RadicalismStudies.org | Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikasilisasi (PAKAR)
Bandarlampung (ANTARA) – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi digital memunculkan pola baru penyebaran ideologi atau paham kekerasan yang perlu diantisipasi melalui penguatan pencegahan dan literasi masyarakat.
“Hasil penelitian dari kami, bahwa memang media internet adalah media yang cukup efektif untuk melakukan tiga hal, pertama adalah propaganda, rekrutmen, dan penyebaran terorisme yang menyasar generasi muda,” kata Kepala BNPT Eddy Hartono di Bandarlampung, Rabu.
Ia mengatakan fenomena tersebut berkaitan dengan ideologi salafi-jihadism dan high-tech violent extremism yang mengusung paham kekerasan.
“Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, pemerintah menyusun Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2026,” katanya.
Eddy mengatakan bahwa BNPT juga berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta penyedia layanan elektronik guna memperkuat perlindungan anak dari paparan konten berbahaya di internet.
“Upaya pencegahan juga dilakukan melalui koordinasi lintas lembaga yang melibatkan BNPT, Polri, unsur intelijen, serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN),” katanya.
Di sisi lain, Eddy mengapresiasi film Ageman yang diinisiasi Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung sebagai sarana edukasi dan literasi keberagaman bagi masyarakat.
“Film tersebut direncanakan menjangkau lingkungan pendidikan, mulai dari sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), hingga perguruan tinggi,” ujarnya.
Baca juga: BNPT soroti 620 anak terpapar radikalisme dan paham kekerasan
Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan Pemerintah Provinsi Lampung telah menjalankan intervensi terhadap kelompok sasaran pencegahan radikalisme selama sekitar satu tahun terakhir.
“Pemerintah daerah juga memperkuat pencegahan di kalangan generasi muda melalui sosialisasi, pendidikan literasi, dan penguatan wawasan kebangsaan, terutama bagi siswa SMA,” ujarnya.
Mirza mengatakan program pendidikan kebangsaan tersebut akan dilaksanakan melalui kolaborasi dengan forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) dan seluruh jajaran pemerintah daerah.
“Iya, betul sekali. Jadi, akan kolaborasi bersama seluruh forkopimda dan seluruh jajaran pemerintah,” katanya
Ia mengatakan program tersebut akan dimulai dalam waktu dekat dengan melibatkan unsur forkopimda untuk memberikan pengajaran langsung kepada pelajar di sekolah.
“Insyaallah dalam waktu dekat. Saya wajibkan seluruh forkopimda untuk membantu mengajar di SMA-SMA,” katanya.
Baca juga: BNPT: Konten kekerasan dapat mendoktrin anak-anak dalam 3-6 bulan
Baca juga: BNPT cegah kekerasan ekstrem terhadap anak dengan aksi nasional
Pewarta: Dian Hadiyatna
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Artikel ini telah dimuat di www.antaranews.com dengan Judul “BNPT: Teknologi digital munculkan pola baru penyebaran paham kekerasan” pada 2026-10-28 18:12:00
