita-cerita di balik Guantanamo Bay. Sinematografinya yang apik menjadi nilai plus tersendiri, di samping akting Rahim, Foster, dan Cumberbatch. (M-2)

 

 

 


Sumber: Media Indonesia | The Mauritanian Kisahkan Sisi Gelap Tragedi 9/11

Leave a Reply

Your email address will not be published.